<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Death for Crime, Hail Justice!</title>
	<atom:link href="http://godwearingblack.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://godwearingblack.wordpress.com</link>
	<description>Death for Crime, Hail Justice!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 31 May 2009 10:49:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='godwearingblack.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/22b5b5a72bdd081e62bc44935baab28a?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Death for Crime, Hail Justice!</title>
		<link>http://godwearingblack.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://godwearingblack.wordpress.com/osd.xml" title="Death for Crime, Hail Justice!" />
		<item>
		<title>This Is How I Disappear…</title>
		<link>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/31/this-is-how-i-disappear%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/31/this-is-how-i-disappear%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 08:19:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Justice</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Case]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://godwearingblack.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[To un-explain the unforgivable…
Tak terasa, Saya sudah sampai di ujung jalan, yang tak pernah Saya bayangkan akan datang secepat ini. 3 bulan sudah Saya mengalokasikan segala minat dan kertarikan Saya akan blogging, seolah berbagai urusan yang lain menjadi prioritas nomer urut seratus sekian. Dalam waktu yang mengalir lambat, Saya seolah menikmati detik demi detiknya, menit-menitnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=109&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>To un-explain the unforgivable…</strong><br />
Tak terasa, Saya sudah sampai di ujung jalan, yang tak pernah Saya bayangkan akan datang secepat ini. 3 bulan sudah Saya mengalokasikan segala minat dan kertarikan Saya akan <em>blogging</em>, seolah berbagai urusan yang lain menjadi prioritas nomer urut seratus sekian. Dalam waktu yang mengalir lambat, Saya seolah menikmati detik demi detiknya, menit-menitnya, jam, hari, minggu dan bulan yang menyadarkan Saya bahwa hati berbahasa, dan bahasa itu sendiri berirama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam waktu yang singkat itu, Saya mendapati pula sahabat, yang mau menerima Saya meski tak mengenal Saya sepenuhnya. Mohon maaf, sekiranya Saya tidak menjelaskan apa-apa, namun sungguh beribu ucapan terimakasih Saya takkan cukup untuk membalas kesediaan mereka untuk menjadikan Saya sebagai sahabat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>…And now, you wanna see how far down I can sink?<br />
</strong>Apa-apa yang mengambang, pastinya akan tenggelam. Dan kiranya sekarang Saya pun tak mampu menolong biduk Saya sendiri yang mulai limbung menuju karam, tenggelam dalam palung yang paling dalam. Dan tidakkah kalian melihatnya? Kepicikan hati, dan mata Saya yang memepat oleh iri dan dengki membutakan mata, tak mampu lagi Saya melihat kebocoran yang menenggelamkan rasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya merasa, bahwa tulisan-tulisan Saya belakangan tak lebih dari deretan kata-kata yang tidak menemukan mata untuk menterjemahkannya menjadi bahasa. Dan otak Saya sudah kesulitan merubah fikiran-fikiran menjadi baris demi baris kalimat. Bait-bait kata itu pun menjadi tak sempurna dan tak bisa dibaca. Otak Saya macet, fikiran Saya terkunci. Seolah merupakan alamat pertanda bahwa Saya musti berhenti</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>…And without you is how I disappear</strong><br />
Sekiranya apa-apa yang memiliki awal, pastinya juga memiliki akhir. Maka inilah akhir dari rangkaian kata-kata Saya, yang telah terputus untaiannya. Saya memutuskan untuk berhenti, menghilang secara sempurna, lenyap selamanya dalam arus besar yang memelintir urat nadi Saya, dan memutuskan tali ari-ari antara hati dengan rasa. Namun, itu semua hanyalah rencana, karena semalam, Saya menemukan <a href="http://perjalanankata.wordpress.com/2009/05/30/better-than-love" target="new">alasan</a> dan atau <a href="http://muzdalifah-muhlan.blogspot.com/2009/05/thats-what-friends-are-for.html" target="new">dalih</a> untuk kembali lagi, suatu saat nanti, kala ‘rasa’ itu telah kembali…</p>
<p>Saya tidak akan bilang selamat tinggal, melainkan sampai jumpa lagi, kala Saya sudah kembali…</p>
Posted in Personal Case  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/godwearingblack.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/godwearingblack.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/godwearingblack.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/godwearingblack.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/godwearingblack.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/godwearingblack.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/godwearingblack.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/godwearingblack.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/godwearingblack.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/godwearingblack.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=109&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/31/this-is-how-i-disappear%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>84</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab01b8fbb89fcb1de02e896dbebde483?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Infinite Justice</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titi Kala Mangsa (Pada Suatu Ketika)</title>
