Death for Crime, Hail Justice!


Let Your Mind Go For A Walk …
16 April 2009, 10:45 pm
Filed under: Personal Case

a-cup-of-milo

Sesekali Saya ingin menikmati waktu yang terhenti, dan menghanyutkan akal fikiran Saya, larut dalam pusaran pemikiran dan pengandaian, dan menjelajah alam perenungan untuk kembali menakar antara yang salah dan yang benar, demi meretas dalil untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil… dan memekarkan kembali daya nalar Saya yang mulai terjungkir balik, dan demi membetulkan lagi rasio yang kadang melorot sampai dengkul tatkala emosi dan nafsu bertahta dan menjadikan mata hati menjadi buta. Maka bersama kepulan asap tipis dari cangkir yang sedang Saya tatap lekat-lekat, Saya mencoba merunut kembali setiap pertanyaan;

Mengenai bagaimana semuanya berawal, dan bagaimana nantinya semuanya akan berakhir; dalam even yaumul qiyamah, dimana kemajuan teknologi manusia akan menemui batasnya, dan dinamika kehidupan akan menemui ajalnya, dimana katastrofi yang disurahkan dalam kitab suci, testamen, atau ramalan nostradamus akan menjadi nyata dan jauh lebih dahsyat ketimbang apa yang ada dalam imajinasi manusia…

Mengenai asal muasal, dan bagaimana tiga tokoh yang Saya kagumi; Emha Ainun Najib, Sujiwo Tedjo dan Andrea Hirata memulai karirnya dari bawah, hingga sekarang masing-masing dari mereka mencapai jenjang tertinggi dalam karirnya; Emha Ainun Najib yang kini begitu tenar sebagai budayawan sekaligus pentolan Kiyai Kanjeng yang tersohor hingga pelosok dengan maiyahnya, atau bagaimana Sujiwo Tedjo kini terlihat sebagai seniman jenius, yang bisa mengarang lirik lagu yang berpendar-pendar indahnya laksana sajak beribu puisi sekaligus melontarkan kritik-kiritik sosial yang tajam mengena, dan bagaimana Andrea Hirata menjadi pujangga, thesaurus hidup, yang sungguh sangat terampil dalam hal diksi atau pemilihan kata…

Mengenai lelaki yang terlalu mengedepankan ototnya sembari mengesampingkan otaknya, dan bapak yang tidak becus menjalankan fungsinya, mengenai perempuan yang lupa akan kodratnya, dan ibu yang tidak kompeten menjalankan perannya, mengenai remaja dan anak-anak belum cukup umur namun begitu terampil dan terlatih menikmati pornografi dan seks, mengenai anak-anak yang terlanjur dewasa sebelum saatnya, mengenai anak yang tidak tahu cara berbakti, dan orang-orang lanjut usia yang tidak faham cara menjemput mati…

Mengenai hidup dan kehidupan, laa tahzan wa laa tayasu… bahwa hidup janganlah diratapi dengan kesedihan, atau disikapi dengan keputus-asaan bahkan ketika Saya mulai kesulitan membedakan antara azab, hukuman, cobaan atau ujian. Atau ketika Saya mulai sadar bahwa semua menuntut kesempurnaan yang tidak Saya punya, atau ketika roda kehidupan Saya mandeg dengan menjepit segala harapan dan impian Saya di posisi paling bawah ~ berkubang dalam lumpur seolah memaksa Saya untuk berhenti… berjelaga sambil menyaksikan asa yang ditelan bara dalam tungku kehidupan yang menyala-nyala…

Mengenai wadah berupa jasad yang mengekang dan tak muat lagi bagi pola pikir yang kian berkembang; mencecarkan ide dan pemikiran, mulai dari yang laknat hingga yang berderajat, lalu imajinasi Saya kian melebar, sebelum tertumbuk pada analogi bahwa kuda diberi kacamata hanya agar dia terus berjalan lurus, dan cambuklah yang diderakan padanya ketika dia mulai berjalan melenceng, oleng keluar jalur… tentu sahaja, ini semuanya adalah tentang batas kemampuan manusia yang telah ditakar sedemikian sempurnanya oleh Yang Maha Sempurna…

Mengenai batas-batas yang bisa didobrak atas nama emansipasi, ekspresi diri dan kemajuan zaman, dan batas yang haram dilanggar dengan dalih argumen macam apapun! Atau mengenai jeruji yang melindungi namun kita anggap menghalangi, semua hanya karena konsepsi dan persepsi yang prematur, pemikiran dan cara pandang dari sudut-sudut sempit yang selalu sahaja membuat kita berpikiran negatif dan pesimis…

Hingga akhirnya diujung perenungan, Saya mulai sedikit memahami soal hidup, soal kehidupan, sebab musabab dan hukum sebab akibat dan segala tetek bengeknya, soal bahwasanya Tuhan sudah teramat sabar dan Maha Baik bagi kita yang durhaka, mengacuhkan keberadaan Tuhan tatkala sedang bersuka cita, dan hanya berkeluh kesah ~ memohon dengan tangan tengadah seolah menggapai langit ketika ditimpa kesusahan… bahwa Tuhan melindungi kita dari segala bencana dan bala, dan bahwasanya Tuhan menderakan berbagai rupa dan jenis hukuman untuk meringankan beban dan dosa kita agar tidak bertumpuk-tumpuk, atau memberikan cobaan untuk mengangkat derajat kita yang kelewat hina, atau kesialan yang terus-menerus menimpa kita sesungguhnya adalah mediasi agar ketika kita mendapat keberuntungan, kita akan dengan cerdas mensyukurinya… Demi Tuhanku Yang Maha Sempurna, maka semoga diluruskannya jalan Saya, jalan Anda dan jalan kita semua, dan diterang benderangkan tapak demi tapak titian yang kita lalui…

__________________________
Footer:
Judul postingan ini menyuplik slogan yang diusung salah satu produk rokok

Let Your Mind Go For A Walk, buat Saya berarti momen buat merenung dan melamun, menikmati segelas milo panas di salah satu resto di Matraman, duduk sendirian dihibur oleh Love Thing-nya Joe Satriani :mrgreen:

Sebenarnya banyak koq beberapa hal yang sering Saya pertanyakan. Misalnya saja kapabilitas dan kapasitas Saya dalam menjalankan peran Saya sebagai manusia biasa, mahluk individu sekaligus mahluk sosial, hingga soal solusi yang Saya pilih ketika Saya harus memecahkan suatu kasus/permasalahan. Atau mengenai bagaimana kompetisi idola cilik tapi yang dinyanyikan adalah lagu-lagu tema cinta remaja/dewasa, atau bagaimana para ibu-ibu yang mengikuti kompetisi menyanyi langsung down ketika menerima kritik ~ yang Saya anggap sedikit kontradiksi dengan niatan mereka menjadi idola yang sudah pasti kudu tahan digoyang kritik, hingga masalah atap jembatan penyeberangan halte busway yang bolong-bolong, seolah hilang tertiup angin…

Advertisements

63 Comments so far
Leave a comment

ternyata merenung terlalu lama nggak bagus juga yah? malah jadi kepikiran lagi berbagai macam kesialan ~ termasuk yang baru saja saya alami, trus jadi berpikiran negatif… 😦 Tapi dari situ saya bisa lebih memahami ketika kawan saya dulu down, dan sempat berputus asa…
saya fikir, saya memang butuh waktu buat menguatkan apa yang sudah goyah, dan meluruskan lagi apa yang sudah melengkung, atau malah menyambung lagi apa-apa yang sudah terlanjur patah… so i need a little more times, just to realize that life is much more complicated than what i tought… dan bahwasanya sial terus menerus itu bisa dimanfaatkan sebagai bahan renungan, muhasabah untuk merunut kira-kira hal apa saja yang musti dihindari agar tidak ketiban sial lagi…

Comment by Infinite Justice

Hhmmm..Benar-benar kata-kata yang amat sangat mendalam lowh..

Sangat beda sekali dengan bahasa saya yang menggunakan bahasa sehari-hari saja karena perbendaharaan kata2 yang briliant seperti yang dipakai di sini belum saya miliki..

Memang sich, sebagai manusia yang diciptakan sebagai mahkluk paling sempurna oleh Tuhan YME, maka potensi dari anugerah itu patutnya kita pergunakan untuk kemashalahatn bersama bukannya menjadi mudharat bagi manusia lainnya..

Di sinilah, sekarang saya akan berproses dan berusaha menjadi manusia terbaik, sehingga Tuhan bangga telah menciptakan saya..

Semangat…(^O^)

Comment by bocahbancar

Membaca tulisanmu ini, sama seperti reaksi saya ketika membaca rawian Andrea Hirata yang kamu / aku kagumi 🙂
Aku cuma bisa berdecak kagum.. Ini indah….

Comment by Muzda

apapun yang berlebihan bukankah tidak baik. Makan berlebihan akan kekenyangan atau bahkan kelebihan berat badan, tidur terlalu lama malah membuat pusing dan pipi tembem, begitu juga merenung..terlalu lama akan membuat perenungan kita melebar kemana2. Seperti menulis, ada baiknya merenung juga pakai tema dan scope of perenungan 🙂 .

Anyway, soal idola cilik dan ibu2 yg down kena kritik…buat aku sangat normal. Artis yang sudah malang melintang di dunia keartisan bertahun2 aja ada yg langsung mutung saat kena kritik, apalagi mreka yg berangkat dari ibu2 rumah tangga, atau bahkan mbak2 dari pinggiran Jogjakarta 🙂 ….

Salam,
Indira

P.S: saya sudah mantap kok pilih kerjaan ituh 🙂

Comment by 1nd1r4

tulisan yang bagus sekali…
tapi saya agak gag mudeng karena terlalu banyak sumber di dalamnya 😐

Comment by Ghani Arasyid

namanya juga jaman sudah edan kaloa terlalu dipikir bisa bisa yang mikir ikutan jadi edan juga

Comment by dindacute

saya jadi tambah malu pada Tuhan dan kehidupan…

karena terlalu sering lalai,
karena terlalu percaya bahwa Dia Maha Pengampun sehingga saya terusterusan menumpuk khilaf dan (purapura) bertobat keesokan harinya untuk kemudian mengulangi (dan menambah) lagi kelalaian-kelalaian lainnya…

*sayabenarbenarberharapTUHANtidakmembiarkansayatersesatterlalulama*

Comment by yoan

kalau saja ini di fesbuk, saya pasti sudah klik icon ‘suka’ di bawah tulisan kakanda ini berkali-kali… :mrgreen:

Comment by yoan

Kalau saya memang selalu BERUSAHA untuk selalu mensyukuri apa yang telah diberikan olehNya. Seperti contoh seperti kutipan di atas bahwa lelaki yang terlalu menggunakan otot daripada otak. Bagi saya pribadi kedua-duanya harus imbang dan sama pentingnya.Kedua2nya harus digunakan untuk kebaikan. Ototpun jikalau ia digunakan untuk kebaikan seperti untuk melindungi yang lemah, ia akan menjadi sangat berguna. Sebaliknya otak yang super yang dimanfaatkan untuk mengerjai atau menipu orang, tentu itu juga bukan hal yang baik. Di sini saya pribadi tidak melihat bagian mana dari tubuh kita yang digunakan tetapi UNTUK APA kita menggunakan setiap bagian tubuh kita tersebut.

Nah, berangkat dari asumsi bahwa setiap apa yang diberikanNya pasti ada manfaatnya, saya berusaha untuk selalu bersyukur kepadaNya…. 🙂

Comment by Yari NK

kakak two tumbs up

look my kontempelasi

yonde kudasai

:-bd

Comment by shofiyah

innal insana huliko halu a ->tulisane bener ga yah??
pak batman,, pak batman domisilinya dimana??

i have somethin 4 U…

*mohon berpikir hurup ep pada positip*

Comment by shofiyah

aku senang banyak blogger pengurai himah
karena dengan ini makin banyak proses pencerah

salam salut untukmu kawan
Untaianmu menggugah
Tak terbantah 🙂

Comment by achoey

hmmm… mungkin bawaan orang pinter nih. perenungannya berat, kalo bagi saya akan lebih jatuh kepada kritik, sementara perenungan lebih kepada aktualisasi diri.heuheuheu…
bener2 tulisan yang bagus 🙂

Comment by macangadungan

bgitu besar apa yang telah Allah swt berikan kepada hambaNYA, hanya sayang sekali sangat sedikit yang menyadari hal itu..

semoga kita semua termasuk dalam golongan orang2 yang selalu ingat dan mensyukuri semua yang telah Allah swt tetapkan bagi hambaNYA…

Comment by oRiDo™

Klo nglamun sma g?

Comment by Ageleng

saya ngangguk-ngangguk baca tulisannya…
sebuah kritik sosial yang harus dipertanyakan, atau sebenrnya sudah kita ketahui sendiri jawabannya?! *thinking*

Comment by deeedeee

hehe…

Comment by tito

@ bocahbancar : yeph… akan tetapi beberapa orang melupakan anugerah tersebut, dan menghinakan diri mereka sendiri. dengan mengabaikan fakta konkret bahwa manusia dijadikan sebagai mahluk mulia dengan dibekali akal dan budi pekerti…

@ Muzda : hmmmh… saya sendiri juga tertarik dengan kemampuan Muzda menyusun kalimat dan merangkai kata koq… 😉

@ 1nd1r4 :

Seperti menulis, ada baiknya merenung juga pakai tema dan scope of perenungan.

kali ini saya cuman pengen membiarkan akal fikiran berkelana, tanpa tema, tanpa skop… dan justru terasa kompleksitas hidup dari cara ini…

Anyway, soal idola cilik dan ibu2 yg down kena kritik…buat aku sangat normal. Artis yang sudah malang melintang di dunia keartisan bertahun2 aja ada yg langsung mutung saat kena kritik

oh, yah… tapi waktu itu saya sepakat dengan salah satu juri yang tetap bersikap proporsional dan objektif dalam menilai, tanpa mempedulikan bahwa kontestan ybs baru saja mengangis sesenggukan… untuk jadi dewasa, untuk jadi maju, dan untuk bisa menjadi seseorang/sesuatu kita kudu bersikap teguh dan kuat mental… sebab kunci keberhasilan saya pikir salah satunya adalah tidak mudah jatuh karena kritikan. lagipula, apakah mereka bakal terus-terusan berharap orang-orang bakal bermanis-manis sama mereka? dan saya tahu koq artis yang dimaksud… 😛 dia sendiri malah sudah minta maaf via press, dan mengakui bahwasanya dia sudah bersikap tidak dewasa…

P.S: saya sudah mantap kok pilih kerjaan ituh

ah, syukurlah kalau begitu… sekali lagi, selamat jeng 😉

@ Ghani Arasyid :

tapi saya agak gag mudeng karena terlalu banyak sumber di dalamnya

sumber? sumber yang mana yah? 😕 soalnya itu semua kan hasil perenungan… dan yang namanya merenung buat saya itu tanpa sumber, tanpa skop, tanpa tema… :mrgreen:

@ dindacute : jadi ingat lagunya Sujiwo Tedjo yang berjudul Zaman Edan… dengan emphasizing kata ‘Edan’ yang dilavalkannya dengan ‘Edian’…

@ yoan :

saya jadi tambah malu pada Tuhan dan kehidupan…

karena terlalu sering lalai,
karena terlalu percaya bahwa Dia Maha Pengampun sehingga saya terusterusan menumpuk khilaf dan (purapura) bertobat keesokan harinya untuk kemudian mengulangi (dan menambah) lagi kelalaian-kelalaian lainnya…

aduhay adinda… apa yang kamu rasa juga kakanda rasa… :mrgreen: pada dasarnya, perasaan kita, prasangka kita bisa menipu diri kita sendiri. kadang kita merasa sudah sering dan banyak beribadah, padahal belum tentu ibadah kita diterima. termasuk masalah pertaubatan dan pengampunan. tentunya ada adab dan tata cara dalam bertaubat dan memohon ampunan, karena tidak semuanya langsung diproses beres…

kalau saja ini di fesbuk, saya pasti sudah klik icon ’suka’ di bawah tulisan kakanda ini berkali-kali…

*tibatibamenyesallantaraninibukanfesbuk* 😦

@ Yari NK : super sekali Pak Yari… dan yah, saya juga sepakat dan sefemahaman koq… saya juga terus-terusan mencoba menanamkan kembali pada diri saya sendiri perlunya mensyukuri hal-hal kecil berupa nikmat dan kemudahan… salam super! 😛

@ shofiyah :

kakak two tumbs up

look my kontempelasi

yonde kudasai

i’ll look at it… namae o yonde… shofiy… :mrgreen:

innal insana huliko halu a ->tulisane bener ga yah??

tar tar… kalau tulisan arab diindonesiakan jadinya rancu bin ambigu… misalnya saja, ro ditulisnya ra… padahal memang seharusnya dilavalkan ro…

apa maksudnya huliko itu dari kata khalik? dan ‘halu’ itu menggunakan kha’? 😕

pak batman,, pak batman domisilinya dimana??

i have somethin 4 U…

di ibu kota tuh… somethin 4 me? what’s it?

