Death for Crime, Hail Justice!


This Is How I Disappear…
31 May 2009, 3:19 pm
Filed under: Personal Case

To un-explain the unforgivable…
Tak terasa, Saya sudah sampai di ujung jalan, yang tak pernah Saya bayangkan akan datang secepat ini. 3 bulan sudah Saya mengalokasikan segala minat dan kertarikan Saya akan blogging, seolah berbagai urusan yang lain menjadi prioritas nomer urut seratus sekian. Dalam waktu yang mengalir lambat, Saya seolah menikmati detik demi detiknya, menit-menitnya, jam, hari, minggu dan bulan yang menyadarkan Saya bahwa hati berbahasa, dan bahasa itu sendiri berirama.

Dalam waktu yang singkat itu, Saya mendapati pula sahabat, yang mau menerima Saya meski tak mengenal Saya sepenuhnya. Mohon maaf, sekiranya Saya tidak menjelaskan apa-apa, namun sungguh beribu ucapan terimakasih Saya takkan cukup untuk membalas kesediaan mereka untuk menjadikan Saya sebagai sahabat.

…And now, you wanna see how far down I can sink?
Apa-apa yang mengambang, pastinya akan tenggelam. Dan kiranya sekarang Saya pun tak mampu menolong biduk Saya sendiri yang mulai limbung menuju karam, tenggelam dalam palung yang paling dalam. Dan tidakkah kalian melihatnya? Kepicikan hati, dan mata Saya yang memepat oleh iri dan dengki membutakan mata, tak mampu lagi Saya melihat kebocoran yang menenggelamkan rasa.

Saya merasa, bahwa tulisan-tulisan Saya belakangan tak lebih dari deretan kata-kata yang tidak menemukan mata untuk menterjemahkannya menjadi bahasa. Dan otak Saya sudah kesulitan merubah fikiran-fikiran menjadi baris demi baris kalimat. Bait-bait kata itu pun menjadi tak sempurna dan tak bisa dibaca. Otak Saya macet, fikiran Saya terkunci. Seolah merupakan alamat pertanda bahwa Saya musti berhenti

…And without you is how I disappear
Sekiranya apa-apa yang memiliki awal, pastinya juga memiliki akhir. Maka inilah akhir dari rangkaian kata-kata Saya, yang telah terputus untaiannya. Saya memutuskan untuk berhenti, menghilang secara sempurna, lenyap selamanya dalam arus besar yang memelintir urat nadi Saya, dan memutuskan tali ari-ari antara hati dengan rasa. Namun, itu semua hanyalah rencana, karena semalam, Saya menemukan alasan dan atau dalih untuk kembali lagi, suatu saat nanti, kala ‘rasa’ itu telah kembali…

Saya tidak akan bilang selamat tinggal, melainkan sampai jumpa lagi, kala Saya sudah kembali…



Titi Kala Mangsa (Pada Suatu Ketika)
25 May 2009, 1:43 am
Filed under: Personal Case

srikandi

Arjuna telah sampai lagi di Padang Kurusetra, dimana beribu tahun silam keluarga Pandawa dan Kurawa saling bunuh demi memperebutkan tahta Hastinapura. Dimana Bima bertarung selama 13 hari 13 malam sebelum akhirnya bisa membunuh Jarasanda, dan Abimanyu ~ putra Arjuna yang terlahir dari rahim Subadra ~ menemui ajalnya dalam kematian yang menyayat hati, dijebak secara licik oleh Kurawa.

Beribu tahun yang lalu? Ya, Arjuna telah hidup selama ribuan tahun, akibat kelalaiannya menyantap amrit yang sedianya merupakan santapan untuk Betara Narada. Waktu itu, Arjuna yang sedang berburu di hutan dekat Narayanasrama bersama Srikandi kelelahan, seharian tak menemukan binatang buruan. Sejoli yang kelaparan itu tak sengaja menemukan ceruk, yang di situ tersaji berupa-rupa santapan yang sungguh menggoda. Santapan itu sejatinya merupakan amrit ~ santapan dewa-dewi yang barang siapa memakannya bakal memperoleh hidup abadi. Maka Arjuna dan Srikandi yang secara lancang menyantap amrit tak bisa mati, sempat pula beranak-pinak hingga bisa mendirikan negara sendiri, namun hanya mereka berdua yang berusia lama. Anak cucu cicit dari anak cucu cicitnya, hingga urutan canggah dan debog bosok yang paling akhir telah punah, putus garis keturunannya. Arjuna dan Srikandi tak tersentuh oleh mati, seolah tak ada dalam daftar urut pencabutan nyawa oleh Dewa Yama, sang dewa kematian.

Arjuna baru mengetahui kenyataan bahwa hidup abadi tak berarti bebas dari gerogotan penyakit. Dia yang sudah bernafas selama ribuan tahun, ternyata mengidap kencing manis, kadar gulanya tinggi; setinggi dada orang dewasa. Hidup abadi, ternyata tak memberikan apapun kecuali rasa hampa. Kini, yang dimilikinya hanyalah rasa cintanya kepada sang istri, serta keinginan untuk mati yang menjadi-jadi.

Maka, kali ini di Padang Kurusetra, Arjuna menarik kuat-kuat tali Gandewa ~ busur saktinya, lalu dilepaskannya seolah menembakkan panah ke langit, berkali-kali, hingga bermunculan kilat neon murahan. Maka muncullah Betara Narada di hadapan Arjuna dan Srikandi yang diliputi pengharapan untuk mati.

Arjuna dan Srikandi bertekuk lutut, memberi penghormatan tertinggi kepada Betara Narada.

“Ingsun sudah mengerti isi hatimu, wahai Putra Pandu…”, kata Betara Narada

“Ingsun sudah melanglang buana, merasakan berbagai macam rasa dan warna kehidupan, namun sekiranya segala rupa kenikmatan duniawi kini terasa hambar”, Arjuna membuka beban hatinya, “Pernah pula ingsun berdoa jelek, memohon agar supaya Dewa Syiwa menarikan tarian Rudra untuk meluluh lantakkan dunia dan seisinya, sekalian meremukkan jasad Kami, memutuskan tali silaturahim antara ruh dan badan ~ sehingga Kami bisa mati”

“Tidakkah engkau menginginkan hidup abadi?”, tanya Betara Narada, “Bagaimana jika ingsun jadikan Padang Kurusetra ini seindah nirwana? Sehingga kau berasa tinggal di nirwana, dan tak perlu lagi kau harapkan dirimu untuk mati?”

“Bukankan seindah apapun keimanan seseorang, tidakkah dia tak akan bisa masuk nirwana terkecuali dia harus mati terlebih dulu?”, Arjuna balik bertanya, “Sekiranya dunia dan seisinya ini, segala rupa keindahannya yang paling indah sekalipun tak ada bandingannya dengan keindahan Nirwana…”

Betara Narada tersenyum.

“Sekiranya engkau sudah niat, dan tekadmu sudah bulat, maka ingsun kabulkan permintaan matimu”.

Betara Narada menyerahkan dua bilah anak panah Wajrayudha, satu untuk Arjuna, dan satu untuk Srikandi.

“Saling bunuhlah kalian, wahai dua sejoli yang sudah bosan hidup. Sekiranya Wajrayudha ini ~ yang hanya tersisa ini tanpa bisa kuberikan lagi ~ bahkan sanggup mematahkan kutukan sekalian khasiat amrit yang telah kalian makan… sehingga kalian bisa menggapai nirwana…”

Arjuna dan Srikandi membungkuk penuh hormat ketika menerima si senjata keramat. Keduanya saling pandang, tanpa kata dan tanpa menyadari bahwa Betara Narada menghilang perlahan dalam kegelapan, di pojok yang tak tersiram cahaya.

“Tak pernah terbayangkan olehku, mengarahkan anak panah ke dadamu, duhai Dinda… dengan niatan untuk mematahkan tulang rusukmu, menghancurkan jantung hatimu, sekalian menarik keluar nyawamu…” Arjuna memegang bahu Srikandi, dengan tangan gemetar

“Demikian pula denganku, Kanda”, Srikandi mengangguk, “Yang Dinda tahu bahwasanya Dinda berkewajiban menjaga kehormatan Kanda, dan berbakti kepada Kanda sepanjang umur Dinda bisa direntangkan… Tak pernah terbayangkan Dinda bertindak durhaka, lancang menembakkan anak panah ke jantung hati Kakanda…”

“Kanda mohon, Dinda, tolong tahanlah rasa sakitnya barang sejenak”, Arjuna meratap, “Akan Kanda bebaskan dirimu dari siksa keabadian ini… Sekiranya kini Kita sadar, bahwa hidup dan nyawa kita berharga karena nyawa itu tak terganti, dan hidup hanya sekali”

Srikandi mengangguk pelan. Mereka sudah mencapai mufakat, bahwa mereka bakal saling membebaskan kutukan keabadian masing-masing. Maka Arjuna dan Srikandi saling berjalan menjauh, sebelum membalikkan badan ~ saling berhadapan. Arjuna dan Srikandi mengarahkan mata anak panah Wajrayudha-nya ke pujaan hati masing-masing, sambil melelehkan air mata. Dan seketika itu jari-jemari Srikandi terpeleset. Arjuna dengan mantap melepaskan tarikannya, dua Wajrayudha berlawanan arah melesat cepat. Remuklah dada Srikandi, namun tidak demikian dengan Arjuna. Tembakan Srikandi meleset. Arjuna berdiri dalam diam. Dilihatnya dari kejauhan tubuh kekasih hatinya tersungkur ke tanah. Nyawanya melesat dibawa anak panah maut yang menembus tubuhnya, melesak jauh ke arah nirwana.

Sejurus kemudian, Arjuna tersimpuh dengan air mata berlelehan. Disungkurkannya kepalanya ke tanah, mencurahkan seluruh air matanya hingga kering, seolah ingin menciptakan sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Sambil menjeritkan nama kekasih hatinya. Dibelokkannya ekor matanya, senyum kecil bangga tersungging di ujung tepi bibirnya kala dilihatnya wajah perempuan yang ditaksirnya, terduduk diam di kursi di sebelah bapaknya. Menghayati.

 

Mi’un bertepuk tangan penuh semangat, wajahnya berseri-seri. Menonton pagelaran wayang orang seperti ini, adalah salah satu ritual yang sudah dilakukannya sejak berpuluh tahun silam, namun baru beberapa kali ini dia menjalankannya dengan status sosial yang baru; sebagai orang kaya! Ya, semenjak dia menerima sms pengumuman bahwa dia menerima hadiah uang 30 juta, Mi’un naik kelas sosial, menjadi orang kaya. Uang itu, dia gunakan untuk membeli mobil mewah, dan mendirikan rumah mewah pula, serta untuk menyekolahkan Nurul ~ putri semata wayangnya hingga di bangku kuliah. Kini, dia bisa dengan bangga mengajak Nurul menonton wayang orang dengan menaiki mobil mewah itu, tak perlu lagi bersedih hati atau merasa rendah diri karena mereka kini termasuk golongan masyarakat papan atas.

“Ayo pulang, Nur…”, Mi’un bangkit dari kursinya, “Bengsin mobil kita tadi hampir habis, takutnya kemalaman dan kita kehabisan bahan bakar di jalan”

“Bapak lupa ya? Mobil kita ‘kan masih di bengkel…?”

“Oh! Iya!”, Mi’un menepis dahinya sendiri, “Bapak lupa…”

Senyum jenaka khas Mi’un tersungging di bibirnya, membuat wajah berkulit hitam itu terlihat cerah bak mentari merekah

Nurul tersenyum kecil melihatnya. Melihat bapaknya bahagia, Nurul ikutan bahagia pula

Senyum Nurul perlahan meredup menjadi temaram. Mati-matian Nurul menahan segumpal air mata yang hendak melorot turun dari sudut matanya. Sudah sekian tahun ~ delapan tahun tepatnya ~ Bapaknya menjadi gila gara-gara terlalu lugu dan percaya, bahwa sms hadiah uang itu adalah benar adanya. Omong kosong bahwa duit 30 juta bisa dibagi-bagikan begitu saja, seolah jaman sekarang ini bukan jaman susah, dan duit bisa dipanen dari pohon, atau cukup menggoyangkan batang pohon maka duit berlembar-lembar bakal berguguran.

Nurul ingat betul siang hari delapan tahun lalu, Wak Qosim yang datang mencarinya tergopoh-gopoh di rumah Haji Koharuddin, mengabari kalau bapaknya menjerit-jerit di bank. Ketika Nurul menjelaskan duduk perkaranya, soal sms berisi pengumuman bahwa Mi’un mendapat hadiah 30 juta rupiah, Wak Qosim geleng-geleng kepala.

“Bapakmu sudah jadi gila, Nur”, bilang Wak Qosim yang waktu itu kebetulan sedang berada di bank buat narik duit.

Seketika Nurul menangis, mimpi paling buruk dalam hidupnya, tiba-tiba saja hadir jauh lebih dari nyata. Mi’un, bapak kesayangannya, kehilangan kewarasan hanya karena terlalu lugu, dan terlalu percaya bahwa semua orang itu baik adanya, dan bahwa di dunia yang sudah tua menjelang ajalnya ini, tidak ada yang namanya dusta. Impian dan pengharapan Mi’un yang kelewat besar, serta kenyataan yang melenceng jauh dari impiannya itu terlalu berat, dan mematahkan tonggak batas kewarasan dalam alam fikir Mi’un…

Delapan tahun sudah, Nurul berjuang mati-matian, menggadaikan gengsi masa remaja, tenggelam dalam rutinitas belajar dan membabu, mencari pekerjaan sampingan ~ samping kiri samping kanan. Melamar beasiswa di sana-sini, untuk menyokong kehidupannya yang miskin bersama bapaknya tercinta, sekalian untuk melunasi tagihan perkuliahan. Belum lagi urusan dia dikejar-kejar Sutono, pemain wayang orang pemeran Arjuna yang yaqin seyaqin-yaqinnya bahwasanya hati Nurul telah berada dalam genggamannya. Dunia… begitu banyak hal yang seolah mengajak Nurul untuk ikutan menjadi gila… mungkin nanti, pada suatu ketika…



Renata
17 May 2009, 11:09 pm
Filed under: Personal Case

renata

Dear readers…
Lagi bingung pengen nulis apaan… rasanya mau berhenti nulis, tapi pas chatting sama Jeng Muzda, dia bilang supaya Aku jangan berhenti nulis. Hmmm… kalau begitu Aku mau cerita soal seseorang saja, yang belakangan kelewat rajin memenuhi inbox-ku dengan sms, dan menguras habis batere-ku lantaran terlalu sering nelpon…

WARNING : Mungkin kamu bakal menemukan kenyataan tentang diriku yang diluar pranala-mu ketika membaca tulisan ini!

Namanya Renata, gadis cantik berdagu lancip yang berparas menawan. Tubuhnya langsing, cenderung kurus, tinggi bak model. Jadi ingat pas simulasi persidangan, dia mengenakan jubah jaksa, dan makin cantiklah parasnya, yang membuat lelaki manapun pengin menyembelih dirinya sendiri demi menunjukkan betapa mereka rela mati demi mendapatkan perhatiannya ~ meski cuma satu lirikan berdurasi satu milidetik saja! Sudah jelas, dia adalah idola mahasiswa cowok di kampusku. Oh, satu rahasia; dalam kompetisi cinta ini, Aku adalah pemenangnya. Karena akulah yang bertahta dalam kerajaan cinta dalam bilik hati paling dalam di hati Renata. Namun, karena satu hal tertentu, Kami merahasiakan hubungan Kami, dan membiarkan para lelaki itu saling bunuh demi memperebutkan satu senyum menawan seorang Renata.

Salah satu keunikan dari Renata ialah kecintaannya akan klab sepak bola asal Jerman; Arminia Bielefeld ~ hanya karena ibunya pernah kuliah S-3 bidang lingkungan di salah satu universitas Bielefeld. Renata juga lumayan cakap bermain gitar, dan selalu membanggakan Ibanez Universe 7-String-nya, yang konon merupakan hadiah dari ibunya ~ pengusaha sukses rangkap single parent yang dipanggilnya “Mamih”, lengkap dengan akhiran “H” sehingga terdengar imut. “Miriiiip banget sama Henidar Amroe!”, bangga Renata soal kemolekan Mamih-nya yang begitu persisten melawan sang kala. Renata juga paling demen sama mobil bongsor. Makanya, pas lagi jalan bareng pake Fortuner-nya, Aku biasanya kewalahan kalau sudah disuruh duduk di kemudi (Aku sering salah perhitungan ukuran moncong mobil berukuran besar ketika di parkiran).

Belakangan Kami mulai kesulitan untuk bertemu, mengingat di sela-sela jadwal kuliah S-2, Aku kudu magang di salah satu konsultan hukum. Seharian menekuni daftar kasus-kasus, dan mencocokkan undang-undang apa, bagian berapa, dan pasal nomer berapa yang terkait dengan kasus tersebut. Seharian penuh ekor mataku tertambat pada layar datar berukuran tujuh belas inchi, beralih ke kitab undang-undang beribu halaman, lalu kembali lagi ke LCD, ke kitab lagi, dan kesemuanya itu mengekang kebebasanku lantaran Aku sudah menggadaikan waktu luangku demi kontrak kerja. Belum lagi belakangan Aku kudu mempelajari psikologi, yang kata seniorku, akan sangat membantu memahami kondisi psikologis klien. “Cobalah melihat kondisi klien dari satu sisi yang lain, jangan terpaku menelan bulat-bulat statemen dan kesaksiannya”. Ah, susah amat.

Makin cekaknya intensitas Kami buat ketemuan, komunikasi juga makin renggang. Bahkan, jumlah jerawat yang tumbuh di mukanya pun tak lagi kuketahui (ini hanya perumpamaan, dia sama sekali tidak berjerawat!). Aku tertelan kesibukan, seolah waktuku selama sehari tidak lagi 24 jam. Workaholic kau bilang? Bukan! Aku terjebak dalam lubang cacing, terperangkap dalam cairan ter yang mengawetkanku pada keabadian rutinitas kerja. Dan seperti biasa, Renata yang enggan ikutan magang jadi klayu ~ sering sms dan menelpon tak tahu waktu. Bisa pagi, siang, sore, malam atau dini hari. itulah asal muasal mengapa belakangan Aku sering mengidap insomnia, susah tidur meski Aku sama sekali tidak mengkonsumsi kafein! Aku pun menjadikan sarana chatting sebagai pelarian… mulai dari jam 9 malam, kadang hingga menjelang subuh… Aku pun sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi mahluk nokturnal, mengalami dis-orientasi waktu!

Renata ~ nama baptisnya Josephina, diperolehnya diawal kuliah (S-1), dan dipilih sendiri olehnya. Tapi meski begitu, dia tidak suka memakainya. Kami beda keyakinan, beda agama. Selera musiknya mendayu-dayu meski orangnya cerewet, sementara Aku yang pendiam malah lebih doyan sama classic rock (belakangan ini Aku lagi demen dengerin Dream Theater)… dia piawai memainkan gitar, dan Aku malah jadi autis dengan image training memainkan stick drum demi satu asumsi psikologi bahwa Aku masih bisa mengembangkan kapasitas otak kanan (Aku tidak bisa main gitar! :P)… Singkatnya, sifat Kami kurang-lebih bisa dibilang sangat bertolak belakang.

Lalu Aku ingat-ingat lagi awal hubungan Kami. Bila memang selera Kami bertolak-belakang, lalu apa sih yang menyatukan hati Kami waktu itu? Ah… Aku ingat! Kami sama-sama takut lelaki! Kami benci bau rokoknya, takut ketika mereka mulai menunjukkan gelagat sok berkuasa dengan menegangkan ototnya, meninggikan suaranya. Kami benci matanya yang tak jauh dari menyusuri bagian dada dan paha, cabul pula omongannya. Bahkan Kami takut ketika melihat sekumpulan cowok nongkrong dan mulai menggoda Kami lewat siulan menyebalkan atau kata-kata yang menjurus melecehkan… Kami bergidik ketika teman-teman Kami bercerita soal kekerasan rumah tangga, soal perselingkuhan, dan yang lain sejenisnya. Kami pun pernah menjalin hubungan dengan lelaki, namun berakhir mengenaskan, meluluh-lantakkan segala imajinasi dan mimpi indah Kami soal kisah cinta antara laki dan perempuan.

Plural traumata, atau traumatic neurosis, atau apalah istilahnya, Kami rasa Kami mulai mengidap itu, sehingga Kami mencari sendiri definisi cinta dan berpasangan. Kesepakatan berubah menjadi kepedulian, lalu mengalami metamorfosis, bertransformasi menjadi afeksi. Cinta… itulah cara Kami berdua menyebutnya. Sejak itulah Kami jadi pasangan…

Bingung? Kalian bingung? Selama ini kalian kira Aku lelaki? Bukan, jeng, Aku perempuan. Selama ini Aku hanya menyaru ~ berpura-pura menjadi lelaki, dan menuliskan tulisan-tulisan khas lelaki pula (termasuk salah satu alasan kenapa Aku tidak pernah menyebutkan namaku). Dan soal hubungan sesama jenis, inilah yang membuat Kami merahasiakan hubungan Kami dari teman-teman kampus Kami. Dan hari ini, Aku beberkan ~ sambil berharap tidak ada teman Kami yang membaca tulisan ini…



Doa Berpuisi…
8 May 2009, 12:35 am
Filed under: Personal Case

sketsa

Ingin kucongkel rembulan, dan kusandingkan dengan matahari
Ingin kugoyang langit malam, biar bintang berjatuhan laksana daun berguguran

Ingin kusatukan air dengan api, tanpa ada yang mendidih ataupun padam
Ingin kuciptakan lengkung sempurna pelangi tanpa harus menunggu redanya hujan

Ingin kujanjikan padamu jutaan hal-hal mustahil yang akan kulakukan demi agar dirimu mau mendampingiku, menyaksikan berbagai keajaiban dalam kehidupan yang hanya bisa kau alami bilamana kau bersamaku

Ingin kuhabiskan senyumku untukmu, ingin pula kuhabiskan cintaku untukmu…
Ingin kuhabiskan jatah hidupku bersamamu, dan ingin pula kusempurnakan nilai ibadahku yang hanya separuh bersamamu…

Ingin aku menggenggam hatimu, kan kutuliskan namaku bukan dengan pena, tapi dengan cinta
Ingin aku menyelami samudera hatimu, biar makin kumengerti isi perasaanmu yang paling dalam

Ingin kuperjuangkan semuanya, dan ingin pula kupersembahkan hasilnya hanya untukmu.
Maka tidakkah engkau sudi melihatku barang sejenak untuk ribuan hal-hal yang tlah dan akan kulakukan atas namamu?

Karena jangankan kau minta kudirikan seribu candi, biduk pun akan kusepak ~ menjadi gunung… tidak kunamai Tangkuban Perahu, tapi kunamai dengan namamu!

Lalu kesempurnaan macam apakah yang kau damba begitu lama? Karena kesempurnaan sejati datang manakala insan bisa mencintai dan menerima cacat pasangannya ketimbang memuja kesempurnaan ragawi yang fana…

Dan tidakkah engkau mengerti, bahwa lelaki baru sempurna manakala menemukan wanita yang bakal menjadi pendampingnya?

Teruntuk semua perempuan yang pernah menolak cintaku, perempuan yang pernah aku tolak cintanya, dan perempuan yang akan menjadi pecahan tulang rusukku; penopang kala jalanku mulai timpang, pendukung kala langkahku mulai limbung…

Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan sempurna…
Tuhan memberikan kekurangan dan kelebihan, lalu menyatukannya dengan pasangannya agar saling melengkapi kekurangan itu untuk bisa jadi sempurna…

Maka lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan mimpiku yang paling tinggi;
Bahwa dalam penggalan malam yang ketiga ~ diantara akan dipadamkannya rona rembulan dan akan dinyalakannya sinar matahari,
Terselip bayang dirimu diantara do’aku… untukku, untukmu, dan untuk bapak-ibuku…
Karena itu… sebutkanlah namamu, wahai calon istriku…

__________________________
Footer :

Sudah tengah malam, masih belum bisa memejamkan mata, dan akhirnya malah mencoba merangkai dan menjejerkan kata-kata di atas (yang Saya anggap sebagai puisi), diringi lagu Wahdana.

Saya belakangan lagi demen dengerin lagu Wahdana, maka dalam playlist Saya hanya berisi lagu Wahdana yang dinyanyikan oleh Wafiq Azizah; yaitu Wahdana yang dimuat sebagai lagu ke-11 di album Hamawi Ya Mis Mis, dan lagu yang sama yang dimuat dalam album Ana Batba, serta lagu Wahdana hasil kolaborasi Wafiq Azizah dengan Jefri Al Buchori yang dimuat sebagai lagu kedua di album Shalawat (re-package)-nya Jefri Al Buchori rilisan tahun 2007. Oh, iya. Jujur Saya lebih suka Wahdana versi album Hamawi Ya Mis Mis, jauh lebih bagus daripada Wahdana versi Ana Batba yang diselipi lirik berbahasa indo. Dan ketiga biji lagu ini Saya putar terus menerus tiada henti, hingga nantinya Saya akan menemukan lagu lain yang juga akan Saya putar terus-menerus dan berulang-ulang. Oh, yah… kenapa Wafiq Azizah…? Haduh, Saya tidak sadar sudah menjadi penggemarnya Wafiq Azizah…!:mrgreen:

Ngomong-ngomong soal ilustrasinya, itu tidak merujuk ke wajah seseorang koq. Saya hanya iseng mencoba menggambar, dan kebetulan wajah itulah yang muncul dari goresan pensil mekanik Saya, yang sempat membuat Saya berasa mengalami deja-vu; merasa pernah melihat wajah tersebut!😉



I Bought A Pair Of Stick, Now I Need A Drum!
2 May 2009, 9:25 pm
Filed under: Personal Case

sonor-box

sonor-sticks

Jadi Saya mampir ke salah satu toko musik di Mall Mangga Dua, buat beli sepasang stick drum merk SONOR. Sebenarnya sih nyari yang SABIAN, tapi adanya cuman SONOR sama TAMA. Pengin ambil yang merk TAMA, e Saya nggak cocok dengan coraknya yang menurut Saya norak minta ampun… dan akhirnya Saya ambil yang merk SONOR, karena harganya juga jauh lebih murah ketimbang yang merk TAMA:mrgreen:

Beli stick drum? Apakah Saya ini drummer? Anak band? Bukan. Saya bukan pemain drum, bukan pula anak band. Meski Saya suka setengah mampus sama John Dolmayan*, dan pernah pula Saya suka sama Setyo Nugroho*, tapi bukan pula itu intinya.

Kalaulah benar bahwa otak kanan dan kiri memiliki perkembangan yang dipengaruhi oleh tingkat aktivitas belahan tubuh yang berseberangan, maka inilah dalil yang membuat Saya penasaran. Dan karena Saya tidak kidal, tentunya Saya sangat mengandalkan belahan tubuh sebelah kanan sebagai motor utama gerak dan aktivitas Saya. Jadinya, ada kemungkinan bahwa belahan otak sebelah kiri Saya yang mengalami perkembangan jauh lebih pesat ketimbang belahan otak kanan.

Maka untuk bisa mengetahui seberapa jauh perbedaan kapabilitas tangan kanan dan kiri Saya, Saya membeli stick drum ini, dan mulai image training nge-drum mengikuti beberapa judul lagu. Untuk lagu yang slow dan tergolong ‘sederhana’ ketukan drum-nya sejenis Don’t Cry atau November Rain-nya Guns N’ Roses, hingga Iris-nya Goo Goo Dolls (meski Saya lebih suka dengan Iris versi Ronan Keating) tangan kiri Saya masih bisa bekerjasama dengan apik. Pun demikian ketika Saya naikkan tempo, mengiringi Sweet Child O’ Mine-nya Guns N’ Roses hingga Helena-nya My Chemical Romance, ia masih bisa mengimbangi meski mulai menunjukkan gejala kepayahan. Namun tatkala Saya ‘memainkan’ lagu yang cepat sejenis Chop Suey atau Toxicity-nya System of A Down, atau yang sedikit rumit semacam permainan drum-nya White Lion yang Broken Heart (yang sering membuat ketukan Saya missed) atau Best of You-nya Foo Fighter, Saya baru sadar bahwa tangan kiri Saya sudah tidak bisa mengimbangi tangan kanan Saya. Tangan kiri Saya kurang terlatih rupanya😦

Saya masih bisa nge-drum dengan sebelah tangan (kanan) saja, siapa tahu bisa seperti Rick Allen*. Tapi sekali lagi, bukanlah itu intinya. Saya hanya pengen mengukur, menakar seberapa jauh tangan kiri Saya bisa mengimbangi tangan kanan Saya untuk melakukan hal-hal remeh namun sedikit rumit, sejenis Anda kudu menggambar lingkaran dengan tangan kiri dan segitiga dengan tangan kanan pada saat yang bersamaan. Bukan perkara mudah, mengingat Saya lebih banyak bertumpu pada tangan kanan Saya untuk aktivitas sehari-hari. Saya pengin memfungsikan semua bahagian tubuh Saya secara optimal, termasuk tangan kiri Saya, sehingga siapa tahu, belahan otak kanan Saya pun akan turut berkembang.

Roger Wolcott Sperry** mengemukakan teorinya soal fungsi dari belahan otak kiri dan kanan. Belahan otak kiri menyokong fungsi/kemampuan analisis, perbedaan, hitungan dan angka, kemampuan berbahasa dan logika, sementara belahan otak kanan memegang fungsi/kemampuan untuk imajinasi, kreativitas, warna, musik, dimensi bentuk atau ruang hingga soal emosi. Dan Saya yang terlalu mengandalkan pada belahan tubuh bahagian kanan sebagai mesin utama gerak motorik, secara tidak sadar terus memompa kapasitas otak kiri, sehingga kalau berbahasa Saya kelewat mendayu-dayu, mirip bahasa pujangga jadi-jadian yang cintanya nggak kesampaian atau malah mirip dalang yang sedikit senewen gara-gara kalau tampil di tivi dapat slot tayang tengah malam menjelang dini hari. Kalau mau jujur, Saya tergolong orang yang paling menghargai kreativitas, dan itulah yang Saya perjuangkan dari diri Saya sendiri. Termasuk salah satu alasan kenapa Saya tetap menerima kehadiran media hiburan visual semacam lukisan, fotografi, anime dan manga adalah untuk memperkaya perbendaharaan otak Saya akan ragam bentuk, dimensi, proporsi, warna dan sebangsanya, sehingga Saya tetap terpacu untuk bisa berfikir kreatif.

Memang benar, bermain drum itu butuh teknik, skill tinggi terutama untuk memainkan pola ketukan yang cepat, kompleks dan rumit, dan itu butuh latihan dalam rentang waktu yang tidak pendek. Dan itulah yang sedang Saya coba untuk kejar. Karena siapa tahu, dengan melakukan hal-hal remeh semacam image training nge-drum ini Saya bisa melatih tangan kiri Saya sehingga semakin lihay, dan turut mendongkrak kinerja belahan otak kanan Saya. Selain itu, Saya juga pengin ~ seandainya dalil soal cross-over kiri-kanan ini tidak dhoif ~ meningkatkan persentase sinkronisasi otak kiri dan otak kanan, sehingga daya konsentrasi Saya bisa melonjak naik.  

__________________________
Footer :

* John Dolmayan merupakan drummer band System of A Down yang paling piawai dengan permainan drum dalam tempo super-cepat. Setyo Nugroho, atau dipanggil juga dengan nickname Wizztyo Nugross adalah mantan drummer band DEWA pasca keluarnya Ari Lasso. Sementara Rick Allen merupakan drummer band Def Leppard yang bertangan satu. Tangan kirinya terpaksa diamputasi akibat kecelakaan di usianya yang baru menginjak awal 20an. Rick Allen selanjutnya menjadi tenar sebagai drummer bertangan buntung namun kualitas permainannya tetap terjaga.

** Roger Wolcott Sperry meraih penghargaan nobel atas teoremanya mengenai fungsi dan peranan otak ini, yang selanjutnya dalil-dalilnya diakui oleh seluruh dunia, bahkan dijadikan fondasi acuan untuk pengembangan metodologi pengajaran dan pembelajaran untuk memaksimalkan kinerja otak kiri dan kanan secara keseluruhan.



Yes I Do (Like Manga)
28 April 2009, 10:16 pm
Filed under: Judge! Judge! Judge!, Personal Case, Review & Hearing

naruto-10th-anniversary

Pas masih SD, manga (baca: man-ga) pertama yang Saya baca adalah Doraemon (karya Fujiko F. Fujio). Sewa dari perpustaan keliling dengan masa pinjam seminggu. Waktu itu, Saya jadi menaruh hormat pada pak pemerintah, dan berterimakasih karena sudah menyediakan bus mini berisi puluhan hingga ratusan buku, komik dan majalah. Doraemon mulai mengisi ruang khayal Saya yang sempit, dan melebarkannya lewat imajinasi Saya yang kian berkembang. Sampai-sampai waktu itu Saya pengin punya sidekick Doraemon, sehingga Saya bisa minta ini-itu dengan pelbagai macam dan jenis alat canggih yang tersimpan dalam kantung ajaib robot kucing dari masa depan itu. Pas ada pameran buku, Saya diajak bapak pergi menonton. Dan untuk pertama kalinya Saya mencongkel gembok tabungan san-san-wa-wa buat beli manga pertama Saya; Doraemon jilid 33.

Judul manga yang Saya baca mulai bervariasi; Kung Fu Boy (Takeshi Maekawa), Dragon Ball (Akira Toriyama) bahkan Sailor Moon (Naoko Takeuchi) jadi bacaan favorit Saya😯. Maka ketika kemarin Saya mampir ke toko buku import, Saya melihat seluruh seri manga Bishoujo Senshi Sailormoon lengkap, Saya jadi bernostalgia… mengenai entah bagaimana waktu itu Saya begitu suka dengan manga yang satu ini, meski Saya tahu betul bahwa ini manga cewek!:mrgreen: Saya masih ingat teriakan lantang Usagi Tsukino meneriakkan slogan standar ‘Dengan Kekuatan Bulan.. Akan menghukummu!’, dan Saya juga jadi ingat, karakter favorit Saya waktu itu adalah Mizuno Ami, si jenius kalem Sailor Mercury😆 sehingga waktu itu anime favorit Saya adalah edisi spesial Sailor Moon : Ami’s First Love, yang mengisahkan kisah asmara Mizuno Ami dengan Ryo Urawacose romante!😆😆😆

Lupakanlah Bishoujo Senshi Sailor Moon yang membuat Saya malu pernah menyukainya… kesukaan Saya bergeser pada Dragon Ball! Gaya gambar Akira Toriyama begitu menawan buat Saya, sehingga Saya mulai menggambar dan menggambar karakter-karakter Dragon Ball. Saya jadi mengerti, mengapa Masashi Kishimoto ~ pengarang Naruto begitu memuja Toriyama, bahkan gaya gambarnya di Naruto pun terpengaruh oleh gaya gambar Toriyama. Ketika terbit seri Dragon Ball Z, Saya tambah suka dengan Dragon Ball! Terlebih lagi versi movie dan OVA-nya yang menyajikan pertarungan destruktif yang begitu dahsyat seolah dunia bakal kiamat! Bahkan, waktu itu Saya sampai merasa bahwasanya dunia dan alam semesta terancam oleh keberadaan Cell:mrgreen:

NARUTO (Masashi Kishimoto) adalah favorit Saya berikutnya pasca Dragon Ball dan SLAM DUNK (Takehiko Inoue). Saya mengagumi inovasi yang dilakukan Kishimoto, yang menggambar dengan angleangle yang unik, menyerupai teknik pengambilan gambar via kamera. Selain itu, adegan pertarungan juga digambarkan secara apik, dan selalu saja menggelitik, sehingga Saya berkesimpulan bahwa Naruto adalah manga yang revolusioner dari segi penggambaran! Selain terpana oleh karakterisasi yang begitu beragam, Saya juga kagum mengenai bagaimana bagian yang satu dan yang lain ternyata saling berhubungan, seolah Kishimoto sudah mengarang alur cerita dari awal sampai akhir, baru mulai menggambar manga-nya. Beragam jurus dan teknik ninja, semuanya begitu rumit dan kompleks, namun Kishimoto ~ bagaimanapun juga telah secara sukses meringkasnya dalam bentuk manga. Kekaguman inilah yang mendorong Saya untuk mengoleksi manga-nya, juga belakangan mulai rutin membeli versi 10th Anniversary Naruto yang diterbitkan dengan format berukuran besar (hampir seukuran A4) seharga sekitar 600 yen. Meski kalau mau jujur, Saya mengagumi Naruto hingga chapter 244 saja, sebelum Naruto digambarkan sudah remaja.

Lain dengan novel, yang otomatis memaksa kita untuk berimajinasi mengenai depiksi karakter ataupun detail lokasi berdasarkan pada paparan yang tertulis pada novel, manga secara otomatis sudah mematok kita pada karakter dan setting yang digambarkan pada tiap-tiap panelnya. Bentuk mata, tatanan rambut, kostum dan lain sebangsanya semua sudah digambarkan sehingga kita tidak perlu lagi repot-repot menerjemahkan kata-kata menjadi gambaran visual di kepala kita.

Manga pada dasarnya adalah media hiburan visual, yang menghibur kita melalui gambar dan alur ceritera. Bagi Saya pribadi, membaca manga itu Saya gunakan sebagai penyeimbang, untuk memudahkan imajinasi Saya berkembang ~ yang otomatis juga turut membantu Saya menerjemahkan novel dalam gambaran visual imajiner di alam fikir dan khayalan Saya sendiri, sehingga Saya bisa lebih menangkap alur cerita dan penokohan dalam novel. Manga sebagai salah satu bentuk seni, juga mampu membuat pembacanya ikut merasakan emosi yang dialami oleh karakter yang ada dalam manga, yang coba disampaikan oleh mangaka-nya. Kalau buat Saya, emosi ini bisa Saya rasakan pada jilid 31 manga SLAM DUNK yang minim kata-kata, hanya potongan-potongan gambar yang menggambarkan adegan emosional dari tim basket gurem SHOHOKU yang berjuang setengah mati mencuba menjungkalkan dominasi tim tangguh SANNOH. Jadi? Ya, Saya menghargai manga selaku a piece of an art. And yes, I do (love Manga)



30 Juta…
21 April 2009, 11:38 pm
Filed under: Personal Case

Muka Mi’un berseri-seri. Bapak satu anak itu sudah sedari pagi tak henti-hentinya menebar senyum. Matanya tak juga berpindah dari sebiji handphone bekas, yang dibelinya setelah hampir 3 bulan banting tulang memanggul barang. Sesekali tombol-tombol yang sudah memudar ~ tak jelas huruf dan angkanya itu dia pijit pelan. Backlight yang menyala, membuat perasaan Mi’un bahagia setengah mampus! Mi’un berasa jadi orang paling kaya nomer dua sedunia, setelah Wak Qosim, juragan sepeda bekas, yang tahun lalu memberikan soft-loan, pinjaman lunak sehingga Mi’un bisa membeli sepeda onthel sebagai alat transportasi utama baginya

Nurul, gadis manis kelas satu es em pe yang tidak mengerti kebahagiaan bapaknya yang sedang merasa jadi orang kaya geleng-geleng kepala. Menatap heran bagaimana bapaknya itu bisa jadi kehilangan kewarasan hanya gara-gara sebiji handphone bekas.

“Nur…”, Mi’un memanggil putri kesayangannya, “Jangan lupa, nomer handphone ini kudu kamu kasih ke bu guru”
Nurul mengernyitkan dahi
“Buat apa, pak?”
“Koq buat apa…?”, Mi’un sedetik kehilangan senyumnya, “Ya biar bu guru kamu bisa nelpon bapak kalau ada apa-apa sama kamu…”
Nurul bergidik ngeri. Bapaknya nyaris gila hanya gara-gara handphone bekas!
“Ntar lah pak”, Nurul menjawab singkat

Mi’un geleng-geleng kepala, menganggap putrinya sudah melakukan suatu bentuk dosa besar, kesalahan yang dia yakini bakal disesali oleh putri semata wayangnya itu seumur hidup! Kalau Nurul tidak ngasih nomer handphone barunya ke ibu guru, bisa-bisa Mi’un ditangkap komnas perlindungan anak karena dianggap mendholimi anak!

Nurul mencoba mengingat kembali, betapa tahun lalu, bapaknya berasa jadi jutawan setelah bisa membeli sepeda onthel dari Wak Qosim. Bayarnya mencicil. Dan setelah sepeda itu hadir di beranda gubuk tempat dia dan bapaknya berlindung dari guyuran hujan dan sengat matahari, Mi’un jadi rajin mengoles tubuh sepeda tua itu dengan oli bekas. Hasilnya sungguh luar biasa, sepeda itu berkilau bak rembulan. Sama berserinya dengan Mi’un tiap kali mengayuh sepeda itu penuh semangat; memamerkan deretan rapat gigi putih yang silau, kontras dengan kulit Mi’un yang sehitam aspal, mengantar Nurul ke sekolah dengan rasa bangga yang tak terperi

Dan sekarang? Nurul hanya bisa geleng-geleng kepala. Bapaknya dimabuk asmara, puber entah yang keberapa. Matanya tak bisa lepas dari handphone bekas yang berbalutkan karet gelang itu. Nurul juga sempat merasa khawatir, kalau ada sms masuk, bapaknya bakal menganggap sms itu sejenis wahyu, wangsit, atau apa lah… bisa musyrik jadinya

“Tadi bapak sudah ngasih nomer handphone ini ke Wak Qosim”, Mi’un tersenyum berseri, “Katanya, nanti sesekali Wak Qosim bakal simkol bapak”

Bffffhhh
Nurul menahan tawa

Missed call, pak, missed call!”
“Apa itu miskol?”

Dan Nurul pun tertawa. Menertawakan bapaknya yang sok pinter, dan sok tahu.
Melihat raut muka bapaknya yang bingung, Nurul tambah tergelak, hingga perutnya sakit, jauh lebih sakit ketimbang pas dia dapat haid untuk pertama kalinya, seminggu yang lalu

Begitulah. Hari itu, gubuk Mi’un memancarkan pendar-pendar rona bahagia. Hari itu, Mi’un sudah melepaskan status melaratnya, dengan kehadiran handphone bekas yang diikat dengan karet gelang agar bodinya tidak lepas menjadi dua bagian itu. Mi’un bahagia, sungguh bahagia. Bahkan, mungkin jauh lebih bahagia ketimbang pas Ijah ~ almarhumah istrinya dulu, mengangguk malu, setuju untuk ikut mengecap hidup susah bersama Mi’un

*****

“Nur, Nur, bangun Nur!”
Mi’un mengguncang-guncang tubuh Nurul. Nurul gelagapan, tergopoh-gopoh mengira bapaknya membangunkannya lantaran langit bakal rubuh menimpa kepala mereka
Nurul mengedarkan pandangan sekelilingnya. Tak ada yang rubuh, tak ada yang rusak

“Ada apa pak?”, Nurul mengucek mata. Kepalanya terasa pening gara-gara ketiduran setelah subuhan 
“Kita kaya, Nur! Kaya! Kita sudah tidak melarat lagi!”, Mi’un mengguncang-guncang bahu anaknya
Lah? Baru sadar kalau selama ini kita hidup miskin?

“Lihat nih!”, Mi’un menyodorkan handphone tercintanya, hampir menyatu dengan dahi Nurul.
Nurul memundurkan tangan bapaknya, dan memicingkan mata untuk membaca huruf-huruf kecil yang terpampang di layar monokrom yang kabur namun sedikit menyilaukan itu

“se..la..mat… an..da.. me me nangkan uang 30 juta rupiah?”
“TIGAPULUH JUTA!”, mata Mi’un membelalak, sementara mulutnya menyunggingkan seringaian bahagia, “Bapak sampe tidak tau, juta itu nol-nya berapa!”

Nurul merenung, sambil melihat bapaknya yang meloncat-loncat kecil sangking bahagianya

“Menurutku itu bohongan deh pak…”, Nurul mengajukan mosi tidak percaya

Mi’un sejurus terdiam, merasa sedih dengan anaknya yang sudah hampir 13 tahun dia ajak hidup melarat. Mi’un merasa bersalah, sekaligus takut berubah menjadi kaya secara mendadak bakal membuat putri kesayangannya jadi gila
“Tenang aja, Nur”, Mi’un memijit pelan bahu kanan Nurul, “Nanti bapak beliin juga kamu handphone… atau motor?… atau boneka berbi kayaq punyanya Sri…?”
Mak! Nurul kehabisan kata

“Bapak mau ke bank dulu… tanya sama petugasnya gimana caranya ngambil duit ini”

Dan Mi’un pun berlari tunggang langgang lintang pukang menuju halaman depan. Nurul bergegas mengikuti bapaknya. Telat. Ketika sampai di pintu, Nurul hanya kebagian jatah melihat punggung bapaknya yang kian mengecil di atas sadel sepeda yang dikayuh penuh semangat, sebelum punggung itu menghilang di tikungan.

Nurul meregangkan tangannya. Berharap moga-moga pulang nanti bapaknya tidak jadi gila beneran gara-gara jadi korban penipuan murahan via sms ini. Diliriknya jam dinding. Hmmm. Jam 9. Berarti sebentar lagi dia kudu ke rumah Haji Koharuddin untuk membabu, buat mencari duit untuk meringankan beban bapaknya yang hanya kuli panggul. Mencuci baju, mengepel, memasak… Nurul menghela nafas. Memang tidak ada yang namanya rejeki jatuh dari langit secara tiba-tiba, dia kudu ikhlas bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik…




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.