		<link>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/25/titi-kala-mangsa-pada-suatu-ketika/</link>
		<comments>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/25/titi-kala-mangsa-pada-suatu-ketika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 18:43:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Justice</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Case]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://godwearingblack.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[
Arjuna telah sampai lagi di Padang Kurusetra, dimana beribu tahun silam keluarga Pandawa dan Kurawa saling bunuh demi memperebutkan tahta Hastinapura. Dimana Bima bertarung selama 13 hari 13 malam sebelum akhirnya bisa membunuh Jarasanda, dan Abimanyu ~ putra Arjuna yang terlahir dari rahim Subadra ~ menemui ajalnya dalam kematian yang menyayat hati, dijebak secara licik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=106&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-105" title="srikandi" src="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/srikandi.jpg?w=419&#038;h=375" alt="srikandi" width="419" height="375" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Arjuna</strong> telah sampai lagi di <em>Padang Kurusetra</em>, dimana beribu tahun silam keluarga <em>Pandawa</em> dan <em>Kurawa</em> saling bunuh demi memperebutkan tahta <em>Hastinapura</em>. Dimana <strong>Bima</strong> bertarung selama 13 hari 13 malam sebelum akhirnya bisa membunuh <strong>Jarasanda</strong>, dan <strong>Abimanyu</strong> ~ putra Arjuna yang terlahir dari rahim <strong>Subadra</strong> ~ menemui ajalnya dalam kematian yang menyayat hati, dijebak secara licik oleh Kurawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Beribu tahun yang lalu? Ya, Arjuna telah hidup selama ribuan tahun, akibat kelalaiannya menyantap <em>amrit</em> yang sedianya merupakan santapan untuk <strong>Betara Narada</strong>. Waktu itu, Arjuna yang sedang berburu di hutan dekat <em>Narayanasrama</em> bersama <strong>Srikandi</strong> kelelahan, seharian tak menemukan binatang buruan. Sejoli yang kelaparan itu tak sengaja menemukan ceruk, yang di situ tersaji berupa-rupa santapan yang sungguh menggoda. Santapan itu sejatinya merupakan amrit ~ santapan dewa-dewi yang barang siapa memakannya bakal memperoleh hidup abadi. Maka Arjuna dan Srikandi yang secara lancang menyantap amrit tak bisa mati, sempat pula beranak-pinak hingga bisa mendirikan negara sendiri, namun hanya mereka berdua yang berusia lama. Anak cucu cicit dari anak cucu cicitnya, hingga urutan <em>canggah</em> dan <em>debog bosok</em> yang paling akhir telah punah, putus garis keturunannya. Arjuna dan Srikandi tak tersentuh oleh mati, seolah tak ada dalam daftar urut pencabutan nyawa oleh <strong>Dewa Yama</strong>, sang dewa kematian.</p>
<p style="text-align:justify;">Arjuna baru mengetahui kenyataan bahwa hidup abadi tak berarti bebas dari gerogotan penyakit. Dia yang sudah bernafas selama ribuan tahun, ternyata mengidap kencing manis, kadar gulanya tinggi; setinggi dada orang dewasa. Hidup abadi, ternyata tak memberikan apapun kecuali rasa hampa. Kini, yang dimilikinya hanyalah rasa cintanya kepada sang istri, serta keinginan untuk mati yang menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, kali ini di Padang Kurusetra, Arjuna menarik kuat-kuat tali <em>Gandewa</em> ~ busur saktinya, lalu dilepaskannya seolah menembakkan panah ke langit, berkali-kali, hingga bermunculan kilat neon murahan. Maka muncullah Betara Narada di hadapan Arjuna dan Srikandi yang diliputi pengharapan untuk mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Arjuna dan Srikandi bertekuk lutut, memberi penghormatan tertinggi kepada Betara Narada.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ingsun sudah mengerti isi hatimu, wahai <em>Putra Pandu</em>…”, kata Betara Narada</p>
<p style="text-align:justify;">“Ingsun sudah melanglang buana, merasakan berbagai macam rasa dan warna kehidupan, namun sekiranya segala rupa kenikmatan duniawi kini terasa hambar”, Arjuna membuka beban hatinya, “Pernah pula ingsun berdoa jelek, memohon agar supaya <strong>Dewa Syiwa</strong> menarikan tarian <em>Rudra</em> untuk meluluh lantakkan dunia dan seisinya, sekalian meremukkan jasad Kami, memutuskan tali silaturahim antara ruh dan badan ~ sehingga Kami bisa mati”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidakkah engkau menginginkan hidup abadi?”, tanya Betara Narada, “Bagaimana jika ingsun jadikan Padang Kurusetra ini seindah nirwana? Sehingga kau berasa tinggal di nirwana, dan tak perlu lagi kau harapkan dirimu untuk mati?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bukankan seindah apapun keimanan seseorang, tidakkah dia tak akan bisa masuk nirwana terkecuali dia harus mati terlebih dulu?”, Arjuna balik bertanya, “Sekiranya dunia dan seisinya ini, segala rupa keindahannya yang paling indah sekalipun tak ada bandingannya dengan keindahan Nirwana…”</p>
<p style="text-align:justify;">Betara Narada tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sekiranya engkau sudah niat, dan tekadmu sudah bulat, maka ingsun kabulkan permintaan matimu”.</p>
<p style="text-align:justify;">Betara Narada menyerahkan dua bilah anak panah <em>Wajrayudha</em>, satu untuk Arjuna, dan satu untuk Srikandi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saling bunuhlah kalian, wahai dua sejoli yang sudah bosan hidup. Sekiranya Wajrayudha ini ~ yang hanya tersisa ini tanpa bisa kuberikan lagi ~ bahkan sanggup mematahkan kutukan sekalian khasiat amrit yang telah kalian makan… sehingga kalian bisa menggapai nirwana…”</p>
<p style="text-align:justify;">Arjuna dan Srikandi membungkuk penuh hormat ketika menerima si senjata keramat. Keduanya saling pandang, tanpa kata dan tanpa menyadari bahwa Betara Narada menghilang perlahan dalam kegelapan, di pojok yang tak tersiram cahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tak pernah terbayangkan olehku, mengarahkan anak panah ke dadamu, duhai Dinda… dengan niatan untuk mematahkan tulang rusukmu, menghancurkan jantung hatimu, sekalian menarik keluar nyawamu…” Arjuna memegang bahu Srikandi, dengan tangan gemetar</p>
<p style="text-align:justify;">“Demikian pula denganku, Kanda”, Srikandi mengangguk, “Yang Dinda tahu bahwasanya Dinda berkewajiban menjaga kehormatan Kanda, dan berbakti kepada Kanda sepanjang umur Dinda bisa direntangkan… Tak pernah terbayangkan Dinda bertindak durhaka, lancang menembakkan anak panah ke jantung hati Kakanda…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kanda mohon, Dinda, tolong tahanlah rasa sakitnya barang sejenak”, Arjuna meratap, “Akan Kanda bebaskan dirimu dari siksa keabadian ini… Sekiranya kini Kita sadar, bahwa hidup dan nyawa kita berharga karena nyawa itu tak terganti, dan hidup hanya sekali”</p>
<p style="text-align:justify;">Srikandi mengangguk pelan. Mereka sudah mencapai mufakat, bahwa mereka bakal saling membebaskan kutukan keabadian masing-masing. Maka Arjuna dan Srikandi saling berjalan menjauh, sebelum membalikkan badan ~ saling berhadapan. Arjuna dan Srikandi mengarahkan mata anak panah Wajrayudha-nya ke pujaan hati masing-masing, sambil melelehkan air mata. Dan seketika itu jari-jemari Srikandi terpeleset. Arjuna dengan mantap melepaskan tarikannya, dua Wajrayudha berlawanan arah melesat cepat. Remuklah dada Srikandi, namun tidak demikian dengan Arjuna. Tembakan Srikandi meleset. Arjuna berdiri dalam diam. Dilihatnya dari kejauhan tubuh kekasih hatinya tersungkur ke tanah. Nyawanya melesat dibawa anak panah maut yang menembus tubuhnya, melesak jauh ke arah nirwana.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejurus kemudian, Arjuna tersimpuh dengan air mata berlelehan. Disungkurkannya kepalanya ke tanah, mencurahkan seluruh air matanya hingga kering, seolah ingin menciptakan sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Sambil menjeritkan nama kekasih hatinya. Dibelokkannya ekor matanya, senyum kecil bangga tersungging di ujung tepi bibirnya kala dilihatnya wajah perempuan yang ditaksirnya, terduduk diam di kursi di sebelah bapaknya. Menghayati.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mi’un</strong> bertepuk tangan penuh semangat, wajahnya berseri-seri. Menonton pagelaran wayang orang seperti ini, adalah salah satu ritual yang sudah dilakukannya sejak berpuluh tahun silam, namun baru beberapa kali ini dia menjalankannya dengan status sosial yang baru; sebagai orang kaya! Ya, semenjak dia menerima sms pengumuman bahwa dia menerima hadiah uang <a href="http://godwearingblack.wordpress.com/2009/04/21/30-juta" target="new">30 juta</a>, Mi’un naik kelas sosial, menjadi orang kaya. Uang itu, dia gunakan untuk membeli mobil mewah, dan mendirikan rumah mewah pula, serta untuk menyekolahkan <strong>Nurul</strong> ~ putri semata wayangnya hingga di bangku kuliah. Kini, dia bisa dengan bangga mengajak Nurul menonton wayang orang dengan menaiki mobil mewah itu, tak perlu lagi bersedih hati atau merasa rendah diri karena mereka kini termasuk golongan masyarakat papan atas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo pulang, Nur…”, Mi’un bangkit dari kursinya, “Bengsin mobil kita tadi hampir habis, takutnya kemalaman dan kita kehabisan bahan bakar di jalan”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak lupa ya? Mobil kita ‘kan masih di bengkel…?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh! Iya!”, Mi’un menepis dahinya sendiri, “Bapak lupa…”</p>
<p style="text-align:justify;">Senyum jenaka khas Mi’un tersungging di bibirnya, membuat wajah berkulit hitam itu terlihat cerah bak mentari merekah</p>
<p style="text-align:justify;">Nurul tersenyum kecil melihatnya. Melihat bapaknya bahagia, Nurul ikutan bahagia pula</p>
<p style="text-align:justify;">Senyum Nurul perlahan meredup menjadi temaram. Mati-matian Nurul menahan segumpal air mata yang hendak melorot turun dari sudut matanya. Sudah sekian tahun ~ delapan tahun tepatnya ~ Bapaknya menjadi gila gara-gara terlalu lugu dan percaya, bahwa sms hadiah uang itu adalah benar adanya. Omong kosong bahwa duit 30 juta bisa dibagi-bagikan begitu saja, seolah jaman sekarang ini bukan jaman susah, dan duit bisa dipanen dari pohon, atau cukup menggoyangkan batang pohon maka duit berlembar-lembar bakal berguguran.</p>
<p style="text-align:justify;">Nurul ingat betul siang hari delapan tahun lalu, <strong>Wak Qosim</strong> yang datang mencarinya tergopoh-gopoh di rumah <strong>Haji Koharuddin</strong>, mengabari kalau bapaknya menjerit-jerit di bank. Ketika Nurul menjelaskan duduk perkaranya, soal sms berisi pengumuman bahwa Mi’un mendapat hadiah 30 juta rupiah, Wak Qosim geleng-geleng kepala.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapakmu sudah jadi gila, Nur”, bilang Wak Qosim yang waktu itu kebetulan sedang berada di bank buat narik duit.</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika Nurul menangis, mimpi paling buruk dalam hidupnya, tiba-tiba saja hadir jauh lebih dari nyata. Mi’un, bapak kesayangannya, kehilangan kewarasan hanya karena terlalu lugu, dan terlalu percaya bahwa semua orang itu baik adanya, dan bahwa di dunia yang sudah tua menjelang ajalnya ini, tidak ada yang namanya dusta. Impian dan pengharapan Mi’un yang kelewat besar, serta kenyataan yang melenceng jauh dari impiannya itu terlalu berat, dan mematahkan tonggak batas kewarasan dalam alam fikir Mi’un…</p>
<p style="text-align:justify;">Delapan tahun sudah, Nurul berjuang mati-matian, menggadaikan gengsi masa remaja, tenggelam dalam rutinitas belajar dan membabu, mencari pekerjaan sampingan ~ samping kiri samping kanan. Melamar beasiswa di sana-sini, untuk menyokong kehidupannya yang miskin bersama bapaknya tercinta, sekalian untuk melunasi tagihan perkuliahan. Belum lagi urusan dia dikejar-kejar <strong>Sutono</strong>, pemain wayang orang pemeran Arjuna yang yaqin seyaqin-yaqinnya bahwasanya hati Nurul telah berada dalam genggamannya. Dunia… begitu banyak hal yang seolah mengajak Nurul untuk ikutan menjadi gila… mungkin nanti, pada suatu ketika…</p>
Posted in Personal Case  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/godwearingblack.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/godwearingblack.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/godwearingblack.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/godwearingblack.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/godwearingblack.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/godwearingblack.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/godwearingblack.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/godwearingblack.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/godwearingblack.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/godwearingblack.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=106&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/25/titi-kala-mangsa-pada-suatu-ketika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab01b8fbb89fcb1de02e896dbebde483?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Infinite Justice</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/srikandi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">srikandi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renata</title>
		<link>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/17/renata/</link>
		<comments>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/17/renata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 16:09:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Justice</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Case]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://godwearingblack.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[
Dear readers…
Lagi bingung pengen nulis apaan… rasanya mau berhenti nulis, tapi pas chatting sama Jeng Muzda, dia bilang supaya Aku jangan berhenti nulis. Hmmm… kalau begitu Aku mau cerita soal seseorang saja, yang belakangan kelewat rajin memenuhi inbox-ku dengan sms, dan menguras habis batere-ku lantaran terlalu sering nelpon…
WARNING : Mungkin kamu bakal menemukan kenyataan tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=102&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-103" title="renata" src="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/renata.jpg?w=419&#038;h=346" alt="renata" width="419" height="346" /></p>
<p style="text-align:justify;">Dear readers…<br />
Lagi bingung pengen nulis apaan… rasanya mau berhenti nulis, tapi pas <em>chatting</em> sama <strong>Jeng Muzda</strong>, dia bilang supaya Aku jangan berhenti nulis. Hmmm… kalau begitu Aku mau cerita soal seseorang saja, yang belakangan kelewat rajin memenuhi <em>inbox</em>-ku dengan sms, dan menguras habis batere-ku lantaran terlalu sering nelpon…</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>WARNING : Mungkin kamu bakal menemukan kenyataan tentang diriku yang diluar pranala-mu ketika membaca tulisan ini!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Namanya <strong>Renata</strong>, gadis cantik berdagu lancip yang berparas menawan. Tubuhnya langsing, cenderung kurus, tinggi bak model. Jadi ingat pas simulasi persidangan, dia mengenakan jubah jaksa, dan makin cantiklah parasnya, yang membuat lelaki manapun pengin menyembelih dirinya sendiri demi menunjukkan betapa mereka rela mati demi mendapatkan perhatiannya ~ meski cuma satu lirikan berdurasi satu milidetik saja! Sudah jelas, dia adalah idola mahasiswa cowok di kampusku. Oh, satu rahasia; dalam kompetisi cinta ini, Aku adalah pemenangnya. Karena akulah yang bertahta dalam kerajaan cinta dalam bilik hati paling dalam di hati Renata. Namun, karena satu hal tertentu, Kami merahasiakan hubungan Kami, dan membiarkan para lelaki itu saling bunuh demi memperebutkan satu senyum menawan seorang Renata.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu keunikan dari Renata ialah kecintaannya akan klab sepak bola asal <strong>Jerman</strong>; <strong>Arminia Bielefeld</strong> ~ hanya karena ibunya pernah kuliah S-3 bidang lingkungan di salah satu universitas <strong>Bielefeld</strong>. Renata juga lumayan cakap bermain gitar, dan selalu membanggakan <strong>Ibanez Universe 7-String</strong>-nya, yang konon merupakan hadiah dari ibunya ~ pengusaha sukses rangkap single parent yang dipanggilnya “Mamih”, lengkap dengan akhiran “H” sehingga terdengar imut. “Miriiiip banget sama <strong>Henidar Amroe</strong>!”, bangga Renata soal kemolekan Mamih-nya yang begitu persisten melawan sang kala. Renata juga paling demen sama mobil bongsor. Makanya, pas lagi jalan bareng pake <em>Fortuner</em>-nya, Aku biasanya kewalahan kalau sudah disuruh duduk di kemudi (Aku sering salah perhitungan ukuran moncong mobil berukuran besar ketika di parkiran).</p>
<p style="text-align:justify;">Belakangan Kami mulai kesulitan untuk bertemu, mengingat di sela-sela jadwal kuliah S-2, Aku kudu magang di salah satu konsultan hukum. Seharian menekuni daftar kasus-kasus, dan mencocokkan undang-undang apa, bagian berapa, dan pasal nomer berapa yang terkait dengan kasus tersebut. Seharian penuh ekor mataku tertambat pada layar datar berukuran tujuh belas inchi, beralih ke kitab undang-undang beribu halaman, lalu kembali lagi ke LCD, ke kitab lagi, dan kesemuanya itu mengekang kebebasanku lantaran Aku sudah menggadaikan waktu luangku demi kontrak kerja. Belum lagi belakangan Aku kudu mempelajari psikologi, yang kata seniorku, akan sangat membantu memahami kondisi psikologis klien. “Cobalah melihat kondisi klien dari satu sisi yang lain, jangan terpaku menelan bulat-bulat statemen dan kesaksiannya”. Ah, susah amat.</p>
<p style="text-align:justify;">Makin cekaknya intensitas Kami buat ketemuan, komunikasi juga makin renggang. Bahkan, jumlah jerawat yang tumbuh di mukanya pun tak lagi kuketahui (ini hanya perumpamaan, dia sama sekali tidak berjerawat!). Aku tertelan kesibukan, seolah waktuku selama sehari tidak lagi 24 jam. <em>Workaholic</em> kau bilang? Bukan! Aku terjebak dalam lubang cacing, terperangkap dalam cairan <em>ter</em> yang mengawetkanku pada keabadian rutinitas kerja. Dan seperti biasa, Renata yang enggan ikutan magang jadi <em>klayu</em> ~ sering sms dan menelpon tak tahu waktu. Bisa pagi, siang, sore, malam atau dini hari. itulah asal muasal mengapa belakangan Aku sering mengidap <em>insomnia</em>, susah tidur meski Aku sama sekali tidak mengkonsumsi <em>kafein</em>! Aku pun menjadikan sarana <em>chatting</em> sebagai pelarian… mulai dari jam 9 malam, kadang hingga menjelang subuh… Aku pun sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi mahluk <em>nokturnal</em>, mengalami dis-orientasi waktu!</p>
<p style="text-align:justify;">Renata ~ nama baptisnya <strong>Josephina</strong>, diperolehnya diawal kuliah (S-1), dan dipilih sendiri olehnya. Tapi meski begitu, dia tidak suka memakainya. Kami beda keyakinan, beda agama. Selera musiknya mendayu-dayu meski orangnya cerewet, sementara Aku yang pendiam malah lebih doyan sama <em>classic rock</em> (belakangan ini Aku lagi demen dengerin <strong>Dream Theater</strong>)… dia piawai memainkan gitar, dan Aku malah jadi <em>autis</em> dengan image training memainkan <em>stick drum</em> demi satu asumsi psikologi bahwa Aku masih bisa mengembangkan kapasitas otak kanan (Aku tidak bisa main gitar! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> )&#8230; Singkatnya, sifat Kami kurang-lebih bisa dibilang sangat bertolak belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu Aku ingat-ingat lagi awal hubungan Kami. Bila memang selera Kami bertolak-belakang, lalu apa sih yang menyatukan hati Kami waktu itu? Ah… Aku ingat! Kami sama-sama takut lelaki! Kami benci bau rokoknya, takut ketika mereka mulai menunjukkan gelagat sok berkuasa dengan menegangkan ototnya, meninggikan suaranya. Kami benci matanya yang tak jauh dari menyusuri bagian dada dan paha, cabul pula omongannya. Bahkan Kami takut ketika melihat sekumpulan cowok nongkrong dan mulai menggoda Kami lewat siulan menyebalkan atau kata-kata yang menjurus melecehkan… Kami bergidik ketika teman-teman Kami bercerita soal kekerasan rumah tangga, soal perselingkuhan, dan yang lain sejenisnya. Kami pun pernah menjalin hubungan dengan lelaki, namun berakhir mengenaskan, meluluh-lantakkan segala imajinasi dan mimpi indah Kami soal kisah cinta antara laki dan perempuan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Plural traumata</em>, atau <em>traumatic neurosis</em>, atau apalah istilahnya, Kami rasa Kami mulai mengidap itu, sehingga Kami mencari sendiri definisi cinta dan berpasangan. Kesepakatan berubah menjadi kepedulian, lalu mengalami metamorfosis, bertransformasi menjadi afeksi. Cinta… itulah cara Kami berdua menyebutnya. Sejak itulah Kami jadi pasangan…</p>
<p style="text-align:justify;">Bingung? Kalian bingung? Selama ini kalian kira Aku lelaki? Bukan, jeng, Aku perempuan. Selama ini Aku hanya menyaru ~ berpura-pura menjadi lelaki, dan menuliskan tulisan-tulisan khas lelaki pula (termasuk salah satu alasan kenapa Aku tidak pernah menyebutkan namaku). Dan soal hubungan sesama jenis, inilah yang membuat Kami merahasiakan hubungan Kami dari teman-teman kampus Kami. Dan hari ini, Aku beberkan ~ sambil berharap tidak ada teman Kami yang membaca tulisan ini&#8230;</p>
Posted in Personal Case  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/godwearingblack.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/godwearingblack.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/godwearingblack.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/godwearingblack.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/godwearingblack.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/godwearingblack.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/godwearingblack.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/godwearingblack.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/godwearingblack.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/godwearingblack.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=102&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/17/renata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab01b8fbb89fcb1de02e896dbebde483?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Infinite Justice</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/renata.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Berpuisi…</title>
		<link>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/08/doa-berpuisi%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/08/doa-berpuisi%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 17:35:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Justice</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Case]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://godwearingblack.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[
Ingin kucongkel rembulan, dan kusandingkan dengan matahari
Ingin kugoyang langit malam, biar bintang berjatuhan laksana daun berguguran
Ingin kusatukan air dengan api, tanpa ada yang mendidih ataupun padam
Ingin kuciptakan lengkung sempurna pelangi tanpa harus menunggu redanya hujan
Ingin kujanjikan padamu jutaan hal-hal mustahil yang akan kulakukan demi agar dirimu mau mendampingiku, menyaksikan berbagai keajaiban dalam kehidupan yang hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=94&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-95" title="sketsa" src="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/sketsa.jpg?w=419&#038;h=403" alt="sketsa" width="419" height="403" /></p>
<p style="text-align:justify;">Ingin kucongkel rembulan, dan kusandingkan dengan matahari<br />
Ingin kugoyang langit malam, biar bintang berjatuhan laksana daun berguguran</p>
<p style="text-align:justify;">Ingin kusatukan air dengan api, tanpa ada yang mendidih ataupun padam<br />
Ingin kuciptakan lengkung sempurna pelangi tanpa harus menunggu redanya hujan</p>
<p style="text-align:justify;">Ingin kujanjikan padamu jutaan hal-hal mustahil yang akan kulakukan demi agar dirimu mau mendampingiku, menyaksikan berbagai keajaiban dalam kehidupan yang hanya bisa kau alami bilamana kau bersamaku</p>
<p style="text-align:justify;">Ingin kuhabiskan senyumku untukmu, ingin pula kuhabiskan cintaku untukmu…<br />
Ingin kuhabiskan jatah hidupku bersamamu, dan ingin pula kusempurnakan nilai ibadahku yang hanya separuh bersamamu…</p>
<p style="text-align:justify;">Ingin aku menggenggam hatimu, kan kutuliskan namaku bukan dengan pena, tapi dengan cinta<br />
Ingin aku menyelami samudera hatimu, biar makin kumengerti isi perasaanmu yang paling dalam</p>
<p style="text-align:justify;">Ingin kuperjuangkan semuanya, dan ingin pula kupersembahkan hasilnya hanya untukmu.<br />
Maka tidakkah engkau sudi melihatku barang sejenak untuk ribuan hal-hal yang tlah dan akan kulakukan atas namamu?</p>
<p style="text-align:justify;">Karena jangankan kau minta kudirikan seribu candi, biduk pun akan kusepak ~ menjadi gunung… tidak kunamai Tangkuban Perahu, tapi kunamai dengan namamu!</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu kesempurnaan macam apakah yang kau damba begitu lama? Karena kesempurnaan sejati datang manakala insan bisa mencintai dan menerima cacat pasangannya ketimbang memuja kesempurnaan ragawi yang fana…</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tidakkah engkau mengerti, bahwa lelaki baru sempurna manakala menemukan wanita yang bakal menjadi pendampingnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Teruntuk semua perempuan yang pernah menolak cintaku, perempuan yang pernah aku tolak cintanya, dan perempuan yang akan menjadi pecahan tulang rusukku; penopang kala jalanku mulai timpang, pendukung kala langkahku mulai limbung…</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan sempurna…<br />
Tuhan memberikan kekurangan dan kelebihan, lalu menyatukannya dengan pasangannya agar saling melengkapi kekurangan itu untuk bisa jadi sempurna…</p>
<p style="text-align:justify;">Maka lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan mimpiku yang paling tinggi;<br />
Bahwa dalam penggalan malam yang ketiga ~ diantara akan dipadamkannya rona rembulan dan akan dinyalakannya sinar matahari,<br />
Terselip bayang dirimu diantara do’aku… untukku, untukmu, dan untuk bapak-ibuku…<br />
Karena itu… sebutkanlah namamu, wahai calon istriku…</p>
<p style="text-align:justify;">__________________________<br />
<strong>Footer :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sudah tengah malam, masih belum bisa memejamkan mata, dan akhirnya malah mencoba merangkai dan menjejerkan kata-kata di atas (yang Saya anggap sebagai puisi), diringi lagu <em>Wahdana</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya belakangan lagi demen dengerin lagu <em>Wahdana</em>, maka dalam <em>playlist</em> Saya hanya berisi lagu <em>Wahdana</em> yang dinyanyikan oleh <strong>Wafiq Azizah</strong>; yaitu <em>Wahdana</em> yang dimuat sebagai lagu ke-11 di album <em>Hamawi Ya Mis Mis</em>, dan lagu yang sama yang dimuat dalam album <em>Ana Batba</em>, serta lagu <em>Wahdana</em> hasil kolaborasi <strong>Wafiq Azizah</strong> dengan <strong>Jefri Al Buchori</strong> yang dimuat sebagai lagu kedua di album <em>Shalawat</em> (<em>re-package</em>)-nya <strong>Jefri Al Buchori</strong> rilisan tahun 2007. Oh, iya. Jujur Saya lebih suka <em>Wahdana </em>versi album <em>Hamawi Ya Mis Mis</em>, jauh lebih bagus daripada <em>Wahdana </em>versi <em>Ana Batba</em> yang diselipi lirik berbahasa indo. Dan ketiga biji lagu ini Saya putar terus menerus tiada henti, hingga nantinya Saya akan menemukan lagu lain yang juga akan Saya putar terus-menerus dan berulang-ulang. Oh, yah… kenapa <strong>Wafiq Azizah</strong>…? Haduh, Saya tidak sadar sudah menjadi penggemarnya <strong>Wafiq Azizah</strong>…! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Ngomong-ngomong soal ilustrasinya, itu tidak merujuk ke wajah seseorang koq. Saya hanya iseng mencoba menggambar, dan kebetulan wajah itulah yang muncul dari goresan pensil mekanik Saya, yang sempat membuat Saya berasa mengalami <em>deja-vu</em>; merasa pernah melihat wajah tersebut! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in Personal Case  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/godwearingblack.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/godwearingblack.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/godwearingblack.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/godwearingblack.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/godwearingblack.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/godwearingblack.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/godwearingblack.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/godwearingblack.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/godwearingblack.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/godwearingblack.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=94&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/08/doa-berpuisi%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>98</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab01b8fbb89fcb1de02e896dbebde483?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Infinite Justice</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/sketsa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sketsa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Bought A Pair Of Stick, Now I Need A Drum!</title>
		<link>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/02/i-bought-a-pair-of-stick-now-i-need-a-drum/</link>
		<comments>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/02/i-bought-a-pair-of-stick-now-i-need-a-drum/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 14:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Infinite Justice</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Case]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://godwearingblack.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[

Jadi Saya mampir ke salah satu toko musik di Mall Mangga Dua, buat beli sepasang stick drum merk SONOR. Sebenarnya sih nyari yang SABIAN, tapi adanya cuman SONOR sama TAMA. Pengin ambil yang merk TAMA, e Saya nggak cocok dengan coraknya yang menurut Saya norak minta ampun… dan akhirnya Saya ambil yang merk SONOR, karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=89&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-90" title="sonor-box" src="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/sonor-box.jpg?w=419&#038;h=314" alt="sonor-box" width="419" height="314" /></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-91" title="sonor-sticks" src="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/sonor-sticks.jpg?w=419&#038;h=314" alt="sonor-sticks" width="419" height="314" /></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi Saya mampir ke salah satu toko musik di <strong>Mall Mangga Dua</strong>, buat beli sepasang <em>stick drum</em> merk <strong>SONOR</strong>. Sebenarnya sih nyari yang <strong>SABIAN</strong>, tapi adanya cuman <strong>SONOR</strong> sama <strong>TAMA</strong>. Pengin ambil yang merk <strong>TAMA</strong>, e Saya nggak cocok dengan coraknya yang menurut Saya norak minta ampun… dan akhirnya Saya ambil yang merk <strong>SONOR</strong>, karena harganya juga jauh lebih murah ketimbang yang merk <strong>TAMA</strong> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Beli <em>stick drum</em>? Apakah Saya ini <em>drummer</em>? Anak <em>band</em>? Bukan. Saya bukan pemain <em>drum</em>, bukan pula anak <em>band</em>. Meski Saya suka setengah mampus sama <strong>John Dolmayan</strong>*, dan pernah pula Saya suka sama <strong>Setyo Nugroho</strong>*, tapi bukan pula itu intinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalaulah benar bahwa otak kanan dan kiri memiliki perkembangan yang dipengaruhi oleh tingkat aktivitas belahan tubuh yang berseberangan, maka inilah dalil yang membuat Saya penasaran. Dan karena Saya tidak kidal, tentunya Saya sangat mengandalkan belahan tubuh sebelah kanan sebagai motor utama gerak dan aktivitas Saya. Jadinya, ada kemungkinan bahwa belahan otak sebelah kiri Saya yang mengalami perkembangan jauh lebih pesat ketimbang belahan otak kanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka untuk bisa mengetahui seberapa jauh perbedaan kapabilitas tangan kanan dan kiri Saya, Saya membeli <em>stick drum</em> ini, dan mulai <em>image training</em> nge-<em>drum</em> mengikuti beberapa judul lagu. Untuk lagu yang <em>slow</em> dan tergolong &#8217;sederhana&#8217; ketukan <em>drum</em>-nya sejenis <em>Don’t Cry</em> atau <em>November Rain</em>-nya <strong>Guns N’ Roses</strong>, hingga <em>Iris</em>-nya <strong>Goo Goo Dolls</strong> (meski Saya lebih suka dengan <em>Iris</em> versi <strong>Ronan Keating</strong>) tangan kiri Saya masih bisa bekerjasama dengan apik. Pun demikian ketika Saya naikkan tempo, mengiringi <em>Sweet Child O’ Mine</em>-nya <strong>Guns N’ Roses</strong> hingga <em>Helena</em>-nya <strong>My Chemical Romance</strong>, ia masih bisa mengimbangi meski mulai menunjukkan gejala kepayahan. Namun tatkala Saya ‘memainkan’ lagu yang cepat sejenis <em>Chop Suey</em> atau <em>Toxicity</em>-nya <strong>System of A Down</strong>, atau yang sedikit rumit semacam permainan <em>drum</em>-nya <strong>White Lion</strong> yang <em>Broken Heart</em> (yang sering membuat ketukan Saya <em>missed</em>) atau <em>Best of You</em>-nya <strong>Foo Fighter</strong>, Saya baru sadar bahwa tangan kiri Saya sudah tidak bisa mengimbangi tangan kanan Saya. Tangan kiri Saya kurang terlatih rupanya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Saya masih bisa nge-<em>drum</em> dengan sebelah tangan (kanan) saja, siapa tahu bisa seperti <strong>Rick Allen</strong>*. Tapi sekali lagi, bukanlah itu intinya. Saya hanya pengen mengukur, menakar seberapa jauh tangan kiri Saya bisa mengimbangi tangan kanan Saya untuk melakukan hal-hal remeh namun sedikit rumit, sejenis Anda kudu menggambar lingkaran dengan tangan kiri dan segitiga dengan tangan kanan pada saat yang bersamaan. Bukan perkara mudah, mengingat Saya lebih banyak bertumpu pada tangan kanan Saya untuk aktivitas sehari-hari. Saya pengin memfungsikan semua bahagian tubuh Saya secara optimal, termasuk tangan kiri Saya, sehingga siapa tahu, belahan otak kanan Saya pun akan turut berkembang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Roger Wolcott Sperry</strong>** mengemukakan teorinya soal fungsi dari belahan otak kiri dan kanan. Belahan otak kiri menyokong fungsi/kemampuan analisis, perbedaan, hitungan dan angka, kemampuan berbahasa dan logika, sementara belahan otak kanan memegang fungsi/kemampuan untuk imajinasi, kreativitas, warna, musik, dimensi bentuk atau ruang hingga soal emosi. Dan Saya yang terlalu mengandalkan pada belahan tubuh bahagian kanan sebagai mesin utama gerak motorik, secara tidak sadar terus memompa kapasitas otak kiri, sehingga kalau berbahasa Saya kelewat mendayu-dayu, mirip bahasa pujangga jadi-jadian yang cintanya nggak kesampaian atau malah mirip dalang yang sedikit senewen gara-gara kalau tampil di tivi dapat slot tayang tengah malam menjelang dini hari. Kalau mau jujur, Saya tergolong orang yang paling menghargai kreativitas, dan itulah yang Saya perjuangkan dari diri Saya sendiri. Termasuk salah satu alasan kenapa Saya tetap menerima kehadiran media hiburan visual semacam lukisan, fotografi, <em>anime</em> dan <em>manga</em> adalah untuk memperkaya perbendaharaan otak Saya akan ragam bentuk, dimensi, proporsi, warna dan sebangsanya, sehingga Saya tetap terpacu untuk bisa berfikir kreatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang benar, bermain <em>drum</em> itu butuh teknik, <em>skill</em> tinggi terutama untuk memainkan pola ketukan yang cepat, kompleks dan rumit, dan itu butuh latihan dalam rentang waktu yang tidak pendek. Dan itulah yang sedang Saya coba untuk kejar. Karena siapa tahu, dengan melakukan hal-hal remeh semacam <em>image training</em> nge-<em>drum</em> ini Saya bisa melatih tangan kiri Saya sehingga semakin lihay, dan turut mendongkrak kinerja belahan otak kanan Saya. Selain itu, Saya juga pengin ~ seandainya dalil soal <em>cross-over</em> kiri-kanan ini tidak <em>dhoif</em> ~ meningkatkan persentase sinkronisasi otak kiri dan otak kanan, sehingga daya konsentrasi Saya bisa melonjak naik.  </p>
<p style="text-align:justify;">__________________________<br />
<strong>Footer :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">* <strong>John Dolmayan</strong> merupakan drummer band <strong>System of A Down</strong> yang paling piawai dengan permainan drum dalam tempo super-cepat. <strong>Setyo Nugroho</strong>, atau dipanggil juga dengan nickname <strong>Wizztyo Nugross</strong> adalah mantan drummer band <strong>DEWA</strong> pasca keluarnya <strong>Ari Lasso</strong>. Sementara <strong>Rick Allen</strong> merupakan drummer band <strong>Def Leppard</strong> yang bertangan satu. Tangan kirinya terpaksa diamputasi akibat kecelakaan di usianya yang baru menginjak awal 20an. <strong>Rick Allen</strong> selanjutnya menjadi tenar sebagai drummer bertangan buntung namun kualitas permainannya tetap terjaga.</p>
<p style="text-align:justify;">** <strong>Roger Wolcott Sperry</strong> meraih penghargaan nobel atas teoremanya mengenai fungsi dan peranan otak ini, yang selanjutnya dalil-dalilnya diakui oleh seluruh dunia, bahkan dijadikan fondasi acuan untuk pengembangan metodologi pengajaran dan pembelajaran untuk memaksimalkan kinerja otak kiri dan kanan secara keseluruhan.</p>
Posted in Personal Case  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/godwearingblack.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/godwearingblack.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/godwearingblack.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/godwearingblack.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/godwearingblack.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/godwearingblack.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/godwearingblack.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/godwearingblack.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/godwearingblack.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/godwearingblack.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=godwearingblack.wordpress.com&blog=6792684&post=89&subd=godwearingblack&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://godwearingblack.wordpress.com/2009/05/02/i-bought-a-pair-of-stick-now-i-need-a-drum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ab01b8fbb89fcb1de02e896dbebde483?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Infinite Justice</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/sonor-box.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sonor-box</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://godwearingblack.files.wordpress.com/2009/05/sonor-sticks.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sonor-sticks</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>