*penasaran*

@ achoey : saya juga belajar dari achoey koq… jadi saya juga musti bilang ‘salut’ buat achoey juga…

@ macangadungan :

hmmm… mungkin bawaan orang pinter nih.

dont jump into conclusion, and dont give a high expectation… pada kenyataannya saya hanyalah orang bodoh yang sok pintar dan pura-pura pintar koq…

bener2 tulisan yang bagus

oh, yah… saya juga suka dengan tulisan situ koq… menarik! 😉

@ oRiDo : Amiiiin…

@ Ageleng : lah… saya kan waktu itu memang merenung sambil melamun… eh, beda nggak sih? 😕

@ deeedeee :

sebuah kritik sosial yang harus dipertanyakan, atau sebenrnya sudah kita ketahui sendiri jawabannya?! *thinking*

pernah nggak memikirkan hal seperti ini; beberapa pertanyaan yang sejatinya bisa kita jawab ~ retoris ~ baru bisa terjawab setelah kita menanyakannya pada diri kita sendiri? dan memang disitulah letak dari perenungan itu, jeng… kalau memang ada pertanyaan yang mengganjal, bisa kita mulai dengan menanyakan pada diri kita sendiri. bila belum terjawab, bisa mulai bertanya dan atau berdiskusi dengan fihak-fihak lain yang lebih memahami…

@ tito : super sekali komentarnya, dok… :mrgreen:

Comment by Infinite Justice

Bagus banget sih tulisannya…
saam kenal ya…thanks udah berkunjung kerumahmu

Mengenai hidup dan kehidupan memang terlalu banyak warna yang terlihat, sepandai2nya kitalah yg harus menetukan warna apa yang kita pilih…

Comment by Ria

asik, mas..
lain waktu ajak saya untuk merenung sambil minum milo, ya..
biar saya ikut menilai bagaimana ekspresi yang muncul dari balik topeng batman ini 😛

Comment by Hafid Algristian

mas, blognya saya link, yah… 😉
terimakasih

Comment by Hafid Algristian

Kapan ya bisa nulis kaya kamu teman? Aku cm bisa mengangguk², larut dalam renunganmu juga…

Comment by wahyu

jadwal kajian yang buaaaagguuuuuuusssss
mau mau yah…
innal insana huliko halu a fi al ma’arij jus 29 brader…ibu kota itu jakarta yah???
^_^

Comment by shofiyah

hem.. manusia, mempunyai batasan atas kapasitas dan kapabilitas yang ia miliki.

Comment by Rossa

dalem banget………….. bermakna sekalii

Comment by ria manies

Kakanda, aku jd brtanya-tanya…
Gerangan apakah yg menimpa kakanda?
Kesialan macam apa yg membuat kakanda berduka?

*berasamaenwayangorang :mrgreen: *

Comment by Yoan

@ Ria :

Mengenai hidup dan kehidupan memang terlalu banyak warna yang terlihat, sepandai2nya kitalah yg harus menetukan warna apa yang kita pilih…

setelah saya renungkan sejenak, saya jadi faham yang dimaksud jeng Ria. yah, memang begitulah seharusnya, bahwasanya kita kudu pandai-pandai memilih warna apa saja untuk kita torehkan dalam catatan amal kehidupan kita…

@ Hafid Algristian :

asik, mas..
lain waktu ajak saya untuk merenung sambil minum milo, ya..

mengajak kamu merenung bareng? berarti nanti kita cuman duduk bareng, tapi diam-diaman gitu dong? :mrgreen:

biar saya ikut menilai bagaimana ekspresi yang muncul dari balik topeng batman ini

saya orangnya kadang kurang ekspresif loh… makanya, saya sukses bikin artis selevel Acha Septriasa mati gaya menghadapi saya yang tanpa ekspresi pas ketemu dia di depan ATM di plasa senayan 😆 padahal waktu itu cuman kita berdua sahaja, berdiri bersebelahan…

*berasabangga*

mas, blognya saya link, yah…
terimakasih

silakeun… 😉

@ shofiyah :

jadwal kajian yang buaaaagguuuuuuusssss
mau mau yah…

ummu… boku wa… wakaranai yo… 😕

innal insana huliko halu a fi al ma’arij jus 29 brader…

uh-ho… kalau versi saya, tulisannya bakal begini;
innal insaana khuliqo haluu’aa

dengan tanda petik tunggal dibaca ‘ng’, jadinya menurut saya bisa juga ditulisnya begini;
innal insaana khuliqo haluungaa..

makanya, saya sudah tulis ‘kan, kalau tulisan arab versi indo saya kesulitan menerjemahkannya… sempat kepikiran, kalau memang benar haluko-nya shofiy itu maksudnya khaluqo dari kata khaliq, dan halu nya sempat saya pikir maksudnya khalu’, tadinya saya sempat mikir bahwa maksudnya shofiy itu kurang lebih kayaq gini;

“sesungguhnya manusia diciptakan (dalam keadaan) sehat”

tapi, setelah kamu sebutkan itu dari ayat suroh al-ma’arij, saya baru tahu bahwa ternyata bukan khalu’, tapi haluu’aa… 😉 jadii, dari sini juga kita semua jadi faham ‘kan mengapa bacaan itu tetap dipertahankan dengan bahasa arab, bahkan untuk keseluruhan belahan negara di dunia ~ tak peduli apapun bahasa nasionalnya… bukannya itu untuk menghindari terjadinya kesalahan penafsiran…?

lagipula, penulisan bahasa arab dalam bahasa indonesia itu bisa jadi meleset, seperti halnya penulisan bahasa jepang dalam bentuk romaji. misalnya saja, romaji ‘kyo’ dengan ‘kyou’ bisa beda, karena ‘kyo’ dalam aksara jepang akan ditulis ‘kyo, sementara ‘kyou’ akan ditulis ‘kyo-u’. banyak pula orang yang salah kaprah dengan mengucapkan manga dengan ma-nga, padahal, jepang tidak punya huruf ‘ng’, jadinya, pengucapan yang benar seharusnya man-ga. dalam anime Ikki Tousen, penulisan nama versi romajinya dibuat dengan penambahan komponen petik tunggal, misalnya sahaja, nama KANU UNCHOU ditulisnya KAN’U UNCHOU, sehingga pemirsa anime tersebut bisa mengerti cara baca namanya bukan KA-NU, tapi KAN-U.
demikian pula halnya dengan bahasa arab. terlebih lagi, yang sering diajarkan adalah macam begini;

a ba ta sa ja ha kha… —> ini sempat saya peroleh pas masih kecil, dari kaset belajar hijaiyah terbitan Jakarta waktu itu… tapi, lantaran saya berlidah jawa, saya juga diajarkan ini;

alif ba’ ta’ tsa’ jim kha kho…

beda kan? makanya, penulisan arab versi indonesia juga jadi beda-beda. ada yang nulis puasa dengan siyam, shiam, shaum, atau saum, atau penulisan wudu, wudhu, wudlu… padahal yang dimaksud adalah sama…

oh, yah, malah OOT. dan kembali ke masalah innal insaana khuliqo haluu’aa, kalau menurut saya pribadi itu masih wajar sih. saya manusia biasa, dan tentunya, manusia itu tempatnya salah, diciptakan suka mengeluh pula. maka berkeluh kesah itu buat saya jadinya sah-sah sahaja. terlebih lagi, pada kenyataannya saya diam sahaja, sehingga kawan dan keluarga tidak tahu menahu macam apa saja kejadian yang saya alami. tapi, karena kodrat dasar manusia kayaq saya ini berkeluh kesah, maka berkeluh kesahlah saya di sini… :mrgreen: ga pa pa ya? ya? ya?

tapiii… saya koq jadi kagum ya dengan pengetahuan shofiy soal agama… 😉

ibu kota itu jakarta yah???
^_^

mochiron desu… obvious, isn’t it…?! 😛

@ Rossa :

hem.. manusia, mempunyai batasan atas kapasitas dan kapabilitas yang ia miliki.

yah, dan disitulah letak kekaguman saya akan yang namanya kapasitas dan kapabilitas manusia. bahkan, sampai sekarang pun saya masih saja kagum dengan orang yang menemukan teknologi penyimpanan gambar dan video di kepingan CD. koq bisa ya, gambar dan video itu tersimpan dalam kepingan serat karbon begitu? saya juga kagum dengan teknologi fotografi, teknologi pesawat ~ bagaimana besi berbobot sebegitu berat bisa melayang di udara, dan lain sejenisnya. maka, bila manusia saja bisa begitu hebat ~ dalam kapasitas dan kapabilitas yang dibatasi, lalu berarti Maha Hebat-lah Sang Pencipta manusia itu…

@ ria manies : dan saya juga suka mencari-cari makna dan penafsiran dari prosa dan puisi yang kamu cipta…

@ Yoan :

Kakanda, aku jd brtanya-tanya…
Gerangan apakah yg menimpa kakanda?
Kesialan macam apa yg membuat kakanda berduka?

anuu… adinda, tatkala kakanda selesai mengurangi kadar air dalam tubuh, kakanda baru menyadari bahwasanya kakanda terkunci di dalam bilik kamar mandi, selama beberapa menit sahaja dalam tempat orang buang hajat sudah bikin kakanda pias, meski kakanda seratus dua puluh persen yaqin, haqqul yaqin bahwasanya kakanda tiada pernah terdeteksi pernah mengidap sindrom klaustrofobia…

dan setelah itu, kakanda menemani teman kakanda naik angkot, dan lantaran kakanda duduk di tepi pintu, ketika ada orang yang mau berpegangan pada langkan kolong pintu, jari jemarinya sempat mampir di muka kakanda yang rupawan inih… :mrgreen:

*berasamainwayanggolek*

Comment by Infinite Justice

halah… ada yang ketinggalan! 😯

@ wahyu :

Kapan ya bisa nulis kaya kamu teman? Aku cm bisa mengangguk², larut dalam renunganmu juga…

tulisan jeng wahyu juga bikin saya kagum koq, menjawab 25 pertanyaan dengan jawaban yang menurut saya benar-benar pas! lagian, saya cuman lagi pengen menulis perenungan, terinpirasi oleh maiyahnya Cak Nun, dan pengen nulis puisi atau prosa seperti jeng shofiy tapi saya ndak pernah bisa pede nulis prosa sama puisi… jadinya ya saya hanya bisa nulis perenungan, muhashabah ini…

*jadi pengen merenung lagi, tapi diiringi ‘Always With Me, Always With You-nya Joe Satriani… :mrgreen:*

Comment by Infinite Justice

Aduh kakanda… Lupa tertawa rupanya kakanda waktu terkunci di bilik termenung itu… Padahal mungkin saja wktu itu Tuhan ingin bercanda dgn kakanda… :mrgreen:

Ah, ya. Mungkin jg org yg tak sengaja menyentuh wajah rupawan *permisimuntahsebentar* kakanda itu ingin menularkan virus flu dr tangannya yg br saja memegang tisu bekas menutup bersin dan batuknya… Maka brhati2lah, kakanda… Berdoalah smoga virus itu bkn virus flu burung…

Comment by Yoan

@ Yoan :

Aduh kakanda… Lupa tertawa rupanya kakanda waktu terkunci di bilik termenung itu…

haduh… waktu itu tidak hanya kakanda sudah kehabisan kata, akan tetapi kakanda juga sudah kehabisan tawa… 😦

Ah, ya. Mungkin jg org yg tak sengaja menyentuh wajah rupawan *permisimuntahsebentar* kakanda itu ingin menularkan virus flu dr tangannya

bukan, aduhay adinda… dia tak kuasa menahan diri untuk tidak menyentuh wajah rupawan kakanda :mrgreen:

Berdoalah smoga virus itu bkn virus flu burung…

bukan, dinda… itu virus cinta! 😆 😆 😆

Comment by Infinite Justice

innal insaana khuliqo haluungaa..

mikir mikir dari manakah asal sebenarnya orang ini..

Comment by shofiyah

hai, wakarimashita.ani…
jakarta bagian mana?? orang jakarta juga bilang haluungaa?? kayak beberapa orang sepuh di tempat shofiy..
klo jakarta an panggilna bang batman dung ^_^

Comment by shofiyah

@ shofiyah :

mikir mikir dari manakah asal sebenarnya orang ini..

saya orang jakarta, tapi keturunan jawa… that’s all… dan masalah cara baca, itu karena saya berlidah jawa, dan saya bersyukur atas luwesnya lidah saya…
pas dulu saya di lampung pun, saya dipuji sebagai ‘jawa tulen’, bukan lagi karena masalah logat. toh, orang bilang saya nggak punya logat jawa, tapi karena waktu itu saya terlalu sering mendengarkan Minggat-nya Sonny Jozz sama Prau Layar-nya Nining… :mrgreen:

orang jakarta juga bilang haluungaa??

teman saya yang asli dan berasal dari jawa juga nggak pernah melafalkannya halungaa, tapi ha-lu-‘aa (dengan ‘a’ mati). IMHO, menurut saya sudah bukan masalah suku dan asal muasal sih, tapi memang kita dituntut untuk melafalkannya secara benar. dan juga, itu kan untuk membedakan antara ‘(ng)ain’ (huruf ke-18) dengan ‘hamzah’ (huruf ke-29), kalau salah bacanya, bisa beda artinya pula ‘kan?

kalau dalam bahasa jepang, pengucapan akhiran -n ada dua macam, ada yang beneran ‘n’, tapi adapula yang cenderung ‘ng’. misalnya sahaja, kata mochiron bisa tetap mochiron, tapi bisa juga cenderung menjadi mochirong, meski ‘ng’-nya samar. saya fikir itu masalah aksen sahaja.

tapi menurut saya bacaan ini lain dengan aksen, semuanya tetap dituntut untuk membaca dan melafalkannya secara tepat. bukan pula masalah selera, semisal shofiy sukanya murottal Al Ghomidi, terus pelantunannya merujuk ke Al Ghomidi, sementara saya sukanya murottal dari Hanie Al-Matruth, berikutnya, cara saya melantunkan Al-Hasyr juga jadi merujuk ke cara pelantuan Hanie Al-Mathruth… tapi, meski beda-beda lagu, cengkok dan pelantunannya ~ baik Al Ghomidi, Masyari Rasyid, Sudais, ataupun Hanie Al-Mathruth ~ cara bacanya tentunya tetap kudu tepat… CMIIW

klo jakarta an panggilna bang batman dung ^_^

hwe he he… nggak pernah kepikiran buat manggil saya pak Val Killmer? :mrgreen:

Comment by Infinite Justice

kakanda… ngapain di lampung?

*merutukidirisendiriyanggemartersasardibloginidanmengotoripostingan
pemilikblogdenganhalhaltakpenting*

Comment by yoan

@ yoan : kakanda… cuman pengin naik gajah :mrgreen:

eh, ga ding… kakanda di lampung demi mencari sesuap nasi dan menafkahi anak-cucu kita nanti 😆

eh, gak juga ding… pengin mengukur jarak BDL-TLBWG dengan mistar 30 centi-an 😆

eh, gak juga aja ah… kakanda seharusnya masuk ke terminal 2E, tapi malah nyasar ke terminal 1B, dan kakanda yang seharusnya pergi ke jepun malah kesasar ke lampung… *bo’ong banget deh* :mrgreen:

*gelisetengahmatibayanginadindayoanbrowsingpakehapebelabelain
nuliskomenpakekeypadhapeyangkerassekalisekerasbatako*
*berasachatting*

Comment by Infinite Justice

katanya ini blognya Batman :mrgreen:

salam kenal aja deh 🙂

Comment by hmcahyo

lalu siapakah Saya, yg ditulis dengan huruf s besar?

*nyetel flying in a blue dream*

Comment by edy

hidup itu adalah sebuah perjuangan dalam merubah diri untuk selalu bisa menjadi lebih baik terutama dalam menggapai apa yang kita impikan…

jadilah seorang perubah daripada pemimpi….

Comment by omiyan

sumpah, milo panasnya ga nahan..
jadi ngiler ngeliatnya..
pas kalo diminum pagi2 sambil ngerenung kek gini :]

Comment by phiy

@ hmcahyo : ya ya ya… ini memang blog-nya Batman koq :mrgreen:

@ edy : …

@ omiyan :

hidup itu adalah sebuah perjuangan dalam merubah diri untuk selalu bisa menjadi lebih baik terutama dalam menggapai apa yang kita impikan…

sepakat, pak… adalah orang yang statis, stuck, stagnan, dan minim perubahan adalah orang yang terbilang kurang aktif dalam melakukan perubahan menjadi lebih baik lagi…

jadilah seorang perubah daripada pemimpi….

akan tetapi, bukannya perubahan itu diawali lewat mimpi? jadi kalau menurut saya, sebelum jadi perubah, bolehlah sebelumnya menjadi pemimpi…

@ phiy :

sumpah, milo panasnya ga nahan..
jadi ngiler ngeliatnya..
pas kalo diminum pagi2 sambil ngerenung kek gini :]

hauuu… memang begitulah adanya jeng… perenungan itu sedianya dilakukan dengan teman buat merenung… secangkir milo panas…

Comment by Infinite Justice

>>> berhenti… berjelaga sambil menyaksikan asa yang ditelan bara dalam tungku kehidupan yang menyala-nyala…

kalimat inih……membuatku berhenti sejenak & think….

dalem ban9ed ya hasil renun9annya,jadi terkoyak neeh..

makasi yaa.. 🙂

Comment by wi3nd

ecH Lupa ba9i miLooonya duunn.. 🙂

Comment by wi3nd

hubungannya sama gambar kopi itu apa?? *bingung

Comment by 3mnnm8

@ wi3nd : itu adalah ungkapan tatkala saya merasa bahwa impian saya terganjal pada sesuatu tembok penghalang, hijab tak terlihat yang memang nyata adanya dalam arus kehidupan…

e tapi itu perenungan saya pribadi, berdasarkan apa-apa yang saya alami…

@ 3mnnm8 : oh, kuro-chan… tidakkah engkau lebih sempurna dalam melakukan perenungan jikalau ditemani segelas milo hangat? :mrgreen:

Comment by Infinite Justice

itu mah ambil sedikit puisina di AAc….
*nebaknebaklagi*

Comment by shofiyah

@ shofiyah :

itu mah ambil sedikit puisina di AAc….

euuu… AAc naon teh? tidak faham euy maksudna teh shofiy… judul buku kah?

*ganti nebak-nebak*

Comment by Infinite Justice

hummm,, “Let your mind go for walk”…
sometimes tuk mendapatkan makna hidup,,, tidak cukup fisik saja yang bertualang,, pikiran pun ikut dituntut…
Seperti hari ini disaat hujan turun,, sepanjang jalan sudirman mobil (dengan b’bagai merk beken)+pengendara motor berjejer dengan rapi… tidak terlihat lagi jalanan,, layaknya tempat parkir yang tdk ada putusnya…
tapi mengapa disudut yang lain,, masih banyak peminta2 yang memohon belas kasihan.. pemandangan yang sangat kontras…
*i am still walk n thinking*

Comment by wanti annurria

@ wanti annurria : kawasan sudirman-thamrin memang kawasan elit, jeng… 😦

tapi hanya melihat deretan mobil mewah, sebelum menyimak peminta-minta yang sering mangkal di bundaran HI itu laiknya kita disuguhi pemandangan yang kontras, seolah masing-masing adalah tolok ukur yang benar dan yang salah. kalau saya sih lebih suka perenungan atau muhashabah itu dilakukan dalam keadaan duduk diam atau berbaring… yang penting kita tidak dalam kondisi mobile…

Comment by Infinite Justice

Gw kagak ada komen nech..Sukses yach bro…

Comment by Cadink

salah ketik Ada apa dengan cinta
pilem yang shophie lihat pas SD ^_^

Comment by shofiyah

nah… itu dia…
qu jarang diam,, dan lebih sering mobile… :p
kalo sudah diam,, tinggal letih yang tersisa dan tidur yang mengobati… heheheh…
*thamrin-sudirman,, dimana bisa didapat pemandangan dgn 2 sisi berbeda*

Comment by wanti annurria

@ Cadink : sukses… *black campaign as legislator candidate…*

@ shofiyah :

salah ketik Ada apa dengan cinta

hmmmmh… malah jadi inget ladya cheryl baharrizky… :mrgreen:

@ wanti annurria :

qu jarang diam,, dan lebih sering mobile…

kalau begitu, jeng wanti kudu nyoba sesekali bermuhashabah dalam diam… rasanya jauh lebih menentramkan… atau jeng wanti mau ikut saya? bermaiyah, melantunkan tembang ‘khouf’ dengan jiwa gemetar… untuk mencoba memahami apa-apa yang salah di dunia ini…

Comment by Infinite Justice

dalam jalanku berdiam, dalam dudukku berdiam, dalam tangisku ditengah malam pun berdiam… 🙂
tapi boleh juga tuw undangannya… 😉

Comment by wanti annurria

@ wanti annurria : ah, iyah jeng… perenungan kalau sambil jalan itu kurang afdhol… kecuali kalau sambil duduk, apalagi bertafakur dipenggalan malam yang ketiga, itu baru luar biasa…

Comment by Infinite Justice

Salam
Who am I? iam just another human being 🙂

Comment by nenyok

@ nenyok :
sekiranya saya juga hanyalah seseorang, sama dengan ratusan juta orang yang lain, saya ingin menjadikan diri saya sendiri sebagai sosok yang lain dari yang lain…

saya ingin lepas dari belenggu keseragaman bentuk dan ukuran…
saya ingin menunjukkan jati diri lewat tulisan…
dan saya ingin menunjukkan eksistensi lewat apa-apa yang bisa saya lakukan bagi orang lain…

Comment by Infinite Justice

ga pernah berhasil tuh “melamun” di pinggir pantai, yang ada cekikikan mulu ama temen2, padahal pengen bgt, kan sok sok romantis gitu hehehe

Comment by neng fey

Kata-mu “….mengenai perempuan yang lupa akan kodratnya, dan ibu yang tidak kompeten menjalankan perannya….”
Dan Kata-ku, Aku manusia yang berada dalam pusaran neurosis noogenik, menggugat “kodrat” itu…..

-Animusparagnos-

Comment by animusparagnos

@ neng fey : hauuu… yang saya maksudkan adalah bahwasanya kita dalam keadaan sendirian, merenung… dan rasanya kita gila kalau sendirian dan tahu-tahu cekikikan sendiri… 😉

@ animusparagnos :

Aku manusia yang berada dalam pusaran neurosis noogenik, menggugat “kodrat” itu…

apakah yang kau gugat, jeng? bukankah kau telah diletakkan ditempat terhormat? urutan kedua bukanlah selalu berarti urutan yang buruk. berada dalam urutan kedua bisa berarti bahwa kau terlindungi, karena yang di urutan pertama adalah garda depan, frontliner yang melindungimu…
saya yakin dengan apa yang diajarkan dalam keyaqinan yang saya anut… menghargai, melindungi, dan menempatkannya di tempat terhormat. bahkan yang sekufu dengan saya pun ada pula yang tidak faham dengan hal itu…

Comment by Infinite Justice

Love Thing? LO SUKA LOVE THING?!
ARGH!!!

tapi gwa lebih tergila2 sama Cryin’, Mountain Song, dan The Traveller.

Comment by The Bitch

@ The Bitch : yah, well… belakangan saya terus-terusan memutar Love Thing, You Saved My Life, dan Always With Me Always With You… saya hanya punya album JOE SATRIANI – Live at Budokan saja sih…

Comment by Infinite Justice

Benarkah tidak ada yang perlu digugat? Sejak zaman antah-berantah pun manusia telah menjadi “binatang” terhormat yang dibekali cipta, rasa, karsa. Bahkan saya tidak ingat dalam Islam pun tidak ada kelas-kelas yang menempatkan perempuan dalam urutan kedua. Terhormat dan frontliner, saya kira itu wacana dan stereotipe yang meracuni kognisi&emosi perempuan demi menciptakan opresi, sebab pada kenyataannya perempuan mendapatkan kehormatan sebagaimana haknya sebagai manusia dan banyak diantara mereka justru sebagai garda depan untuk keluarganya.
Dan “kodrat perempuan” itu adalah bikinan patriarki yang disosialisasikan, seolah-olah mengalir dalam darah setiap perempuan.
Wallahualam.

Comment by animusparagnos

@ animusparagnos :

Terhormat dan frontliner, saya kira itu wacana dan stereotipe yang meracuni kognisi&emosi perempuan demi menciptakan opresi, sebab pada kenyataannya perempuan mendapatkan kehormatan sebagaimana haknya sebagai manusia dan banyak diantara mereka justru sebagai garda depan untuk keluarganya.

jeng, ngomongin soal emansipasi ndak bakal ada akhirnya, hanya perguliran dialog menyerupai bulatan bola yang tak ada ujungnya. saya tak menampik bahwa perempuan jaman sekarang telah berada di medan yang sama dengan pria; mereka ada di sektor manapun, berbagi jatah dengan kaum adam. bagi saya, ini adalah salah satu bentuk konkret dari emansipasi tersebut. saya menghormati rekan-rekan kerja dan kolega saya yang berjenis kelamin perempuan, dan tidak sekalipun saya menganggap mereka di bawah saya. bagi saya, itupun salah satu bentuk dari pengakuan saya terhadap emansipasi tersebut.

kami jadi frontliner jeng, untuk urusan pekerjaan kasar. kami membiarkan perempuan duduk di dalam, dan kami bergelantungan di pintu mikrolet adalah salah satu bentuknya jeng. kami memudahkan jalan, memberikan kursi, dan itulah yang saya lakukan selama ini. karena kami sadar betul bahwa otot kami didesain lebih liat, jeng, kami taat pada kodrat. Itulah ‘nomer dua’ yang Saya maksud.

tak semua pria itu terhormat, pun demikian pula tak semua wanita itu terhormat. maka emansipasi kadang hanya berlaku pada segelintir fihak. Saya tidak pernah bermufakat soal pemimpin dari kaummu, jeng. Itulah keyaqinan yang Saya maksud. Emansipasi, kesetaraan, maka memang sudah pasti bakal memunculkan keberadaan kaum hawa sebagai motor utama penggerak ekonomi suatu keluarga. Emansipasi pun bisa jadi ringsek karena tuntutan zaman dan keadaan.

Comment by Infinite Justice




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: