Death for Crime, Hail Justice!


30 Juta…
21 April 2009, 11:38 pm
Filed under: Personal Case

Muka Mi’un berseri-seri. Bapak satu anak itu sudah sedari pagi tak henti-hentinya menebar senyum. Matanya tak juga berpindah dari sebiji handphone bekas, yang dibelinya setelah hampir 3 bulan banting tulang memanggul barang. Sesekali tombol-tombol yang sudah memudar ~ tak jelas huruf dan angkanya itu dia pijit pelan. Backlight yang menyala, membuat perasaan Mi’un bahagia setengah mampus! Mi’un berasa jadi orang paling kaya nomer dua sedunia, setelah Wak Qosim, juragan sepeda bekas, yang tahun lalu memberikan soft-loan, pinjaman lunak sehingga Mi’un bisa membeli sepeda onthel sebagai alat transportasi utama baginya

Nurul, gadis manis kelas satu es em pe yang tidak mengerti kebahagiaan bapaknya yang sedang merasa jadi orang kaya geleng-geleng kepala. Menatap heran bagaimana bapaknya itu bisa jadi kehilangan kewarasan hanya gara-gara sebiji handphone bekas.

“Nur…”, Mi’un memanggil putri kesayangannya, “Jangan lupa, nomer handphone ini kudu kamu kasih ke bu guru”
Nurul mengernyitkan dahi
“Buat apa, pak?”
“Koq buat apa…?”, Mi’un sedetik kehilangan senyumnya, “Ya biar bu guru kamu bisa nelpon bapak kalau ada apa-apa sama kamu…”
Nurul bergidik ngeri. Bapaknya nyaris gila hanya gara-gara handphone bekas!
“Ntar lah pak”, Nurul menjawab singkat

Mi’un geleng-geleng kepala, menganggap putrinya sudah melakukan suatu bentuk dosa besar, kesalahan yang dia yakini bakal disesali oleh putri semata wayangnya itu seumur hidup! Kalau Nurul tidak ngasih nomer handphone barunya ke ibu guru, bisa-bisa Mi’un ditangkap komnas perlindungan anak karena dianggap mendholimi anak!

Nurul mencoba mengingat kembali, betapa tahun lalu, bapaknya berasa jadi jutawan setelah bisa membeli sepeda onthel dari Wak Qosim. Bayarnya mencicil. Dan setelah sepeda itu hadir di beranda gubuk tempat dia dan bapaknya berlindung dari guyuran hujan dan sengat matahari, Mi’un jadi rajin mengoles tubuh sepeda tua itu dengan oli bekas. Hasilnya sungguh luar biasa, sepeda itu berkilau bak rembulan. Sama berserinya dengan Mi’un tiap kali mengayuh sepeda itu penuh semangat; memamerkan deretan rapat gigi putih yang silau, kontras dengan kulit Mi’un yang sehitam aspal, mengantar Nurul ke sekolah dengan rasa bangga yang tak terperi

Dan sekarang? Nurul hanya bisa geleng-geleng kepala. Bapaknya dimabuk asmara, puber entah yang keberapa. Matanya tak bisa lepas dari handphone bekas yang berbalutkan karet gelang itu. Nurul juga sempat merasa khawatir, kalau ada sms masuk, bapaknya bakal menganggap sms itu sejenis wahyu, wangsit, atau apa lah… bisa musyrik jadinya

“Tadi bapak sudah ngasih nomer handphone ini ke Wak Qosim”, Mi’un tersenyum berseri, “Katanya, nanti sesekali Wak Qosim bakal simkol bapak”

Bffffhhh
Nurul menahan tawa

Missed call, pak, missed call!”
“Apa itu miskol?”

Dan Nurul pun tertawa. Menertawakan bapaknya yang sok pinter, dan sok tahu.
Melihat raut muka bapaknya yang bingung, Nurul tambah tergelak, hingga perutnya sakit, jauh lebih sakit ketimbang pas dia dapat haid untuk pertama kalinya, seminggu yang lalu

Begitulah. Hari itu, gubuk Mi’un memancarkan pendar-pendar rona bahagia. Hari itu, Mi’un sudah melepaskan status melaratnya, dengan kehadiran handphone bekas yang diikat dengan karet gelang agar bodinya tidak lepas menjadi dua bagian itu. Mi’un bahagia, sungguh bahagia. Bahkan, mungkin jauh lebih bahagia ketimbang pas Ijah ~ almarhumah istrinya dulu, mengangguk malu, setuju untuk ikut mengecap hidup susah bersama Mi’un

*****

“Nur, Nur, bangun Nur!”
Mi’un mengguncang-guncang tubuh Nurul. Nurul gelagapan, tergopoh-gopoh mengira bapaknya membangunkannya lantaran langit bakal rubuh menimpa kepala mereka
Nurul mengedarkan pandangan sekelilingnya. Tak ada yang rubuh, tak ada yang rusak

“Ada apa pak?”, Nurul mengucek mata. Kepalanya terasa pening gara-gara ketiduran setelah subuhan 
“Kita kaya, Nur! Kaya! Kita sudah tidak melarat lagi!”, Mi’un mengguncang-guncang bahu anaknya
Lah? Baru sadar kalau selama ini kita hidup miskin?

“Lihat nih!”, Mi’un menyodorkan handphone tercintanya, hampir menyatu dengan dahi Nurul.
Nurul memundurkan tangan bapaknya, dan memicingkan mata untuk membaca huruf-huruf kecil yang terpampang di layar monokrom yang kabur namun sedikit menyilaukan itu

“se..la..mat… an..da.. me me nangkan uang 30 juta rupiah?”
“TIGAPULUH JUTA!”, mata Mi’un membelalak, sementara mulutnya menyunggingkan seringaian bahagia, “Bapak sampe tidak tau, juta itu nol-nya berapa!”

Nurul merenung, sambil melihat bapaknya yang meloncat-loncat kecil sangking bahagianya

“Menurutku itu bohongan deh pak…”, Nurul mengajukan mosi tidak percaya

Mi’un sejurus terdiam, merasa sedih dengan anaknya yang sudah hampir 13 tahun dia ajak hidup melarat. Mi’un merasa bersalah, sekaligus takut berubah menjadi kaya secara mendadak bakal membuat putri kesayangannya jadi gila
“Tenang aja, Nur”, Mi’un memijit pelan bahu kanan Nurul, “Nanti bapak beliin juga kamu handphone… atau motor?… atau boneka berbi kayaq punyanya Sri…?”
Mak! Nurul kehabisan kata

“Bapak mau ke bank dulu… tanya sama petugasnya gimana caranya ngambil duit ini”

Dan Mi’un pun berlari tunggang langgang lintang pukang menuju halaman depan. Nurul bergegas mengikuti bapaknya. Telat. Ketika sampai di pintu, Nurul hanya kebagian jatah melihat punggung bapaknya yang kian mengecil di atas sadel sepeda yang dikayuh penuh semangat, sebelum punggung itu menghilang di tikungan.

Nurul meregangkan tangannya. Berharap moga-moga pulang nanti bapaknya tidak jadi gila beneran gara-gara jadi korban penipuan murahan via sms ini. Diliriknya jam dinding. Hmmm. Jam 9. Berarti sebentar lagi dia kudu ke rumah Haji Koharuddin untuk membabu, buat mencari duit untuk meringankan beban bapaknya yang hanya kuli panggul. Mencuci baju, mengepel, memasak… Nurul menghela nafas. Memang tidak ada yang namanya rejeki jatuh dari langit secara tiba-tiba, dia kudu ikhlas bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik…

Advertisements

53 Comments so far
Leave a comment

udah nyaris tengah malam… belum bisa tidur lagi… dan lantaran lagi kering ide buat postingan, akhirnya malah mengarang ceritera kacangan seperti ini… 😦

asyiknya mengarang buat saya adalah kita bebas berekspresi, menuangkan gagasan-gagasan yang ada di kepala, namun dengan sistem audit terkontrol untuk mengeliminir kesalahan ketrik, hingga mengekstradisi hal-hal yang janggal…

Comment by Infinite Justice

ew…. kacangan dari hongkong ? hehehe cerita keren gini. manteb bener. ceritanya sederhana dan enak dibaca. dan tiba selesai baca di ending rasanya berkesan banget. aduh, kasian pak mi’un. apa nasibnya bener2 jadi apes ya ?

salam kenal 🙂

Comment by jee

Satir.
Lelucon yg pahit, kakanda…

Comment by yoan

hueee.. bagus kok cerpennya. Tadinya males baca pas tau postingannya cerpen,tapi malah lanjut sampe abis, lucu sih, hihi :mrgreen:

Comment by phiy

Setuju ama yoan di atas, satir… banged.
C’est la vie.

Comment by ndarieindah

akuur satir
*semacamkehabisankatadansetujusajadenganmbakyoan*

Comment by shofiyah

kasian nasib si nurul yang masih kls satu es em p,, qudu membabu banting tulang tuk bantu perekonomian keluarganya…,,

nice story,, beneran hanya dibuat dlm wkt 1 malam niy??? mantab… 😉

Comment by wanti annurria

@ jee :

ew…. kacangan dari hongkong ? hehehe cerita keren gini. manteb bener. ceritanya sederhana dan enak dibaca. dan tiba selesai baca di ending rasanya berkesan banget

sungguh saya sangat terharu dengan komen dari jeng jee… kurang lebih sama dengan analogi tukang masak yang dipuji masakannya oleh si pelanggan…
*menitikkan air mata*

@ yoan : aduhay adinda… kakanda hidup dengan satir, dan kehidupan kakanda adalah satir itu sendiri. ketika kita memahami arti kesusahan dan kemelaratan, baik kemelaratan iman, kemiskinan ilmu, dan kepapaan moral dan perilaku, maka kita akan lebih mudah membayangkannya untuk terjadi. dan itulah dasar kakanda merangkai alur ceritera…
selanjutnya tinggal membayangkan wajah dan perilaku, kita bisa membuat suatu bentuk karakterisasi yang hidup… dan dari situlah kanda menggambarkan sosok Mi’un dan Nurul…

@ phiy :

hueee.. bagus kok cerpennya.

hai hi hi… terimakasih jeng phiy *ngikik senang a la Bang Zaitun…*

Tadinya males baca pas tau postingannya cerpen,tapi malah lanjut sampe abis, lucu sih, hihi

saya ngerti betul koq, bahwa resiko dari menulis sebuah cerpen adalah di-skip oleh pembaca. namun, dengan jeng phiy menuliskan statemen di atas, setidaknya saya bisa bernafas lega, bersukacita bahwasanya hasil karya prosa saya masih ada yang suka membacanya…

@ ndarieindah : oh… sudah pulang tah jeng hajjah ndarie? adakah air zam-zam buat saya? :mrgreen: e tapi pulang dari tanah suci koq ngomongnya pake basa prancis? 😕

@ shofiyah : … *speechlesskehabisankata*

@ wanti annurria :

kasian nasib si nurul yang masih kls satu es em p,, qudu membabu banting tulang tuk bantu perekonomian keluarganya…

potret kelam kehidupan anak-anak di indonesia…

nice story,, beneran hanya dibuat dlm wkt 1 malam niy??? mantab…

emmm… sekitar satu setengah jam, sebelum akhirnya mata saya bisa terpejam

*dan bangun sedikit kesiangan langsung ngibrit ngejar kereta express pakuan arah bogor*

Comment by Infinite Justice

Wah ga subuhan dung brader… wah wah wah
*geleng-geleng kepela*

Comment by shofiyah

weleh gak pake hajjah2-an, biasa aja kalee
… jadi bahasa gaul deh.

afwan, bahasa arabnya masih jauuuuh dari harapan *jadi malu*

Comment by ndarieindah

kakanda mungkin bisa jadi penulis novel selain jadi pengacara…

Comment by yoan

Hu-uh….
Kalo pas gak ada kasus, bikin novel aja….
Qiqiqiqiqiq….

Comment by wahyu

dan lantaran lagi kering ide buat postingan, akhirnya malah mengarang ceritera kacangan seperti ini…

Sepakat sama Jee (halo Jee, salam kenal,, nanti aku ke tempatmu 🙂

KACANGAN DARI HONGKONG …..???!

Comment by Muzda

Iyah nich, serasa bukan baca postingan dari seorang blogger,namun seperti baca sebuah cerpen beneran yang sudah tertata rapi diantara lembaran2 lainnya….
Serasa sudah ada editornya…

Sebuah cerita fiksi namun memang kenyataannya terjadi di masyarakat kita..

Salam hangat Bocahbancar…..

Comment by bocahbancar

cerita sebagus ini kok dibilang kacangan sih…jangan merendah atuh 🙂

Comment by diajeng

Untuk cerita selanjutnya boleh request ndak..kalo boleh judulnya “perempuan di atas sajadah” (*kek judul film yach..hehehe 🙂

Comment by diajeng

hahahahhaha… jadi inget sm temenku yang jadi heboh sendiri stlh dapet sms kalo dia dapet hadiah mobil Vios *padahal jelas2 dia ga pernah ikutan kuis apapun* eh tauuunyaa.. KETEPUUU!!!!! hahaha

keren nih cerpennya! 🙂 merepresentasikan kejadian yang ada disekitar kita 🙂

Comment by INDAH REPHI

Wah…. jangankan kuli panggul….. lha wong caleg yang udah susah payah keluar duit ratusan juta aja belum tentu memetik buahnya apalagi yang cuma ongkang2an saja.

Tetapi kalo si kuli panggul cerita di atas pintar, dia bisa mendapatkan pelajaran dari kejadian seperti di atas. Bahwasannya orang bisa menjadi kaya jikalau mau ‘kreatif’. Terlepas dari halal-haramnya, penipuan seperti itu adalah termasuk perbuatan ‘kreatif’ menuju kaya. Walaupun boleh dikata itu adalah kreatif yang tidak pada tempatnya. Huehehehe…. :mrgreen:

Comment by Yari NK

Wah..Sungguh mengenaskan..
Cerpennya dikirimin ke majalah bobo/p’boy aja mas..Dapet komisi kan lumayan..
http://www.mnxzone.blogspot.com tukeran link yok mas..

Comment by MNXZone

potret masyarakat kita ya, mas?

Comment by Hafid Algristian

salam
kering ide aja kek gini, gimana klo lagi full loaded..Humff tapi klo yang tertipunya kek bapak Si Nurul ya wajar lah namanya orang ga tau, yang aneh klo intelek tp masih ketipu 😀

Comment by nenyok

@ shofiy : hmmmh… ndak koq… saya bangun jam 5 pagi, kudu ngurus segala tetek-bengek dan jam 6 pagi kudu berangkat… ngejar Pakuan express ke arah Bogor yang berangkat jam 7.14 di jadwalnya…

@ ndarieindah : iya bu haji… :mrgreen:

@ yoan : as you wish, adinda… 😆 kanda pengin nulis novel misteri thriller dan pembunuhan… sepertinya tema mutilasi macam Birdman-nya Mo Hayder atau pembunuhan sadis a la Death Du Jour-nya Cathie Reichs mayan tuh…

hmmh *befikir keras*

ndak ah…
biar kanda jadi pujangga sahaja, agar bisa menuliskan beribu sajak berjuta prosa bagi adinda… 😉

@ wahyu : bukan novel, jeng… tapi notulensi! :mrgreen:

@ Muzda : hoooo… saya baru sahaja tahu menahu bahwasanya kacang-kacangan ituh dari hongkong… but thanks anyway… its encouraging me so damn much, sis…

@ bocahbancar : hontou ni doumo arigato gozaimasu!
*kepalamembesarhidungmemancung*

@ diajeng :

cerita sebagus ini kok dibilang kacangan sih…jangan merendah atuh

saya baca novel ini jauuh lebih banyak daripada diajeng… menelisik sebaris demi sebaris untuk mencari cela dan kekurangannya jeng… tidak ada yang sempurna dalam setiap karya manusia, dan saya mencuba sedetail dan seteliti mungkin dalam menggarap alur dan penokohan sehingga tidak ada hal yang janggal dan tidak masuk di akal…
bagi saya, cerita ini entah kenapa masih terasa kurang… makanya saya belum merasa bahwa ini adalah tulisan yang benar-benar bagus..

Untuk cerita selanjutnya boleh request ndak..kalo boleh judulnya “perempuan di atas sajadah” (*kek judul film yach..hehehe

weew… kayaqnya bisa tuh jeng… malah jadi tertantang rasanya… 😉

@ INDAH REPHI :

keren nih cerpennya! merepresentasikan kejadian yang ada disekitar kita

saya ingin menuliskan alur penceriteraan yang nalar dan masuk di akal jeng… dan tentu sahaja, ini hanya bisa saya lakukan dengan melihat hal-hal yang terjadi betulan, sehingga dengan mendasarkan pada kejadian tersebut saya bisa menuliskan serealistis mungkin…
dalam mencetak penokohan pun saya terlebih dulu kudu membayangkan profil. Mi’un dalam bayangan saya adalah bapak-bapak kurus berkulit hitam, yang selalu sahaja terlihat jenaka. modelnya? pemeran iklan rokok yang pasar malamnya hampir gagal gara2 korslet listrik… Nurul? saya bayangin Sulis pada awal-awal kemunculannya…

dengan membayangkan para pemerannya, dan berkiblat pada seperti apakah kira-kira kejadiannya di dunia nyata, saya memaparkannya dalam bentuk prosa. begitu kira-kira…

@ Yari NK :

Tetapi kalo si kuli panggul cerita di atas pintar,

yang ada dalam imaji saya ialah Mi’un itu tidak terlalu cakap pak… terlalu banyak mengumbar mimpi dan sedikit malas untuk memulai langkah demi mewujudkan hidupnya… stagnasi, adalah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan karakter Mi’un…

@ MNXZone : bah! saya sudah pernah mencuba mengirim prosa cerpen cerbung di majalah, namun karya saya tiada terdengar lagi khabar beritanya…

@ Hafid Algistrian : yah… ibaratnya saya hanya mendeskripsikan sebuah potret/gambaran, demi menjalin alur cerita yang realistis dan masuk di akal…

@ nenyok :

kering ide aja kek gini, gimana klo lagi full loaded..

entahlah jeng… tapi rasanya belakangan otak saya kurang oksigen, darah juga alirannya sepertinya kurang lancar, sehingga sedikit susah untuk berkreasi… 😦

Humff tapi klo yang tertipunya kek bapak Si Nurul ya wajar lah namanya orang ga tau, yang aneh klo intelek tp masih ketipu

ah, yah… saya mengambil salah satu sudut potret kehidupan masyarakat kita yang diwakili mereka yang dituntut mengandalkan otot demi mencari nafkah sehingga urusan mengenyangkan nutrisi otak jadi terbengkalai… makanya mereka mudah dibodohi oleh orang biadab yang tega membodohi orang bodoh…

Comment by Infinite Justice

Humm… Kakanda…

Terserah kakanda mau menulis thriller atau prosa dan puisi roman…

Ingat2 saja bahwa kakanda punya banyak penggemar…

And of course I’ll be the greatest fan of ur life…. *anggapsajainipujiandariorangyangsukarmemuji*

Comment by yoan

@ yoan :

Ingat2 saja bahwa kakanda punya banyak penggemar…

begitukah? kalau memang demikian adanya, maka kanda kudu bersimpuh dan berterimakasih kepada para penggemar kanda… keberadaan penggemar adalah salah satu bentuk pengakuan dari keberadaan, kapasitas, kapabilitas dan kompetensi kita, dinda…

And of course I’ll be the greatest fan of ur life…. *anggapsajainipujiandariorangyangsukarmemuji*

tentu dinda… maka kanda akan terus-menerus belajar merangkai kata, menyusun kalimah sehingga kanda bisa sehaibat Sapardi Djoko Damono, Gunawan Mohammad, atau Andrea Hirata… supaya kanda bisa membuat dinda terperangah, terperanjat dan terpana oleh keindahan rangkaian kalimah yang kanda tuliskan…

*rasanyasayajadibeneranmenjurusgila…*

Comment by Infinite Justice

*nyengir2najisbacakomentarkakanda*

Comment by yoan

@ yoan : aduh, dinda… kalaulah memang benar kanda sudah mulai gila, maka kanda akan berusaha menularkannya kepada dinda, sehingga kita akan jadi sehati-serasa, seiya-sekata. maka kanda akan berusaha menulis beribu tulisan, sehingga dinda akan mengidap sakit gila nomer 50; cengar-cengir sendirian di depan layar komputer! :mrgreen:

*kayaqnyabeneransayasudahgila…*

Comment by Infinite Justice

saya baru sahaja tahu menahu bahwasanya kacang-kacangan ituh dari hongkong…

Kacang-kacangan emang dari Hongkong,, na kalo flu Singapura baru dari Singapur ..
hehee,, OOT dikit 🙂

Comment by Muzda

kanda…
tidakkah kakanda tahu…

dinda sudah lebih dahulu gila sejak lama…
jangan ajak aku lebih gila lagi kakanda…
dinda sungguh ingin waras sekalisekali…

kakanda… mari ‘sembuh’ bersama…

*backsound:asmaradana*
*jadiingetpilemmalaysiayangadalaguasmaradananya…*

Comment by yoan

coba kk jadi novelis.
pasti bagus tu jadinya.
hehe

Comment by konohanasakuya

@ Muzda : walah, saya malah baru tau jikalau jeng muzda bisa iseng :mrgreen:

@ yoan : duh dinda… bila sembuh berarti kanda tidak bisa lagi menulis puisi, maka biarlah kanda tetap begini. menuliskan beribu sajak dan puisi untuk menyeret dinda dalam pekatnya kegilaan yang justru bakal dinda syukuri…

*backsound: mabuk mabukan-nya PMR*

@ konohasakuya : jadi novelis? tunggu kalau kk sudah luwes berceritera ya… 😉

Comment by Infinite Justice

*bertanyatanyadanmenunggukegilaansepertiapayangakankakandakulakukan
sehinggabisamembuatadindamensyukurinya*

Comment by yoan

@ yoan : bila kita harus gila untuk bisa menghargai prosa puisi, atau kanda kudu kehilangan kewarasan di mata orang hanya karena mengagumi EMHA Ainun Nadjib dan prosanya yang memelintirkan daya tangkap dan menjungkir balikkan akal fikir, maka kanda rela dibilang gila. dan apabila suatu ketika nanti adinda bisa melihat keindahan dari prosa-puisi yang kanda tuliskan, maka bisa dibilang dinda juga kehilangan akal sehat.

antara gila dan waras sangatlah tipis bedanya, karena itu hanyalah permainan persepsi dan perbedaan pengambilan sudut pandang. dan apabila ~ sekali lagi apabila ~ adinda bisa melihat keindahan itu, maka tidakkah adinda patut mensyukurinya?

cubalah mengerti arti lirik ini;
“Yeah you bleed just to know you’re alive!”

Maka kanda kudu ikhlas dibilang gila hanya agar kanda bisa mengakui bahwasanya ‘Slilit Sang Kiyai’ atau ‘Menyorong Rembulan’ adalah suatu karya seni manusia yang luar biasa, meski kapasitas dan kapabilitas manusia dibatasi…

Comment by Infinite Justice

hmmmmh… jadi ingat lagi soal masa lalu, dimana mata saya berbinar dalam kekaguman ketika menyaksikan konser Kyai Kanjeng dan EMHA Ainun Nadjib melantunkan tembang “Jaman Wis Akhir” dan “Tombo Ati” yang legendaris… sungguh waktu itu, dalam binar mata saya yang tertumbuk kagum pada sosok manusia biasa yang terlihat luar biasa di mata saya yang masih kecil, bulu kuduk saya merinding… maka saya menghormati sesiapa sahaja, manusia biasa yang mampu mendirikan bulu kuduk saya, mengingatkan bahwasanya kita para manusia adalah hamba-NYA, dan kita adalah ummat sang Kanjeng Nabi

Comment by Infinite Justice

tapi aku tetap ingin menikmati dan menghikmati keindahan dengan waras terjaga…
dan aku ingin menyalakan bahagia tanpa harus gila…

because all I can taste is THIS moment…
eventhouh I dont think the world would understand…

Comment by yoan

@ yoan :

tapi aku tetap ingin menikmati dan menghikmati keindahan dengan waras terjaga…
dan aku ingin menyalakan bahagia tanpa harus gila…

tidak apa-apa menjadi gila, dinda… kau pun tak kan tahu bedanya :mrgreen:

asalkan kau bisa merasakan emosi yang tersirat dalam prosa-puisi, maka itu sudah lebih dari cukup…

because all I can taste is THIS moment…

And all I can breathe is your life

eventhouh I dont think the world would understand…

When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

Comment by Infinite Justice

Baru tau kalo aku bisa iseng ??
Hyahh,, hahaai 🙂

*btwkakandadanadinda,, whatareyoutalkingabout, guys ..??*
*monyariandreahiratapengentanyaituudahpenyakitgilatingkat berapa ??*
*mataku jereng, nyerah matiin spasi, salut ini sih cuma elu yang bisa..*
🙂

Comment by Muzda

Slilit sang kyai..ana bacanya waktu kelas dua SMA
berharap semua orang berfikir seperti itu..hanya dari sebatang selilit…..
owh jadi menyorong bulan juga kyai kanjeng??

ahh shofiy tidak mendengarkan musik lagi..alhamdulillah..^_^

Comment by shofiyah

@muzda,
sedang mencoba gila dan memaknai kegilaan itu mungkin, muz…

@shofiy,
itulah geniusnya Emha, yang bisa memaknai bahkan sekecil apapun peristiwa…

*ditimpukkakandaIJkarenalancangjawabinkomentarorangdiblognya*

I just want you to know who I am… di satu sisi.
tapi juga, I dont want the world to see me…

such a dilema…

Comment by yoan

30 juta…. hemmmmmm 😉 :d apa itu misscall 😛

Comment by ria manies

Hei.. pancen wong loro iki, kamu en Yoan, iku bener² “gila” berdua. Yang lainnya yang baca tinggal mlongo en ndlongop. Gk pada tau maksudnya…. Qiqiqiqiq :mrgreen:.
Btw, Yoan lagi hiatus tuh brader, wes dipamiti belum dirimu???

Comment by wahyuapriani

@ Muzda : iseng itu kayaqnya bukan style-nya jeng Muzda… merangkai kata-kata adalah kemahiranmu, guyonan jauh dari gayamu… dan tiap kali menuliskan namamu, jari jemari ini gemetar, seolah tak kuat menuliskannya…

@ shofiy :

Slilit sang kyai..ana bacanya waktu kelas dua SMA
berharap semua orang berfikir seperti itu..hanya dari sebatang selilit…..
owh jadi menyorong bulan juga kyai kanjeng??

ahh shofiy tidak mendengarkan musik lagi..alhamdulillah..^_^

saya mengerti setiap tulisan jeng shofiy… saya juga berfikiran sama soal slilit sang kiyai, dan bilapun jeng shofiy enggan mendengarkan ‘menyorong rembulan’ dilantunkan, jeng shofiy bisa membaca liriknya sahaja… entah kenapa, selalu saja terdengar indah di indera pendengaran saya, dan selalu sahaja terlihat memukau di indera penglihatan saya…

@ yoan :

*ditimpukkakandaIJkarenalancangjawabinkomentarorangdiblognya*

mana tega kanda menimpukmu duhay dinda… sebab yang dinda lakukan telah mengurangi tugas-tugas kanda…

I just want you to know who I am… di satu sisi.
tapi juga, I dont want the world to see me…

such a dilema…

dinda… mengertikan bahwa ‘dia’ tak mau dunia melihatnya, tapi ‘dia’ hanya ingin ‘kamu’ yang mengetahui tentang ‘dia’, tentang keberadaannya… dan tidakkah itu terdengar indah? mengenai seseorang yang tidak ingin dunia melihatnya, dan hanya ‘kamu’ seorang yang bisa melihatnya?

@ ria manies : bukan misscall, tapi simkol! :mrgreen:

@ wahyuapriani : anu, jeng… kami lagi saling mencocokkan lirik lagu laiknya bercocok tanam 😆

wha~? 😯 cuti hamil?! 😆 dia diam seribu bahasa, dan bibir mungilnya tak mampu lagi melahirkan kata… maka dari mana saya bisa tahu bahwasanya adinda yoan bakal hiatus?!…

biarlah apabila memang itu pilihannya… saya hanya bisa merestui dan mendo’akannya…

*setel Always With You, Always With Me-nya JOE SATRIANI sekenceng mungkin*
*berasa kehilangan partner wayangan…*

Comment by Infinite Justice

Ceritanya cukup bagus cuma diakhir klimaksnya kurang greng, kasian si nurul harus membabu secara tiba-tiba.

Comment by pututik

cuti hamil?? enak aja… hamil ama siapa…

Ijinkan aku pergi… Apalagi yg engkau tangisi…
and I’d give up forever to touch you… cause I know that you feel me somehow… :mrgreen:

adinda akan memenuhi janji adinda utk membacai tulisantulisan kakanda… setelah ujian ini selesai… I need to focus… begitu banyak beban dan sulit mendapat sandaran…

Just, doakan adinda berhasil ya kakanda… lalu kita bisa main wayang bersama lagi…
You wont get lonely, though. Ada sungguh banyak sekali penggemarmu yg memperhatikanmu, kakanda… 🙂

Comment by yoan

kisah nyata, nggak kurang2 orang yg sakit jiwa gara2 ketipu sms beginian…modelnya semakin bervariasi aja, bukan hanya sms tapi bela2in telp meskipun interlokal..

Comment by 1nd1r4

Keren mas ceritanya,realnya sekarangkan emang banyak yang seperti itu..

Comment by ajeng

@ pututik :

Ceritanya cukup bagus cuma diakhir klimaksnya kurang greng, kasian si nurul harus membabu secara tiba-tiba.

itu memang disengaja untuk menunjukkan bahagian yang kontradiktif koq, sekaligus sebagai nilai pembelajaran bahwasanya tidak ada yang namanya rejeki jatuh dari langit. kita memang kudu bekerja keras kalau memang pengin mendapatkan sesuatu…

@ yoan :

Ijinkan aku pergi… Apalagi yg engkau tangisi…
and I’d give up forever to touch you… cause I know that you feel me somehow…

aku menangisi hilangnya sosok yang sudah mengisi pojok kosong di relung hati… :mrgreen:

Cause sooner or later it’s over
I just don’t want to miss you tonight

adinda akan memenuhi janji adinda utk membacai tulisantulisan kakanda… setelah ujian ini selesai… I need to focus… begitu banyak beban dan sulit mendapat sandaran…

janji adalah hutang, dan janji adalah kewajiban. kanda tidak menuntutmu untuk menyahur hutangmu, tapi kanda menuntut kehadiranmu…

dan tidakkah kau pernah berfikiran bahwasanya bahu kanda bisa dinda jadikan sandaran…?

sekali lagi kanda pengen melantunkan; “Yeah you bleed just to know you’re alive”

You wont get lonely, though. Ada sungguh banyak sekali penggemarmu yg memperhatikanmu, kakanda…

rupanya tak mengerti dirimu itu, wahai adinda… tak selamanya jumlah itu mewakili rasa. bahkan kehadiran satu orang sahaja asalkan istimewa dihati kita, bakal bisa merepresentasikan kehadiran beribu-ribu orang…

dan tidakkah kau barusan menuliskannya, dan kanda barusan menjelaskannya, ada tipikal orang yang tidak ingin dunia menjamahnya, tapi dia berharap pada seseorang yang istimewa untuk menemaninya…?

tapi jikalau memang inilah yang terbaik, maka kakanda restui kepergianmu, demi menuntaskan cuti hamilmu…

*wayangorangmode:OFF*

@ 1nd1r4 & ajeng : saya memang mendasarkan pada kisah nyata, soalnya saya juga pernah menerima sms sejenis. herannya, ada yang juga yang terjerat sms penipuan macam begini, hingga stress lantaran isi rekeningnya dikuras habis oleh si penipu.

yang paling miris adalah bahwasanya tetangga saya ada yang kudu kehilangan nyawa, setelah bersuka-cita menerima sms yang menyebutkan bahwasanya tetangga saya menerima hadiah uang berjuta-juta, dia ngebut menuju bank, tapi malah berakhir hikayatnya oleh moncong sebuah truk…

dan kalau mau balik lagi dengan jawaban saya buat pututik, bahwasanya tidak ada yang namanya rejeki tiba-tiba jatuh dari langit, dan dalam keadaan krisis finansial separah ini, tidak logis kalau ada yang membagikan duit berjuta-juta secara gratis. penggalan paragraf akhir saya tuliskan untuk menyadarkan saya dan kita semua bahwasanya kita kudu berfikir realistis menggunakan akal sehat

Comment by Infinite Justice

ceritanya keren juga

Comment by newbiedika

wah…keren banget ceritanya!!!
menyentuh hati dan mengaduk emosi, ceritanya sederhana tapi maknanya dalem.

Comment by macangadungan

semakin pintar rupanya kakanda dalam hal gombal-menggombal…

dan tidakkah kau pernah berfikiran bahwasanya bahu kanda bisa dinda jadikan sandaran…?

humm… pernah mungkin, tapi kemudian adinda tersadar bahwa kakanda hanya bayangan maya yang belum tentu ‘nyata’…

*saatnyakembalikedunia’nyata’*

Comment by yoan

@ newbiedika & macangadungan : thanks, sis… it light me up… hope that i can make another better stories… 😉

@ yoan :

semakin pintar rupanya kakanda dalam hal gombal-menggombal…

kanda tak henti-hentinya berlatih dan belajar menganyam kata-kata indah dan merdu, hingga nantinya hati dinda yang beku dan kaku itu bakal luluh lantas, mencair dengan melankolis, indah nian tuk dibayangkan… :mrgreen:

humm… pernah mungkin, tapi kemudian adinda tersadar bahwa kakanda hanya bayangan maya yang belum tentu ‘nyata’…

*saatnyakembalikedunia’nyata’*

Cogito Ergo Sum… mungkin Rene Descartes cukup puas dengan dalih eksistensi dirinya dengan ungkapan seperti itu. Tapi kanda ada bukan karena kanda berfikir bahwa kanda ada. Tapi kanda ada karena adinda berfikiran bahwasanya kanda ada. Tak hanya maya, kanda bisa hadir jauh lebih nyata ketimbang yang dinda kira apabila memang adinda menginginkannya :mrgreen:

duhay adinda… dirimu terlalu meragu, ketakutan tuk lebih mengenal dan dikenal jiwa baru… bahkan sahabat karib yang seolah saudara dimulai dari dua orang asing tak saling kenal yang bertemu…

semuanya ada awalnya, dinda…

Comment by Infinite Justice

haits… lama kelamaan saya bisa mampus dengan melankolis nih 😆

Comment by Infinite Justice

haits… lama kelamaan saya bisa mampus dengan melankolis nih

Bisa mampus dengan apa ..??
Hahaa …

Comment by Muzda

@ Muzda : anuu jeng… kebanyakan ngetrik tulisan-tulisan puitis, saya sekarang berasa melankolis… maka ngerinya minta ampun buat menjadi pujangga cinta seperti ingsun ini… selaiknya ingsun ini bermain wayang orang sahaja…

maka hanyutlah kalian oleh sajak-sajakku, dibuai arus kata, tersangkut di muara prosa…
maka ingsun berasa jadi pujangga, yang menganyam kata demi membangun bilik pesona…

*daningsunpunberasamembacakanmonologpembukawayangorang*

Comment by Infinite Justice




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: