Death for Crime, Hail Justice!


Yes I Do (Like Manga)
28 April 2009, 10:16 pm
Filed under: Judge! Judge! Judge!, Personal Case, Review & Hearing

naruto-10th-anniversary

Pas masih SD, manga (baca: man-ga) pertama yang Saya baca adalah Doraemon (karya Fujiko F. Fujio). Sewa dari perpustaan keliling dengan masa pinjam seminggu. Waktu itu, Saya jadi menaruh hormat pada pak pemerintah, dan berterimakasih karena sudah menyediakan bus mini berisi puluhan hingga ratusan buku, komik dan majalah. Doraemon mulai mengisi ruang khayal Saya yang sempit, dan melebarkannya lewat imajinasi Saya yang kian berkembang. Sampai-sampai waktu itu Saya pengin punya sidekick Doraemon, sehingga Saya bisa minta ini-itu dengan pelbagai macam dan jenis alat canggih yang tersimpan dalam kantung ajaib robot kucing dari masa depan itu. Pas ada pameran buku, Saya diajak bapak pergi menonton. Dan untuk pertama kalinya Saya mencongkel gembok tabungan san-san-wa-wa buat beli manga pertama Saya; Doraemon jilid 33.

Judul manga yang Saya baca mulai bervariasi; Kung Fu Boy (Takeshi Maekawa), Dragon Ball (Akira Toriyama) bahkan Sailor Moon (Naoko Takeuchi) jadi bacaan favorit Saya :shock:. Maka ketika kemarin Saya mampir ke toko buku import, Saya melihat seluruh seri manga Bishoujo Senshi Sailormoon lengkap, Saya jadi bernostalgia… mengenai entah bagaimana waktu itu Saya begitu suka dengan manga yang satu ini, meski Saya tahu betul bahwa ini manga cewek! :mrgreen: Saya masih ingat teriakan lantang Usagi Tsukino meneriakkan slogan standar ‘Dengan Kekuatan Bulan.. Akan menghukummu!’, dan Saya juga jadi ingat, karakter favorit Saya waktu itu adalah Mizuno Ami, si jenius kalem Sailor Mercury 😆 sehingga waktu itu anime favorit Saya adalah edisi spesial Sailor Moon : Ami’s First Love, yang mengisahkan kisah asmara Mizuno Ami dengan Ryo Urawacose romante! 😆 😆 😆

Lupakanlah Bishoujo Senshi Sailor Moon yang membuat Saya malu pernah menyukainya… kesukaan Saya bergeser pada Dragon Ball! Gaya gambar Akira Toriyama begitu menawan buat Saya, sehingga Saya mulai menggambar dan menggambar karakter-karakter Dragon Ball. Saya jadi mengerti, mengapa Masashi Kishimoto ~ pengarang Naruto begitu memuja Toriyama, bahkan gaya gambarnya di Naruto pun terpengaruh oleh gaya gambar Toriyama. Ketika terbit seri Dragon Ball Z, Saya tambah suka dengan Dragon Ball! Terlebih lagi versi movie dan OVA-nya yang menyajikan pertarungan destruktif yang begitu dahsyat seolah dunia bakal kiamat! Bahkan, waktu itu Saya sampai merasa bahwasanya dunia dan alam semesta terancam oleh keberadaan Cell :mrgreen:

NARUTO (Masashi Kishimoto) adalah favorit Saya berikutnya pasca Dragon Ball dan SLAM DUNK (Takehiko Inoue). Saya mengagumi inovasi yang dilakukan Kishimoto, yang menggambar dengan angleangle yang unik, menyerupai teknik pengambilan gambar via kamera. Selain itu, adegan pertarungan juga digambarkan secara apik, dan selalu saja menggelitik, sehingga Saya berkesimpulan bahwa Naruto adalah manga yang revolusioner dari segi penggambaran! Selain terpana oleh karakterisasi yang begitu beragam, Saya juga kagum mengenai bagaimana bagian yang satu dan yang lain ternyata saling berhubungan, seolah Kishimoto sudah mengarang alur cerita dari awal sampai akhir, baru mulai menggambar manga-nya. Beragam jurus dan teknik ninja, semuanya begitu rumit dan kompleks, namun Kishimoto ~ bagaimanapun juga telah secara sukses meringkasnya dalam bentuk manga. Kekaguman inilah yang mendorong Saya untuk mengoleksi manga-nya, juga belakangan mulai rutin membeli versi 10th Anniversary Naruto yang diterbitkan dengan format berukuran besar (hampir seukuran A4) seharga sekitar 600 yen. Meski kalau mau jujur, Saya mengagumi Naruto hingga chapter 244 saja, sebelum Naruto digambarkan sudah remaja.

Lain dengan novel, yang otomatis memaksa kita untuk berimajinasi mengenai depiksi karakter ataupun detail lokasi berdasarkan pada paparan yang tertulis pada novel, manga secara otomatis sudah mematok kita pada karakter dan setting yang digambarkan pada tiap-tiap panelnya. Bentuk mata, tatanan rambut, kostum dan lain sebangsanya semua sudah digambarkan sehingga kita tidak perlu lagi repot-repot menerjemahkan kata-kata menjadi gambaran visual di kepala kita.

Manga pada dasarnya adalah media hiburan visual, yang menghibur kita melalui gambar dan alur ceritera. Bagi Saya pribadi, membaca manga itu Saya gunakan sebagai penyeimbang, untuk memudahkan imajinasi Saya berkembang ~ yang otomatis juga turut membantu Saya menerjemahkan novel dalam gambaran visual imajiner di alam fikir dan khayalan Saya sendiri, sehingga Saya bisa lebih menangkap alur cerita dan penokohan dalam novel. Manga sebagai salah satu bentuk seni, juga mampu membuat pembacanya ikut merasakan emosi yang dialami oleh karakter yang ada dalam manga, yang coba disampaikan oleh mangaka-nya. Kalau buat Saya, emosi ini bisa Saya rasakan pada jilid 31 manga SLAM DUNK yang minim kata-kata, hanya potongan-potongan gambar yang menggambarkan adegan emosional dari tim basket gurem SHOHOKU yang berjuang setengah mati mencuba menjungkalkan dominasi tim tangguh SANNOH. Jadi? Ya, Saya menghargai manga selaku a piece of an art. And yes, I do (love Manga)



FELT HANDYCRAFT IS A STATE OF AN ART
13 April 2009, 9:51 pm
Filed under: Review & Hearing

felt-bear-and-rabbit
felt-blue-whale
felt-pouch

Souvenir pernikahan bersifat fakultatif ~ boleh ada, boleh tidak. Namun, bagi sebahagian orang, souvenir pernikahan mutlak adanya. Dan dari belasan hingga puluhan akad nikah, prosesi kawinan dari kawan, kerabat, hingga rekanan, Saya sudah menerima berbagai macam jenis souvenir pernikahan. Mulai dari lonceng sapi, berbagai jenis tembikar mini bercat warna-warni, setangkai bunga palsu, cermin kecil yang sangking kecilnya hanya sanggup memuat sebiji mata Kita sahaja tatkala kita hendak bercermin, hingga gantungan kunci bergambar wajah kawan Saya bersama pasangannya. Sepertinya kawan Saya tersebut mengidap sakit gila nomer 62 : keranjingan menebar foto diri dimana-mana laiknya caleg… :mrgreen:

Beberapa fihak terlalu menyederhanakan atau meremehkan posisi souvenir pernikahan, sehingga tak jarang beberapa souvenir pernikahan tidak berdaya guna, hanya menjadi sampah yang kadang dibuang seiring dengan berakhirnya prosesi sakral akad nikah atau resepsi pernikahan. Padahal, pengadaan souvenir tersebut tentunya juga memakan biaya.

Ialah gantungan kunci atau segala rupa souvenir kawinan itu hendaknya didisain sedemikian rupa, sehingga dia berdaya guna, dan setiap orang bersuka cita memakai dan memanfaatkannya kembali. Dan kakak Saya memberikan solusi atas hal ini.

Terinspirasi oleh Emi Risna Emawati dan Linawati, kakak Saya membuat kerajinan tangan dari kain felt, menghasilkan berupa-rupa benda-benda imut, mulai dari dompet, pouch atau kantung HP, gantungan kunci hingga pembatas buku. Awal mulanya, desain dan warnanya diambil berdasarkan desain dalam buku-bukunya Emi dan Lina, selanjutnya kakak Saya memodifikasi ukuran, warna hingga, berlanjut ke fungsi dan detail. Selanjutnya, kakak Saya mulai berkreasi dengan desain dari cover novel hingga desain-desain sesuai keinginan pemesan. Rasanya Saya juga pengin memesan gantungan kunci ukuran raksasa berbentuk Kon*… 😉

Jadi sekarang Saya tidak perlu pusing dan bingung seandainya Saya membutuhkan souvenir kawinan. Dan pernak-pernik unik berbahan kain felt atau flannel seperti ini tentunya bisa dipakai lagi, lepas dari kedudukannya semula yang berstatus souvenir kawinan.

__________________________
Footer :
Beberapa buku karangan Emi antara lain yaitu Pernak-Pernik Unik dari Kain Felt, Aksesoris dan Perlengkapan Anak dari Kain Felt, Boneka Mungil dari Kain Felt, dan Kreasi Tokoh Fantasi Anak dari Kain Felt. Sebenarnya masih ada beberapa judul buku lain terkait kerajinan tangan berbahan dasar kain felt/flannel ini. Akan tetapi, Saya secara pribadi berpendapat bahwa Emi dan Lina memiliki taste tersendiri yang terbilang menonjol dalam aspek desain yang imut dan menarik

*Kon adalah karakter boneka singa dalam manga BLEACH hasil karya Kubo Tite.



Book Review : BAKUMAN #1
6 April 2009, 9:13 pm
Filed under: Review & Hearing

BAKUMAN scan

BAKUMAN photo 

Moritaka Mashiro, seorang murid SMU yang memiliki bakat menggambar diam-diam menyukai Miho Azuki, teman sekelasnya yang cantik dan pemalu. Mashiro suka menggambar sketsa Azuki di buku catatannya. Suatu hari, Mashiro lupa membawa buku catatannya pulang. Ketika dia kembali ke kelas untuk mengambil bukunya yang ketinggalan, ternyata bukunya sudah dipegang oleh teman sekelasnya; Akito Takagi ~ yang memiliki bakat mengarang. Setelah melihat kemampuan menggambar Mashiro, Akito mengajak Mashiro untuk berkolaborasi menjadi manga-ka. Tentu saja, Mashiro menolak mentah-mentah usulan Akito.

Mashiro kelabakan ketika menerima telpon dari Akito, yang berkata bahwa dia akan pergi ke rumah Azuki untuk mengatakan bahwa Mashiro menyukainya. Mashiro mendapati Akito di depan rumah Azuki. Ketika Azuki keluar menemui mereka, Akito mengatakan padanya bahwa dia dan Mashiro akan berjuang bersama menjadi manga-ka. Mashiro terkejut ketika mengetahui bahwa Azuki sebenarnya ingin menjadi seiyuu. Mashiro pun nekat ‘menembak’ Azuki. Azuki bersedia menerima Mashiro, bahkan berjanji untuk mau menikah dengannya asalkan Mashiro dan Akito sudah berhasil mewujudkan mimpi mereka membuat manga. Sebelum mimpi mereka kesampaian, Azuki mengajukan syarat mereka tidak akan saling bertemu dulu. Akankah Mashiro dan Akito berhasil mewujudkan mimpi mereka?

BAKUMAN merupakan hasil karya Obata ‘Ken’ Takeshi (manga-ka) bekerjasama dengan Ohba Tsugumi (writer), setelah sebelumnya kolaborasi mereka menghasilkan manga yang meledak di pasaran; Death Note. BAKUMAN bisa dibilang merupakan hasil karya Ohba yang keluar pakem, karena Ohba lebih terkenal dengan karya-karyanya yang bernuansa kelam, misterius dan sedikit gothic, yang dimunculkan dalam dua karya sebelumnya, GOTH dan Death Note. Kali ini, Ohba menggarap karya bergenre roman dengan sedikit bumbu komedi.

BAKUMAN telah diterbitkan oleh beberapa penerbit, antara lain yaitu Daiwon CI (Korea), Tong Li (China) dan Shueisha (Jepang). Manga yang Saya peroleh sendiri merupakan edisi Jepang, yang diterbitkan oleh Shueisha a/n JUMP COMICS. Chapter pertama manga BAKUMAN diterbitkan dalam majalah Weekly Shonen Jump edisi Agustus 2008, sementara tankoubon alias manga jilid pertama diterbitkan pada Januari 2009.

__________________________
Footer :
Obata Takeshi sebenarnya memiliki gaya gambar yang sedikit berubah-ubah, dan kadang malah menjadikan hasil karyanya inkonsisten. Dalam manga Karakurizoshi Ayatsuri Sakon, Obata Takeshi yang bekerja sama bersama penulis Sharaku Marou memiliki gaya gambar menyerupai gaya gambar pada edisi-edisi awal Hikaru no Go. Sekitar pertengahan cerita dari total 23 jilid manga Hikaru no Go (bekerja sama bersama Yumi Hotta), gaya gambar Obata Takeshi berubah, lebih detil, lebih bagus. Gaya gambar ini masih dipakai untuk manga Death Note, hasil kerjasama Obata Takeshi bersama Ohba Tsugumi ~ pengarang dari GOTH, yang ilustrasinya digarap oleh Kenji Ooiwa (manga-ka NHK ni Youkoso!), sehingga tidak mengherankan apabila karakter Light Yagami (Death Note) memiliki sedikit kemiripan dengan karakter Shin’ichi Izumi di edisi pertengahan hingga akhir manga Hikaru no Go, sementara Mikami Teru sedikit mirip dengan Ko Youn-Ha.
Berikutnya, Obata Takeshi berkolaborasi bersama Tsuneo Takano, menggarap manga berjudul Blue Dragon Ral & Grad. Dalam manga Blue Dragon ini, Obata Takeshi merubah lagi gaya gambarnya. Dan gaya gambar inilah yang dipakai dalam manga BAKUMAN. Obata Takeshi juga dikenal akan kemampuannya menggambar secara luar biasa detail, dan sering menggambar karakternya mengenakan pakaian-pakaian yang modis.

Selain manga BAKUMAN, seluk-beluk mengenai pembuatan manga bisa Anda simak juga dalam manga Comic Bomber (Shimamoto Kazuhiko), Genshiken (Kio Shimoku), atau Comic Party (Sekihiko Inui). Comic Bomber memang mengisahkan perjuangan manga-ka Moyuru Hono bersama para assistennya membuat manga, sementara Genshiken lebih mengisahkan perjuangan Sasahara Kanji dan teman-temannya berjuang membuat doujinshi. Pun demikian pula dengan manga Comic Party, yang mengisahkan perjuangan Kazuki Sendo membuat doujinshi untuk selanjutnya dijual dalam event Comic Party atau sering disingkat ComiPa.



Book Review : Coraline
28 March 2009, 9:40 am
Filed under: Review & Hearing

brev_coraline_001

brev_coraline_002

Coraline Jones suka menjelajah. Lantaran bosan, Coraline memutuskan untuk menjelajah flat baru tempat mereka tinggal. Ada 21 jendela dan 14 pintu dalam flat tersebut. Dari 14 pintu itu, ada satu pintu yang dikunci. Coraline menanyakan perihal pintu terkunci tersebut kepada ibunya. Mrs. Jones, mengambil kunci dan membuka pintu tersebut. Pintu tersebut adalah jalan buntu, karena dibaliknya hanya ada tembok bata.

Ketika ayah dan ibunya pergi, Coraline mengambil kunci, dan membuka lagi pintu ke-14. Tembok batanya tidak ada, dan memang seolah tidak pernah ada ~ berganti menjadi suatu lorong gelap yang membawanya menuju flat lain. Coraline menemukan flat yang ditinggalinya ~ sama persis, namun dengan warna dan nuansa yang jauh lebih menyenangkan. Coraline suka dengan masakan ibu dan ayahnya yang ada di flat tersebut; ayah dan ibu yang lain, yang matanya berupa kancing baju.

Ayah dan ibu Coraline tersebut tidak mau membiarkan Coraline kembali pulang. Mereka ingin Coraline tetap tinggal bersama mereka selamanya, yaitu dengan cara menjahitkan kancing baju di kedua mata Coraline! Coraline bersikeras ingin pulang ke flat aslinya, tempat ibu dan ayah sesungguhnya tinggal. Namun ibunya yang bermata kancing, dan semakin terlihat putih, tinggi, dan menyeramkan, tidak membiarkan Coraline pulang. Apa yang harus dilakukan Coraline untuk bisa pulang? Terlebih lagi, karena dianggap nakal, Coraline dikurung di dalam ruang gelap di belakang cermin, bersama beberapa anak-anak lain yang sudah sangat lama dipenjara dalam cermin tersebut…

Coraline merupakan hasil karya Neil Gaiman, penulis asal Inggris yang bermukim di Amerika. Gaya bercerita Gaiman, mengingatkan Saya akan gaya bercerita Astrid Lindgren, Hans Christian Andersen ataupun Enid Blyton. Namun, sajian misterinya mengingatkan Saya akan serial TV The Twillight Zone*, yang misterinya begitu mencekam. Gaiman juga membawakan kisah menegangkan secara menarik, selevel dengan kekaguman Saya akan serial ‘Fear Street‘ hasil karya Robert Lawrence Stine, sang maestro horror dan thriller.

Secara pribadi, Saya menilai Coraline adalah buku yang sangat menarik, baik dari segi isi maupun gaya penceriteraannya. Gaiman menyajikan kisah thriller misteri secara ringan, namun tetap menegangkan karena kita dipaksa berimajinasi mengenai kejadian-kejadian yang mencekam. Coraline diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama setebal 231 halaman. Cetakan pertamanya rilis pada bulan November 2004, dan cetakan keduanya menyusul pada April 2005.

__________________________
Footer :
Serial TV The Twillight Zone, merupakan hasil karya dari Rod Serling, dan tayang di Amerika pada akhir 1959 hingga pertengahan 1964. Serling mengusung genre yang merupakan kompilasi fiksi ilmiah, horror, fantasi, misteri dan juga drama. The Twillight Zone sempat ditayangkan oleh salah satu stasiun TV tanah air, dan langsung menjadi salah satu acara TV favorit Saya selain That’s 70’s Show.



I Ate Ramen As My Lunch
22 March 2009, 9:36 am
Filed under: Food Court, Judge! Judge! Judge!, Review & Hearing

Sooo I spent my day in Sapporo ramen with my friend. All started with a merely simple question; “Sapporo ramen e ikimasu ka?”. My friend nodded once, and replied; “Sou, ikimashou…“. Jadi sore itu Kami memesan miso ramen, chicken katsu, katsuudon, dan sup shoyu. Minumnya Kami memesan Sencha atau teh hijau Jepang. Itadakimasu!

Miso Ramen
Miso Ramen

Miso ramen disajikan dalam mangkuk yang luar biasa besar, sehingga kuahnya bisa Anda gunakan untuk cuci muka, memelihara ikan koi, atau lokasi shooting Mancing Mania. Bagi Anda yang lidahnya belum terbiasa dengan miso ramen, yang akan Anda rasakan adalah rasa hambar. kuahnya seolah tanpa rasa, mie-nya juga cenderung hambar, pun demikian pula dengan daging asapnya. Satu-satunya sumber rasa gurih dalam miso ramen adalah rumput lautnya. Sebenarnya di meja juga sudah dipersiapkan bumbu tambahan seperti garam dan merica sih. Hanya saja, Saya ingin menikmati (lagi) miso ramen dengan rasa orijinal.

Chicken Katsu
Chicken Katsu
Katsuudon
Katsuudon

Chicken katsu, mungkin hampir sama dengan steak. Irisan daging gurih dan empuk, dibumbui dengan takaran yang pas. Menyajikan citarasa daging yang berkelas, dengan bumbu yang menyerupai kecap, namun dengan tambahan rasa seolah menyerupai jahe. Irisan daging chicken katsu yang tidak terlalu besar atupun kecil memudahkan Kita untuk menjepitnya dengan sumpit. Dipadu dengan irisan kentang dan limun, menjadikan chicken katsu ini lebih berasa ketimbang steak. Katsuudon kurang lebih sama dengan katsu biasa, hanya saja dikasih tambahan berupa sayur, rumput laut, dan nasi.

Sup Shoyu
Sup Shoyu

Sup shoyu dihadirkan sebagai pelengkap. ‘desert‘, begitu teman Saya mengasumsikan sup dengan rumput laut tersebut. Sup shoyu ini disajikan dalam mangkuk kecil, dan didominasi oleh kuah bening. 70% kuah, 30% isi ~ mirip dengan komposisi air-darat di bumi :mrgreen:

Sencha atau teh hijau Jepang disajikan hangat. Rasanya sebenarnya sama dengan teh biasa, hanya saja ada rasa sedikit masam untuk sencha ini. Sebenarnya waktu itu bisa saja Kami memesan teh tawar hangat biasa. Akan tetapi, istilah “sencha = teh jepang” ini terdengar lebih mentereng dan classy! *walah! Sepertinya Saya terkena krisis kebanggaan terhadap produk dalam negri! :P*

Apakah semua hidangan tersebut benar-benar terasa nikmat di lidah Saya? Bisa Saya bilang begitu. Terlebih lagi karena pada akhirnya teman Saya lah yang menanggung biaya makan siang jelang sore di bawah rintik hujan tersebut :mrgreen:. Gochisousama!



Exclusive Dinner…
7 March 2009, 12:13 pm
Filed under: Food Court, Review & Hearing

Ternyata oh ternyata, terus-menerus larut dalam kesedihan setelah dikhianati orang menjadikan Saya jadi bosan dan kelaparan. Dan lantaran variasi makan malam alias dinner Saya juga kelewat minim, maka kali ini Saya ingin makan enak ~ sesekali sahaja, tanpa mempedulikan harganya. Kebetulan kemarin teman Saya ada yang merekomendasikan toko yang bersih dan rapih, yang menjual Pempek Palembang ~ satu-satunya makanan favorit Saya. God bless people who can ‘feed’ someone else with yummy lite-food like Pempek.

Beneran, tokonya bersih dan rapih. Bahkan, saking bersihnya, Saya sampai berpikiran bahwasanya Saya tidak pantas masuk ke toko itu :mrgreen: Dan lantaran dikuasai nafsu, Saya langsung memesan Pempek kapal selam, dua biji sekalian! Saya juga ditawarin nasi. Hmmm… setau Saya nggak ada yang namanya Pempek dimakan bareng sama nasi. Jakarta itu lucu! Soalnya di daerah Palembang, Pempek disajikan cuma sama cuka, tanpa nasi. Paling banter paling dikasih mie. Tapi ya sudahlah. Daripada nanti tidak berasa kenyang, Saya mengangguk sepakat. Nasi pun masuk hitungan, bersama dengan addendum berupa mie dan Fr**tea rasa lemon.

Dan inilah skrinsut Pempek Palembang. Itadakimasu!*

Pempek Palembang

Pempek Palembang

Sambil mengunyah Pempek, Saya iseng membaca nota pembelian sambil mencocokkan dengan isi bungkus stereofoam yang sedang Saya ‘garap’. Lhah?! Koq mie-nya nggak ada? 😯 Padahal di nota, uang yang Saya bayarkan sudah termasuk mie. Dan meski itu bungkus Pempek Saya bongkar paksa dan Saya bolak-balik, ternyata mie-nya tetep enggak ada 😥 Yah, sudahlah… acara makan-makan pun tetap Saya lanjutkan hingga isi bungkus stereofoam itu tandas…

Gochisousama!*

Setelah selesai melahap dua biji kapal selam, Saya tenggak Fr**tea rasa lemon. Hmmhh… 250ml minuman sintetis berasa lemon campur 300ml cuka…  😦

P.S
Itadakimasu‘ merupakan ucapan ‘selamat makan!’. Sementara ‘Gochisousama‘ kurang lebih bermakna ‘thanks for the meal!’. Biasanya diucapkan setelah selesai makan