Death for Crime, Hail Justice!


Let Your Mind Go For A Walk …
16 April 2009, 10:45 pm
Filed under: Personal Case

a-cup-of-milo

Sesekali Saya ingin menikmati waktu yang terhenti, dan menghanyutkan akal fikiran Saya, larut dalam pusaran pemikiran dan pengandaian, dan menjelajah alam perenungan untuk kembali menakar antara yang salah dan yang benar, demi meretas dalil untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil… dan memekarkan kembali daya nalar Saya yang mulai terjungkir balik, dan demi membetulkan lagi rasio yang kadang melorot sampai dengkul tatkala emosi dan nafsu bertahta dan menjadikan mata hati menjadi buta. Maka bersama kepulan asap tipis dari cangkir yang sedang Saya tatap lekat-lekat, Saya mencoba merunut kembali setiap pertanyaan;

Mengenai bagaimana semuanya berawal, dan bagaimana nantinya semuanya akan berakhir; dalam even yaumul qiyamah, dimana kemajuan teknologi manusia akan menemui batasnya, dan dinamika kehidupan akan menemui ajalnya, dimana katastrofi yang disurahkan dalam kitab suci, testamen, atau ramalan nostradamus akan menjadi nyata dan jauh lebih dahsyat ketimbang apa yang ada dalam imajinasi manusia…

Mengenai asal muasal, dan bagaimana tiga tokoh yang Saya kagumi; Emha Ainun Najib, Sujiwo Tedjo dan Andrea Hirata memulai karirnya dari bawah, hingga sekarang masing-masing dari mereka mencapai jenjang tertinggi dalam karirnya; Emha Ainun Najib yang kini begitu tenar sebagai budayawan sekaligus pentolan Kiyai Kanjeng yang tersohor hingga pelosok dengan maiyahnya, atau bagaimana Sujiwo Tedjo kini terlihat sebagai seniman jenius, yang bisa mengarang lirik lagu yang berpendar-pendar indahnya laksana sajak beribu puisi sekaligus melontarkan kritik-kiritik sosial yang tajam mengena, dan bagaimana Andrea Hirata menjadi pujangga, thesaurus hidup, yang sungguh sangat terampil dalam hal diksi atau pemilihan kata…

Mengenai lelaki yang terlalu mengedepankan ototnya sembari mengesampingkan otaknya, dan bapak yang tidak becus menjalankan fungsinya, mengenai perempuan yang lupa akan kodratnya, dan ibu yang tidak kompeten menjalankan perannya, mengenai remaja dan anak-anak belum cukup umur namun begitu terampil dan terlatih menikmati pornografi dan seks, mengenai anak-anak yang terlanjur dewasa sebelum saatnya, mengenai anak yang tidak tahu cara berbakti, dan orang-orang lanjut usia yang tidak faham cara menjemput mati…

Mengenai hidup dan kehidupan, laa tahzan wa laa tayasu… bahwa hidup janganlah diratapi dengan kesedihan, atau disikapi dengan keputus-asaan bahkan ketika Saya mulai kesulitan membedakan antara azab, hukuman, cobaan atau ujian. Atau ketika Saya mulai sadar bahwa semua menuntut kesempurnaan yang tidak Saya punya, atau ketika roda kehidupan Saya mandeg dengan menjepit segala harapan dan impian Saya di posisi paling bawah ~ berkubang dalam lumpur seolah memaksa Saya untuk berhenti… berjelaga sambil menyaksikan asa yang ditelan bara dalam tungku kehidupan yang menyala-nyala…

Mengenai wadah berupa jasad yang mengekang dan tak muat lagi bagi pola pikir yang kian berkembang; mencecarkan ide dan pemikiran, mulai dari yang laknat hingga yang berderajat, lalu imajinasi Saya kian melebar, sebelum tertumbuk pada analogi bahwa kuda diberi kacamata hanya agar dia terus berjalan lurus, dan cambuklah yang diderakan padanya ketika dia mulai berjalan melenceng, oleng keluar jalur… tentu sahaja, ini semuanya adalah tentang batas kemampuan manusia yang telah ditakar sedemikian sempurnanya oleh Yang Maha Sempurna…

Mengenai batas-batas yang bisa didobrak atas nama emansipasi, ekspresi diri dan kemajuan zaman, dan batas yang haram dilanggar dengan dalih argumen macam apapun! Atau mengenai jeruji yang melindungi namun kita anggap menghalangi, semua hanya karena konsepsi dan persepsi yang prematur, pemikiran dan cara pandang dari sudut-sudut sempit yang selalu sahaja membuat kita berpikiran negatif dan pesimis…

Hingga akhirnya diujung perenungan, Saya mulai sedikit memahami soal hidup, soal kehidupan, sebab musabab dan hukum sebab akibat dan segala tetek bengeknya, soal bahwasanya Tuhan sudah teramat sabar dan Maha Baik bagi kita yang durhaka, mengacuhkan keberadaan Tuhan tatkala sedang bersuka cita, dan hanya berkeluh kesah ~ memohon dengan tangan tengadah seolah menggapai langit ketika ditimpa kesusahan… bahwa Tuhan melindungi kita dari segala bencana dan bala, dan bahwasanya Tuhan menderakan berbagai rupa dan jenis hukuman untuk meringankan beban dan dosa kita agar tidak bertumpuk-tumpuk, atau memberikan cobaan untuk mengangkat derajat kita yang kelewat hina, atau kesialan yang terus-menerus menimpa kita sesungguhnya adalah mediasi agar ketika kita mendapat keberuntungan, kita akan dengan cerdas mensyukurinya… Demi Tuhanku Yang Maha Sempurna, maka semoga diluruskannya jalan Saya, jalan Anda dan jalan kita semua, dan diterang benderangkan tapak demi tapak titian yang kita lalui…

__________________________
Footer:
Judul postingan ini menyuplik slogan yang diusung salah satu produk rokok

Let Your Mind Go For A Walk, buat Saya berarti momen buat merenung dan melamun, menikmati segelas milo panas di salah satu resto di Matraman, duduk sendirian dihibur oleh Love Thing-nya Joe Satriani :mrgreen:

Sebenarnya banyak koq beberapa hal yang sering Saya pertanyakan. Misalnya saja kapabilitas dan kapasitas Saya dalam menjalankan peran Saya sebagai manusia biasa, mahluk individu sekaligus mahluk sosial, hingga soal solusi yang Saya pilih ketika Saya harus memecahkan suatu kasus/permasalahan. Atau mengenai bagaimana kompetisi idola cilik tapi yang dinyanyikan adalah lagu-lagu tema cinta remaja/dewasa, atau bagaimana para ibu-ibu yang mengikuti kompetisi menyanyi langsung down ketika menerima kritik ~ yang Saya anggap sedikit kontradiksi dengan niatan mereka menjadi idola yang sudah pasti kudu tahan digoyang kritik, hingga masalah atap jembatan penyeberangan halte busway yang bolong-bolong, seolah hilang tertiup angin…



FELT HANDYCRAFT IS A STATE OF AN ART
13 April 2009, 9:51 pm
Filed under: Review & Hearing

felt-bear-and-rabbit
felt-blue-whale
felt-pouch

Souvenir pernikahan bersifat fakultatif ~ boleh ada, boleh tidak. Namun, bagi sebahagian orang, souvenir pernikahan mutlak adanya. Dan dari belasan hingga puluhan akad nikah, prosesi kawinan dari kawan, kerabat, hingga rekanan, Saya sudah menerima berbagai macam jenis souvenir pernikahan. Mulai dari lonceng sapi, berbagai jenis tembikar mini bercat warna-warni, setangkai bunga palsu, cermin kecil yang sangking kecilnya hanya sanggup memuat sebiji mata Kita sahaja tatkala kita hendak bercermin, hingga gantungan kunci bergambar wajah kawan Saya bersama pasangannya. Sepertinya kawan Saya tersebut mengidap sakit gila nomer 62 : keranjingan menebar foto diri dimana-mana laiknya caleg… :mrgreen:

Beberapa fihak terlalu menyederhanakan atau meremehkan posisi souvenir pernikahan, sehingga tak jarang beberapa souvenir pernikahan tidak berdaya guna, hanya menjadi sampah yang kadang dibuang seiring dengan berakhirnya prosesi sakral akad nikah atau resepsi pernikahan. Padahal, pengadaan souvenir tersebut tentunya juga memakan biaya.

Ialah gantungan kunci atau segala rupa souvenir kawinan itu hendaknya didisain sedemikian rupa, sehingga dia berdaya guna, dan setiap orang bersuka cita memakai dan memanfaatkannya kembali. Dan kakak Saya memberikan solusi atas hal ini.

Terinspirasi oleh Emi Risna Emawati dan Linawati, kakak Saya membuat kerajinan tangan dari kain felt, menghasilkan berupa-rupa benda-benda imut, mulai dari dompet, pouch atau kantung HP, gantungan kunci hingga pembatas buku. Awal mulanya, desain dan warnanya diambil berdasarkan desain dalam buku-bukunya Emi dan Lina, selanjutnya kakak Saya memodifikasi ukuran, warna hingga, berlanjut ke fungsi dan detail. Selanjutnya, kakak Saya mulai berkreasi dengan desain dari cover novel hingga desain-desain sesuai keinginan pemesan. Rasanya Saya juga pengin memesan gantungan kunci ukuran raksasa berbentuk Kon*… 😉

Jadi sekarang Saya tidak perlu pusing dan bingung seandainya Saya membutuhkan souvenir kawinan. Dan pernak-pernik unik berbahan kain felt atau flannel seperti ini tentunya bisa dipakai lagi, lepas dari kedudukannya semula yang berstatus souvenir kawinan.

__________________________
Footer :
Beberapa buku karangan Emi antara lain yaitu Pernak-Pernik Unik dari Kain Felt, Aksesoris dan Perlengkapan Anak dari Kain Felt, Boneka Mungil dari Kain Felt, dan Kreasi Tokoh Fantasi Anak dari Kain Felt. Sebenarnya masih ada beberapa judul buku lain terkait kerajinan tangan berbahan dasar kain felt/flannel ini. Akan tetapi, Saya secara pribadi berpendapat bahwa Emi dan Lina memiliki taste tersendiri yang terbilang menonjol dalam aspek desain yang imut dan menarik

*Kon adalah karakter boneka singa dalam manga BLEACH hasil karya Kubo Tite.



Book Review : BAKUMAN #1
6 April 2009, 9:13 pm
Filed under: Review & Hearing

BAKUMAN scan

BAKUMAN photo 

Moritaka Mashiro, seorang murid SMU yang memiliki bakat menggambar diam-diam menyukai Miho Azuki, teman sekelasnya yang cantik dan pemalu. Mashiro suka menggambar sketsa Azuki di buku catatannya. Suatu hari, Mashiro lupa membawa buku catatannya pulang. Ketika dia kembali ke kelas untuk mengambil bukunya yang ketinggalan, ternyata bukunya sudah dipegang oleh teman sekelasnya; Akito Takagi ~ yang memiliki bakat mengarang. Setelah melihat kemampuan menggambar Mashiro, Akito mengajak Mashiro untuk berkolaborasi menjadi manga-ka. Tentu saja, Mashiro menolak mentah-mentah usulan Akito.

Mashiro kelabakan ketika menerima telpon dari Akito, yang berkata bahwa dia akan pergi ke rumah Azuki untuk mengatakan bahwa Mashiro menyukainya. Mashiro mendapati Akito di depan rumah Azuki. Ketika Azuki keluar menemui mereka, Akito mengatakan padanya bahwa dia dan Mashiro akan berjuang bersama menjadi manga-ka. Mashiro terkejut ketika mengetahui bahwa Azuki sebenarnya ingin menjadi seiyuu. Mashiro pun nekat ‘menembak’ Azuki. Azuki bersedia menerima Mashiro, bahkan berjanji untuk mau menikah dengannya asalkan Mashiro dan Akito sudah berhasil mewujudkan mimpi mereka membuat manga. Sebelum mimpi mereka kesampaian, Azuki mengajukan syarat mereka tidak akan saling bertemu dulu. Akankah Mashiro dan Akito berhasil mewujudkan mimpi mereka?

BAKUMAN merupakan hasil karya Obata ‘Ken’ Takeshi (manga-ka) bekerjasama dengan Ohba Tsugumi (writer), setelah sebelumnya kolaborasi mereka menghasilkan manga yang meledak di pasaran; Death Note. BAKUMAN bisa dibilang merupakan hasil karya Ohba yang keluar pakem, karena Ohba lebih terkenal dengan karya-karyanya yang bernuansa kelam, misterius dan sedikit gothic, yang dimunculkan dalam dua karya sebelumnya, GOTH dan Death Note. Kali ini, Ohba menggarap karya bergenre roman dengan sedikit bumbu komedi.

BAKUMAN telah diterbitkan oleh beberapa penerbit, antara lain yaitu Daiwon CI (Korea), Tong Li (China) dan Shueisha (Jepang). Manga yang Saya peroleh sendiri merupakan edisi Jepang, yang diterbitkan oleh Shueisha a/n JUMP COMICS. Chapter pertama manga BAKUMAN diterbitkan dalam majalah Weekly Shonen Jump edisi Agustus 2008, sementara tankoubon alias manga jilid pertama diterbitkan pada Januari 2009.

__________________________
Footer :
Obata Takeshi sebenarnya memiliki gaya gambar yang sedikit berubah-ubah, dan kadang malah menjadikan hasil karyanya inkonsisten. Dalam manga Karakurizoshi Ayatsuri Sakon, Obata Takeshi yang bekerja sama bersama penulis Sharaku Marou memiliki gaya gambar menyerupai gaya gambar pada edisi-edisi awal Hikaru no Go. Sekitar pertengahan cerita dari total 23 jilid manga Hikaru no Go (bekerja sama bersama Yumi Hotta), gaya gambar Obata Takeshi berubah, lebih detil, lebih bagus. Gaya gambar ini masih dipakai untuk manga Death Note, hasil kerjasama Obata Takeshi bersama Ohba Tsugumi ~ pengarang dari GOTH, yang ilustrasinya digarap oleh Kenji Ooiwa (manga-ka NHK ni Youkoso!), sehingga tidak mengherankan apabila karakter Light Yagami (Death Note) memiliki sedikit kemiripan dengan karakter Shin’ichi Izumi di edisi pertengahan hingga akhir manga Hikaru no Go, sementara Mikami Teru sedikit mirip dengan Ko Youn-Ha.
Berikutnya, Obata Takeshi berkolaborasi bersama Tsuneo Takano, menggarap manga berjudul Blue Dragon Ral & Grad. Dalam manga Blue Dragon ini, Obata Takeshi merubah lagi gaya gambarnya. Dan gaya gambar inilah yang dipakai dalam manga BAKUMAN. Obata Takeshi juga dikenal akan kemampuannya menggambar secara luar biasa detail, dan sering menggambar karakternya mengenakan pakaian-pakaian yang modis.

Selain manga BAKUMAN, seluk-beluk mengenai pembuatan manga bisa Anda simak juga dalam manga Comic Bomber (Shimamoto Kazuhiko), Genshiken (Kio Shimoku), atau Comic Party (Sekihiko Inui). Comic Bomber memang mengisahkan perjuangan manga-ka Moyuru Hono bersama para assistennya membuat manga, sementara Genshiken lebih mengisahkan perjuangan Sasahara Kanji dan teman-temannya berjuang membuat doujinshi. Pun demikian pula dengan manga Comic Party, yang mengisahkan perjuangan Kazuki Sendo membuat doujinshi untuk selanjutnya dijual dalam event Comic Party atau sering disingkat ComiPa.



WORK HARD PLAY HARD!
2 April 2009, 11:01 pm
Filed under: Judge! Judge! Judge!, Personal Case

whph

SHALL WE PLAY?
Usia seperempat abad bukanlah halangan bagi Saya untuk tetap bermain. Bersenang-senang dan mencari hiburan bagi Saya adalah upaya logis untuk memelihara keseimbangan dan stabilitas pikiran, dan demi menjaga keselarasan serta keharmonisan sinkronisasi belahan otak kiri dan kanan. Saya bisa bersenang-senang dengan bermain notebook seharian, memainkan game macam Mirror’s Edge dan FIFA 09 yang mencekik kinerja graphic accelerator yang shared, membaca novel sembari membuka-buka kamus inggris, image training guitar sambil bayangin bahwa video Saya bakal nyempil diantara kompilasi video-videonya Jerry C, funtwo [Jeong-Hyun Lim], Learz [Hackologue] dan Matt Rach ~ memainkan Canon in D yang nge-rock habis keluar pakem, atau berlama-lama di toko buku ~ hilir mudik mirip setrikaan ~ bingung menyesuaikan daftar belanja dengan keseimbangan neraca finansial yang sedang kolaps.

Singkatnya, Anda dibebaskan, diperbolehkan, diizinkan dan dihalalkan untuk melakukan segala sesuatu hal yang menurut Anda menghibur dan menyenangkan ~ asalkan tiada melanggar norma-norma sosial dan agama, tanpa mempedulikan jikalau nantinya khalayak ramai bakal menganggap Anda gila. Toh, batas antara waras dan gila itu samar dan tidak pernah jelas, hanya dibatasi oleh hijab tipis; tabir inkonsisten berupa perbedaan konsepsi, persepsi atau cara pandang.

Kerja keras itu kudu, belajar itu harus, mengerjakan assignment dari dosen juga wajib, bahkan mengepel lantai kamar itu juga perlu :roll:. Tapi, terus-terusan beraktivitas serius dan memaksa otak untuk terus-menerus bekerja bakal membuat sistem operasi yang terpasang dalam otak kita mengalami gangguan; sejenis hang, not responding, dan lain sebangsanya, yang intinya adalah membuat kita tidak bisa lagi berfikir jernih karena otak yang terlalu terbebani. Maka dari itu, dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwasanya bermain dan bersenang-senang itu perlu. Soo, shall we play?

PLAY CHEAP!
Hiburan dan bersenang-senang yang murah? Saya sering menyempatkan diri menyimak acara manajemen keuangan yang dibawakan oleh seorang Wealth Planner muda; Aidil Akbar*. Dengan sedikit modifikasi dan salah faham, Saya berhasil menyarikan rumus derivatif manajemen finansial bagi lajang tanpa tanggungan seperti Saya; yaitu :
Dana darurat : 3x gaji/penghasilan
Senang-senang : 25% gaji/penghasilan
Living cost : 45% gaji/penghasilan
Investasi/saving : 30% gaji/penghasilan

Saya memiliki dana maksimal sebesar 25% dari pendapatan Saya buat bersenang-senang. Lebih dari itu? Haram, mungkin? Bersenang-senang terkadang memang butuh biaya besar, akan tetapi, kita juga kudu membatasi diri agar tidak kebablasan dalam bersenang-senang. Rumusan persentase diatas, tidak selalu berlaku mutlak. Anda bisa mereduksi persentase untuk bersenang-senang ~ menjadi 10% misalnya ~ apabila Anda sedang memiliki suatu kebutuhan yang menuntut dana lebih. Tak selalu bersenang-senang itu menghabiskan banyak biaya, tinggal bagaimana kelihaiyan Anda mengakalinya. So, I say; play cheap!

Saya tidak tahu-menahu apakah hal-hal berikut bakal efektif berlaku buat Anda, tapi Anda bisa mencoba melakukan beberapa hal berikut ketika kondisi finansial Anda lagi menunjukkan gejala tidak sehat;
(1) membaca buku/novel yang Anda beli pada saat Anda masih berlimpah dana :mrgreen:
(2) membaca LAGI buku/novel yang Anda beli pada saat Anda masih berlimpah dana :mrgreen: 😆
(3) membuat review dari buku/novel yang sudah Anda baca *quite entertaining… trust me, it works!*
(4) memainkan game seharian penuh 😆 *it’s time to play Mirror’s Edge!* 😉
(5) pergi ke rumah teman, dan menghabiskan waktu seharian buat main PS :mrgreen: *memainkan game macam Winning Eleven New Generation 09 pun bisa sangat menghibur*
(6) main internet seharian… err, ini biayanya mahal yah? 😕

LETS PLAY HARD!
Anda merasa stress, under pressure atau berada di ambang batas kewarasan? Ataukah Anda mulai merasa bahwa atasan Anda membenci Anda, dosen Anda sejak awal semester terlihat berniat memberi Anda nilai D, atau semua orang bersekongkol mengusung satu konspirasi sadis untuk memojokkan Anda? Itu berarti Anda butuh hiburan dan beberapa butir aspirin. Bersenang-senang jadi harga mati buat menjaga Anda agar tidak divonis gila ~ atau minimal dituduh mengidap skizofrenia. Caranya? Anda sendirilah yang paling tahu hiburan yang paling pas buat Anda. In fact, blogging pun bisa dijadikan alternatif pilihan.

__________________________
Footer:
Judul postingan ini mencatut dari salah satu program tivi O-Channel yang berjudul Work Hard Play Hard.

Aidil Akbar adalah seorang Wealth Planner yang tenar membawakan acara manajemen finansial bertajuk Perfect Num8ers di O-Channel. Aidil Akbar selaku nara sumber dalam acara ini didampingi oleh Charles Bonar Sirait sebagai moderator.



Book Review : Coraline
28 March 2009, 9:40 am
Filed under: Review & Hearing

brev_coraline_001

brev_coraline_002

Coraline Jones suka menjelajah. Lantaran bosan, Coraline memutuskan untuk menjelajah flat baru tempat mereka tinggal. Ada 21 jendela dan 14 pintu dalam flat tersebut. Dari 14 pintu itu, ada satu pintu yang dikunci. Coraline menanyakan perihal pintu terkunci tersebut kepada ibunya. Mrs. Jones, mengambil kunci dan membuka pintu tersebut. Pintu tersebut adalah jalan buntu, karena dibaliknya hanya ada tembok bata.

Ketika ayah dan ibunya pergi, Coraline mengambil kunci, dan membuka lagi pintu ke-14. Tembok batanya tidak ada, dan memang seolah tidak pernah ada ~ berganti menjadi suatu lorong gelap yang membawanya menuju flat lain. Coraline menemukan flat yang ditinggalinya ~ sama persis, namun dengan warna dan nuansa yang jauh lebih menyenangkan. Coraline suka dengan masakan ibu dan ayahnya yang ada di flat tersebut; ayah dan ibu yang lain, yang matanya berupa kancing baju.

Ayah dan ibu Coraline tersebut tidak mau membiarkan Coraline kembali pulang. Mereka ingin Coraline tetap tinggal bersama mereka selamanya, yaitu dengan cara menjahitkan kancing baju di kedua mata Coraline! Coraline bersikeras ingin pulang ke flat aslinya, tempat ibu dan ayah sesungguhnya tinggal. Namun ibunya yang bermata kancing, dan semakin terlihat putih, tinggi, dan menyeramkan, tidak membiarkan Coraline pulang. Apa yang harus dilakukan Coraline untuk bisa pulang? Terlebih lagi, karena dianggap nakal, Coraline dikurung di dalam ruang gelap di belakang cermin, bersama beberapa anak-anak lain yang sudah sangat lama dipenjara dalam cermin tersebut…

Coraline merupakan hasil karya Neil Gaiman, penulis asal Inggris yang bermukim di Amerika. Gaya bercerita Gaiman, mengingatkan Saya akan gaya bercerita Astrid Lindgren, Hans Christian Andersen ataupun Enid Blyton. Namun, sajian misterinya mengingatkan Saya akan serial TV The Twillight Zone*, yang misterinya begitu mencekam. Gaiman juga membawakan kisah menegangkan secara menarik, selevel dengan kekaguman Saya akan serial ‘Fear Street‘ hasil karya Robert Lawrence Stine, sang maestro horror dan thriller.

Secara pribadi, Saya menilai Coraline adalah buku yang sangat menarik, baik dari segi isi maupun gaya penceriteraannya. Gaiman menyajikan kisah thriller misteri secara ringan, namun tetap menegangkan karena kita dipaksa berimajinasi mengenai kejadian-kejadian yang mencekam. Coraline diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama setebal 231 halaman. Cetakan pertamanya rilis pada bulan November 2004, dan cetakan keduanya menyusul pada April 2005.

__________________________
Footer :
Serial TV The Twillight Zone, merupakan hasil karya dari Rod Serling, dan tayang di Amerika pada akhir 1959 hingga pertengahan 1964. Serling mengusung genre yang merupakan kompilasi fiksi ilmiah, horror, fantasi, misteri dan juga drama. The Twillight Zone sempat ditayangkan oleh salah satu stasiun TV tanah air, dan langsung menjadi salah satu acara TV favorit Saya selain That’s 70’s Show.



I Ate Ramen As My Lunch
22 March 2009, 9:36 am
Filed under: Food Court, Judge! Judge! Judge!, Review & Hearing

Sooo I spent my day in Sapporo ramen with my friend. All started with a merely simple question; “Sapporo ramen e ikimasu ka?”. My friend nodded once, and replied; “Sou, ikimashou…“. Jadi sore itu Kami memesan miso ramen, chicken katsu, katsuudon, dan sup shoyu. Minumnya Kami memesan Sencha atau teh hijau Jepang. Itadakimasu!

Miso Ramen
Miso Ramen

Miso ramen disajikan dalam mangkuk yang luar biasa besar, sehingga kuahnya bisa Anda gunakan untuk cuci muka, memelihara ikan koi, atau lokasi shooting Mancing Mania. Bagi Anda yang lidahnya belum terbiasa dengan miso ramen, yang akan Anda rasakan adalah rasa hambar. kuahnya seolah tanpa rasa, mie-nya juga cenderung hambar, pun demikian pula dengan daging asapnya. Satu-satunya sumber rasa gurih dalam miso ramen adalah rumput lautnya. Sebenarnya di meja juga sudah dipersiapkan bumbu tambahan seperti garam dan merica sih. Hanya saja, Saya ingin menikmati (lagi) miso ramen dengan rasa orijinal.

Chicken Katsu
Chicken Katsu
Katsuudon
Katsuudon

Chicken katsu, mungkin hampir sama dengan steak. Irisan daging gurih dan empuk, dibumbui dengan takaran yang pas. Menyajikan citarasa daging yang berkelas, dengan bumbu yang menyerupai kecap, namun dengan tambahan rasa seolah menyerupai jahe. Irisan daging chicken katsu yang tidak terlalu besar atupun kecil memudahkan Kita untuk menjepitnya dengan sumpit. Dipadu dengan irisan kentang dan limun, menjadikan chicken katsu ini lebih berasa ketimbang steak. Katsuudon kurang lebih sama dengan katsu biasa, hanya saja dikasih tambahan berupa sayur, rumput laut, dan nasi.

Sup Shoyu
Sup Shoyu

Sup shoyu dihadirkan sebagai pelengkap. ‘desert‘, begitu teman Saya mengasumsikan sup dengan rumput laut tersebut. Sup shoyu ini disajikan dalam mangkuk kecil, dan didominasi oleh kuah bening. 70% kuah, 30% isi ~ mirip dengan komposisi air-darat di bumi :mrgreen:

Sencha atau teh hijau Jepang disajikan hangat. Rasanya sebenarnya sama dengan teh biasa, hanya saja ada rasa sedikit masam untuk sencha ini. Sebenarnya waktu itu bisa saja Kami memesan teh tawar hangat biasa. Akan tetapi, istilah “sencha = teh jepang” ini terdengar lebih mentereng dan classy! *walah! Sepertinya Saya terkena krisis kebanggaan terhadap produk dalam negri! :P*

Apakah semua hidangan tersebut benar-benar terasa nikmat di lidah Saya? Bisa Saya bilang begitu. Terlebih lagi karena pada akhirnya teman Saya lah yang menanggung biaya makan siang jelang sore di bawah rintik hujan tersebut :mrgreen:. Gochisousama!



RHOMA IRAMA…
14 March 2009, 9:37 am
Filed under: Judge! Judge! Judge!, Music of the Court

Adalah Bang Haji Rhoma Irama itu pada jaman keemasannya menyerupai Elvis Presley, tenarnya minta ampun. Saya ingat pas masih eS De, nonton filemnya Bang Haji Rhoma Irama sungguh berasa berkelas. Saya lupa alur ceriteranya, atau nilai moral yang ingin disampaikan sang sutradara. Adalah satu-satunya yang Saya ingat dari filem-filemnya Bang Haji Rhoma Irama yaitu seorang pemuda yang ribut sama bapaknya, lalu diusirlah dia, kesana-kemari memanggul gitar, genjrang-genjreng nggak jelas sambil menahan rindu pada kekasih hatinya, lalu ‘bak-bik-buk‘ berkelahi sok macho melawan beberapa pengecut bercelana cutbray sekaligus dalam satu waktu. Dan lagi, pas Saya nonton filem itu kesan yang Saya tangkap adalah filem yang gambarnya kadang kotor saking tuanya, muncul efek bergaris. Mirip dengan filem rekaman di jaman perang kemerdekaan. :mrgreen: TERLALU!!

Rhoma Irama telah membawa musik dangdut ke level atas

Selain menyanyikan lagu dengan suaranya yang syahdu mendayu-dayu, diiringi permainan gitar dari grup beberapa gitaris sekaligus, rambut keriting Bang Haji Rhoma Irama juga jadi simbol tersendiri. Sama tenar meski beda jalur terkait dengan rambut keriting, ialah God Bless dengan Ahmad Albar-nya, berteriak dengan jakun naik-turun menyanyikan lagu berjudul ‘Menjilat Matahari‘, atau berduet dengan Ucok Harahap (berjuluk Duo Kribo) menyanyikan lagu ‘Neraka Jahanam‘. Sepertinya jaman itu rambut kribo lagi tenar… 😛

Berikut adalah beberapa lagu-nya Bang Haji Rhoma Irama yang hilir-mudik dalam playlist musik Saya;

Wahai Pesona 3:43
Dengerin lagu ini langsung mengingatkan Saya akan filem-filem India alias Bollywood. Sambil bayangin Sakhrukh Khan atau Salman Khan yang berbodi macho menari gedal-gedol sambil bernyanyi, diiringi aksi Aishwara Ray atau Katrina Kaif joged geyang-geyong pamer puser dan perut yang aduhay, sambil melantunkan suara kecil dan nyaring mereka.
Jah, begitu dahsyat duet maut Bang Haji Rhoma Irama dengan LATAMANGESKAR, sampai rasanya bulu kuduk Saya juga ikutan bergoyang…

Judi 5:04
“Uang judi najis tiada berkah”, begitulah penggalan lirik lagu yang satu ini. Lagu satu ini juga diiringi dengan permainan gitar yang menarik, yang membuat siapapun pendengarnya pengin mengangkat gitar seiring dengan teriakan “Judi!”. Ah, Bang Haji… Efek lirik lagu ternyata belumlah cukup jitu, lantaran ~ siapa tahu ~ lagu ini juga didengarkan di arena judi togel…

Terajana 3:11
Intronya benar-benar asik minta ampun! Khas Bang Haji Rhoma Irama banget. Stimulus goyang lutut yang dahsyat, sangat manjur buat menyemangati jikalau semangat Kita kendor tatkala mengayuh becak. Terajanaaa, Terajanaaa… ini lagunya… dari India…

Syahdu 6:33
Kembali ke genre lagu sendu mendayu-dayu, lagu ini adalah salah satu lagu favorit Saya, yang entah muncul di filem Bang Haji yang mana Saya enggak tau. Dan apa yang diungkapkan oleh Bang Haji dalam lirik lagunya adalah benar apa adanya, apabila anda sedang dirundung asmara, maka satu hari tiada jumpa, hati terasa rindu sendu…

Begadang 3:15
Nasihat lagi-lagi mengisi lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama. Bahwasanya terlalu banyak begadang bikin muka pucat karena darah berkurang, dan sering kena angin malam bikin segala jenis penyakit jadi mudah datang. Duhai Bang Haji Rhoma Irama, semoga lirik lagu ini tidak menyinggung perasaan security atau penjaga warnet yang kejatuhan jatah shift malam…

Bujangan 4:13
Kata Bang Rhoma, bujangan hanya punya teman berupa bantal dan guling sahaja, dan gejala bujang akut adalah mata melotot fikiran melayang. Duhai, Bang Haji Rhoma. Buat Saya, itu lebih mirip gejala kejang otot ketimbang indikasi bujangan… 😆

Stress 4:59
Bang Haji Rhoma Irama menggambarkan kondisi pada saat itu dengan penggalan liriknya; “BANYAK ORANG YANG STRESS!”. Tentu saja, itu dulu… sebab, kalau lagu beliaunya rilis sekarang, penggalan liriknya bakal berubah menjadi “BANYAK BANGET ORANG YANG STRESS!”.

Begitulah, lagu-lagunya Bang Haji Rhoma Irama belakangan mengisi ruang dengar Saya, yang sedang berlabuh pada irama dangdut setelah kecapekan lantaran sekian lama teriak-teriak ikutan Serj Tankian (System of A Down), Chester Bennington (LINKIN PARK), Gerrard Way (My Chemical Romance) atau malah Hiroshi Kyono (Wagdug Futuristic Unity) nyanyi…

God bless Bang Haji Rhoma Irama, and God bless those who like to listening to his songs… :mrgreen: